Saturday, August 16, 2014

OPTIMALISASI HASIL BELAJAR IPS PADA MATERI SUMBER DAYA ALAM MELALUI PEMBELAJARAN COOPERATIVE MODEL GROUP INVESTIGATION DI KELAS IV SD NEGERI ….. …………………………………



OPTIMALISASI HASIL BELAJAR IPS PADA MATERI  SUMBER DAYA ALAM MELALUI PEMBELAJARAN COOPERATIVE MODEL
GROUP INVESTIGATION DI KELAS IV SD NEGERI …..
…………………………………



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pada abad 21 ini, kita perlu menelaah kembali praktik-praktik pembelajaran di sekolah-sekolah. Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan akan didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21 akan sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah.
Tampaknya, perlu adanya perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar siswa dan interaksi antara siswa dan guru. Sudah seyogyanyalah kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan siswa. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain itu, alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnnya. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau cooperative learning. Dalam sistem ini, guru bertindak sebagai fasilitator.
1
Ada beberapa alasan penting mengapa sistem pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, juga terjadi transformasi sosial, ekonomi, dan demografis yang mengharuskan sekolah untuk lebih menyiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat.
Sesungguhnya, bagi guru-guru di negeri ini metode gotong royong tidak terlampau asing dan mereka telah sering menggunakannya dan mengenalnya  sebagai metode kerja kelompok. Memang tidak bisa disangkal bahwa banyak guru telah sering menugaskan para siswa untuk bekerja dalam kelompok.
Sayangnya, metode kerja kelompok sering dianggap kurang efektif. Berbagai sikap dan kesan negative memang bermunculan dalam pelaksaan metode kerja kelompok. Jika kerja kelompok tidak berhasil, siswa cenderung saling menyalahkan. Sebaliknya jika berhasil, muncul perasaan tidak adil. Siswa yang pandai/rajin merasa rekannya yang kurang mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. Akibatnya, metode kerja kelompok yang seharusnya bertujuan mulia, yakni menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan bekerja sama, justru bisa berakhir dengan ketidakpuasaan dan kekecewaaan. Bukan hanya guru dan siswa yang merasa pesimis mengenai penggunaan metode kerja kelompok, bahkan kadang-kadang orang tua pun merasa was-was jika anak mereka dimasukkan dalam satu kelompok dengan siswa lain yang dianggap kurang seimbang.
Berbagai dampak negatif dalam menggunakan metode kerja kelmpok tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. Yang diperkanalkan dalam metode pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kelompok, melainkan pada penstrukturannya. Jadi, sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsure pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Kekawatiran bahwa semangat siswa dalam mengembangkan diri secara individual bisa terancam dalam penggunaan metode kerja kelompok bisa dimengerti karena dalam penugasan kelompok yang dilakukan secara sembarangan, siswa bukannya belajar secara maksimal, melainkan belajar mendominasi ataupun melempar tanggung jawab. Metode pembelajaran gotong royong distruktur sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kelompok melaksanakan taanggung jawab pribadinya karena ada sistem akuntabilitas individu. Siswa tidak bisa begitu saja membonceng jerih payah rekannya dan usaha setiap siswa akan dihargai sesuai dengan poin-poin perbaikannya.
Dari data awal yang didapat menunjukkan bahwa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) masih rendah. Dengan Standar Ketuntasan Minimal 70 , belum semua siswa mencapai ketuntasan belajar. Data hasil belajar menunjukkan bahwa dari 37 orang siswa, 26 orang atau 70,27 % belum tuntas belajar. Hal ini mungkin disebabkan oleh pendekatan pembelajaran konvensional yang dilaksanakan di kelas.Berkaitan dengan fakta hasil belajar diatas, perlu suatu pendekatan baru dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) agar keberhasilan belajar siswa dapat ditingkatkan dan pemahaman siswa mengenai materi pelajaran yang amat luas dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan.
Berangkat dari pemikiran diatas, mendorong penulis untuk mengkaji pendekatan cooperative model Group Investigation dalam pembelajaran IPS pada materi “Sumber Daya Alam”. Untuk itu penulis tertarik melakukan suatu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “ Optimalisasi Hasil Belajar IPS Pada Materi Sumber Daya Alam Melalui Pembelajaran Cooperative Model Group Investigation di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur”
B.       Rumusan Masalah
Merujuk pada uraian latar belakang di atas, rumusan masalah yang penulis ajukan dalam penlitian ini sebagai berikut: “ Apakah Melalui Pembelajaran Cooperative Model Group Investigation Dapat Mengoptimalisasikan Hasil Belajar IPS Pada Materi Sumber Daya Alam di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten  Aceh Timur?”
C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan atas rumusan masalaah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah:
  1. Tujuan Umum
Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran Cooperative Model Group Investigation terhadap hasil belajar IPS.
2.      Tujuan Khusus
Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan materi “Sumber Daya Alam” mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial setelah diterapkannya pembelajaran Cooperative Model Group Investigation di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah
D.      Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran Cooperative Model Group Investigation dalam mengoptimalisasikan hasil belajar IPS
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa
Dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar
b.      Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
c.       Bagi Sekolah
Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya mengoptimalisasikan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPS.
d.      Bagi penulis
Sebagai kegiatan pengembangan profesi untuk pengakuan angka kredit guna kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.







BAB II
LANDASAN TEORI  DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.      Landasan Teori
1.      Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
a.      Pengertian Hasil Belajar
Di dalam istilah hasil belajar, terdapat dua unsur di dalamnya, yaitu unsur hasil dan unsur belajar. Hasil merupakan suatu hasil yang telah dicapai pebelajar dalam kegiatan belajarnya (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya), sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2005: 787). Dari pengertian ini, maka hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lajimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Belajar itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, atau memaknai sesuatu yang diperoleh. Akan tetapi apabila kita bicara tentang hasil belajar, maka hal itu merupakan hasil yang telah dicapai oleh si pebelajar.
6
Istilah hasil belajar mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan prestasi belajar. Sesungguhnya sangat sulit untuk membedakan pengertian prestasi belajar dengan hasil belajar. Ada yang berpendapat bahwa pengertian hasil belajar dianggap sama dengan pengertian prestasi belajar. Akan tetapi lebih dahulu sebaiknya kita simak pendapat yang mengatakan bahwa hasil belajar berbeda secara prinsipil dengan prestasi belajar. Hasil belajar menunjukkan kualitas jangka waktu yang lebih panjang, misalnya satu cawu, satu semester dan sebagainya. Sedangkan prestasi belajar menunjukkan kualitas yang lebih pendek, misalnya satu pokok bahasan, satu kali ulangan harian dan sebagainya.
Nawawi 2001: 100) mengemukakan pengertian hasil adalah sebagai berikut: Keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau skor dari hasil tes mengenai sejumlah pelajaran tertentu.
Pendapat lain dikemukakan oleh Sadly (2005: 904), yang memberikan penjelasan tentang hasil belajar sebagai berikut, “Hasil yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam waktu tertentu”, sedangkan Marimba (2003: 143) mengatakan bahwa “hasil adalah kemampuan seseorang atau kelompok yang secara langsung dapat diukur”.
Menurut Nawawi (2001: 127), berdasarkan tujuannya, hasil belajar dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1)      Hasil belajar yang berupa kemampuan keterampilan atau kecapakan di dalam melakukan atau mengerjakan suatu tugas, termasuk di dalamnya keterampilan menggunakan alat.
2)      Hasil belajar yang berupa kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan tentang apa yang dikerjakan.
3)      Hasil belajar yang berupa perubahan sikap dan tingkah laku.
b.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Sejak awal dikembangkannya ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia, banyak dibahas mengenai bagaimana mencapai hasil belajar yang efektif. Para pakar dibidang pendidikan dan psikologi mencoba mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Dengan diketahuinya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar, para pelaksana maupun pelaku kegiatan belajar dapat memberi intervensi positif untuk meningkatkan hasil belajar yang akan diperoleh.
Secara implisit, ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1)      Faktor Internal
Faktor internal meliputi faktor fisiologis, yaitu kondisi jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau melatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang sehat akan lain pengaruhnya dibanding jasmani yang keadaannya kurang sehat. Untuk menjaga agar keadaan jasmani tetap sehat, nutrisi harus cukup. Hal ini disebabkan, kekurangan kadar makanan akan mengakibatkan keadaan jasmani lemah yang mengakibatkan lekas mengantuk dan lelah.
Faktor psikologis, yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar. Faktor-faktor tersebut diantaranya:
a)      Adanya keinginan untuk tahu
b)      Agar mendapatkan simpati dari orang lain.
c)      Untuk memperbaiki kegagalan
d)     Untuk mendapatkan rasa aman.
2)      Faktor Eksternal                                                                                  Faktor-faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri siswa yang ikut mempengaruhi belajar siswa, yang antara lain berasal dari orang tua, sekolah, dan masyarakat.
a)      Faktor yang berasal dari orang tua
Faktor yang berasal dari orang tua ini utamanya adalah sebagi cara mendidik orang tua terhadap siswanya. Dalam hal ini dapat dikaitkan suatu teori, apakah orang tua mendidik secara demokratis, pseudo demokratis, otoriter, atau cara laisses faire. Cara atau tipe mendidik yang dimikian masing-masing mempunyai kebaikannya dan ada pula kekurangannya.
Menurut hemat peneliti, tipe mendidik sesuai dengan kepemimpinan Pancasila lebih baik dibandingkan tipe-tipe diatas. Karena orang tua dalam mencampuri belajar siswa, tidak akan masuk terlalu dalam.
Prinsip kepemimpinan Pancasila sangat manusiawi, karena orang tua akan bertindak ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Dalam kepemimpinan Pancasila ini berarti orang tua melakukan kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada siswa untuk dapat diteladani. Orang tua juga selalu memperhatikan siswa selama belajar baik langsung maupun tidak langsung, dan memberikan arahan-arahan msiswaala akan melakukan tindakan yang kurang tertib dalam belajar.
Dalam kaitan dengan hal ini, Tim Penyusun Buku Sekolah Pendidikan Guru Jawa Timur (1989: 8) menyebutkan, “Di dalam pergaulan di lingkungan keluarga hendaknya berubah menjadi situasi pendidikan, yaitu bila orang tua memperhatikan siswa, misalnya siswa ditegur dan diberi pujian” Pendek kata, motivasi, perhatian, dan kepedulian orang tua akan memberikan semangat untuk belajar bagi siswa.
b)      Faktor yang berasal dari sekolah
Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru, mata pelajaran yang ditempuh, dan metode yang diterapkan. Faktor guru banyak menjadi penyebab kegagalan belajar siswa, yaitu yang menyangkut kepribadian guru, kemampuan mengajarnya. Terhadap mata pelajaran, karena kebanyakan siswa memusatkan perhatianya kepada yang diminati saja, sehingga mengakibatkan nilai yang diperolehnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keterampilan, kemampuan, dan kemauan belajar siswa tidak dapat dilepaskan dari pengaruh atau campur tangan orang lain. Oleh karena itu menjadi tugas guru untuk membimbing siswa dalam belajar.
c)      Faktor yang berasal dari masyarakat
Siswa tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan siswa. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung atau tidak mendukung perkembangan siswa, masyarakat juga ikut mempengaruhi.
Selain beberapa faktor internal dan eksternal di atas, faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat disebutkan sebagai berikut:
1)      Minat
Seorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak akan berhasil dengan baik, tetapi kalau seseorang memiliki minat terhadap objek masalah maka dapat diharakan hasilnya baik. Masalahnya adalah bagainama seorang pendidik selektif dalam menentukan atau memilih masalah atau materi pelajaran yang menarik siswa. Berikutnya mengemas materi yang dipilih dengan metode yang menarik. Karena itu pendidik/ pengajar perlu mengenali karakteristik siswa, misalnya latar belakang sosial ekonomi, keyakinan, kemampuan, dan lain-lain.
2)      Kecerdasan
Kecerdasan memegang peranan penting dalam menentukan berhasil tidaknya seserorang. Orang pada umumnya lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara tingkat kecerdasan dan hasil belajar di sekalah (Sumadi, 2006: 11).
3)      Bakat
Bakat merupakan kemampuan bawaan sebagai potensi yang perlu dilatih dan dikembangkan agar dapat terwujud (Utami, 2002: 17). Bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan pada masa yang akan datang. Selain kecerdasan bakat merupakan faktor yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam belajar (Sumadi, 2006: 12). Belajar pada bidang yang sesuai dengan bakatnya akan memperbesar kemungkinan seseorang untuk berhasil.
4)      Motivasi
Motivasi merupakan dorongan yang ada pada diri siswa untuk melakukan sesuatu tindakan. Besar kecilnya motivasi banyak dipengaruhi oleh kebutuhan individu yang ingin dipenuhi (Suharsimi, 2003: 88). Ada dua macam motivasi yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan. Sedangkan, motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul oleh rangsangan dari luar atau motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, misalnya angka, ijazah, tingkatan, hadiah, persaingan, pertentangan, sindiran, cemoohan dan hukuman. Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah karena tidak semua pelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Dengan memiliki kemampuan pada suatu mata pelajaran, baik itu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mampu dikembangkan, siswa diharapkan dapat mengalih gunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam mengahadapi masalah-masalah dalam berbagai bidang pelajaran. Kemampuan bernalar, kemampuan memilih strategi yang cocok dengan permasalahannya, maupun kemampuan menerima dan mengemukakan suatu informasi secara tetap dan cermat merupakan kemampuan umum yang dapat digunakan dalam berbagai bidang.
c.       Ilmu Pengetahuan Sosial
Pengajaran IPS lebih bersifat perkenalan mengenai “Seni Kehidupan”. Landasan pengkajian dari berbagai aspek kehidupan ini diambil dari berbagai sumber ilmu social yaitu: Sosial Budaya, Geografi, Politik, Ekonomi, Sosiologi, dan Sejarah. Pengajaran IPS kelas rendah  disajikan dalam pendekatan tematik, sedangkan IPS pelajaran mandiri mulai diprogram pada kelas 4 ke atas. Oleh karena itu materi pengajaran IPS lebih banyak dititik beratkan kepada dunia siswa dan lingkungannya.
Dalam Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP, 2007: 18) Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, serta memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional dan global.Adapun ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek- aspek : manusia, tempat dan lingkungan, waktu, keberlanjutan, dan perubahan sistem sosial dan budaya, dan perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
Pengajaran IPS SD diandalkan untuk membina generasi penerus usia dini agar memahami  potensi dan peran dirinya dalam berbagai tata kehidupannya, menghayati tuntutan keharusan dan pentingnya bermasyarakat dengan penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan  serta  mahir berperan erat di lingkungannya sebagai insan sosial dan warga negara yang baik ( BSNP, 2007:18)
d.      Hasil Belajar IPS
Hasil belajar IPS adalah hasil penilaian belajar siswa mengenai yang telah dicapai dan dinyatakan dalam bentuk nilai angka yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam priode tertentu atau dalam satu kompetensi dasar dalam mata pelajaran IPS.
2.      Pembelajaran Cooperatif
Pengajaran kooperatif (Cooperatif Learning) memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Houlobec, 2001).
a.      Pengertian Pembelajaran Cooperatif
Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena adanya perbedaan, manusia dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu dengan sama lain. Karena sifatnya yang individual maka manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena satu sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang silih asih (saling menyayangi atau saling mencintai). Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa.
Perbedaan antar manusia yang tidak terkelola secara baik dapat menimbulkan ketersinggungan dan kesalahpahaman antar sesamanya. Agar manusia terhindar dari ketersinggungan dan kesalahpahaman maka diperlukan interaksi yang silih asuh (saling tenggang rasa). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Dengan ringkas Abdurrahman dan Bintoro (2000: 78) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata”.
b.      Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya: “1) saling ketergantungan positif; 2)interaksi tatap muka; 3)akuntabilitas individual, 4)keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan”(Abdurrahman & Bintoro,2000:78-79)
1)      Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan.  Hubungan yang saling membutuhan inilah yang dimaksud dengan saling memberikan motivasi ntuk meraih hasil belajar yang optimal. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui: (a) saling ketergantungan pencapaian tujuan, (b) saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, (c) saling ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, dan (e) saling ketergantungan hadiah.
2)      Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.
3)      Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Meskipun demikian, penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok mengetahui siapa anggota yang memerluan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya, dan karena itu tiap anggota kelompok harus memberikan urunan demi kemajuan kelompok. Penilaian kelompok secara individual inilah yang dimaksudkan dengan akuntabilitas individual.
4)      Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritifk teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tapi juga sesama siswa.
c.       Peran Guru dalam Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk berperan relatif berbeda dari pembelajaran tradisional. Berbagai peran guru dalam pembelajaran kooperatif tersebut dapat dikemukan sebagai berikut ini.
1)      Merumuskan tujuan pembelajaran. Ada dua tujuan pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, tujaun akademik (academic objectives) dan tujuan keterampilan bekerja sama (collaborative skill objectives).
2)      Menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2 hingga 6 siswa. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Ketiga faktor tersebut adalah: (1) taraf kemampuan siswa, (2) ketersediaan bahan, dan (3) ketersediaan waktu. Ada 4 pertanyaan yang hendaknya dijawab oleh guru saat akan menempatkan siswa dalam kelompok. Keempat pertanyaan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
a)      Pengelompokkan siswa secara homogen atau heterogen? Pengelompokkan siswa hendaknya heterogen. Keheterogenan kelompok mencakup jenis kelamin, ras, agama, (kalau mungkin), tingkat kemampuan (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya.
b)      Bagimana menempatkan siswa dalam kelompok? Ada dua jenis kelompok belajar kooperatif, yaitu (1) yang berorientasi bukan pada tugas (non-task-orientied), dan (2) yang berorientasi pada tugas (task oriented).
c)      Siswa bebas memilih teman atau ditentukan oleh guru. Anggota tiap kelompok belajar hendaknya ditentukan secara acak oleh guru. Ada 3 teknik untuk menentukan anggota kelompok secara acak yang dapat digunakan oleh guru. Ketiga teknik tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
(1)   Berdasarkan metode sosiometri. Melalui metode sosiometri guru dapat menentukan siswa yang tergolong disukai oleh banyak teman (bintang kelas) hingga yang paling tidak disukai atau tidak memiliki teman (terisolasi).
(2)   Berdasarkan kesamaan nomor. Jika jumlah siswa dalam kelas terdiri atas 30 siswa dan guru ingin membentuk 10 kelompok belajar yang dari 1 hingga 10. Selanjutnya, para siswa yang bernomor sama dikelompokkan sehingga terbentuklah 10 kelompok siswa dengan masing-masing beranggotakan 3 orang siswa yang memiliki karakteristik heterogen.
3)      Menggunakan teknik acak berstrata. Para siswa dalam kelas lebih dahulu dikelompokkan secara homogen atas dasar jenis kelamin dan atas dasar kemampuannya (tinggi, sedang, rendah), dan sebagainya.
4)      Menetukan tempat duduk siswa. Tempat duduk siswa hendaknya disusun agar tiap kelompok dapat saling bertatap muka tetapi cukup terpisah antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Susunan tempat duduk dapat dalam bentuk lingkaran atau berhadap-hadapan.
5)      Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Cara menyusun bahan ajar dan penggunaannya dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat menetukan tidak hanya efektivitas pencapaian tujuan belajar siswa. Ada 3 macam cara untuk meningkatkan saling ketergantungan positif. Ketiga macam cara tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
a)      Saling ketergantungan bahan. Tiap kelompok hanya diberi satu bahan ajar dan kelompok harus bekerja sama untuk mempelajarinya.
b)      Saling ketergantungan informasi. Tiap anggota kelompok diberi bahan ajar yang berbeda untuk selanjutnya disatukan untuk disintesiskan, sehingga dengan demikian tiap siswa memiliki bagian dari bahan yang diperlukan untuk melengkapi atau menyelesaikan tugas.
c)      Saling ketergantungan menghadapi lawan dari luar. Bahan ajar disusun dalam suatu bentuk pertandingan antar kelompok yang memiliki kekuatan keseimbangan sebagai dasar untuk meningkatkan saling ketergantungan positif antar anggota kelompok.
6)      Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif dapat diciptakan melalui pembagian tugas kepada tiap anggota kelompok dan mereka bekerja untuk saling melengkapi.
7)      Menjelaskan tugas akademik. Ada beberapa aspek yang perlu disadari oleh para guru dalam menjelaskan tugas akademik kepada para siswa. Beberapa aspek tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
a)      Menyusun tugas sehingga siswa menjadi jelas mengenai tugas tersebut.
b)      Menjelaskan tujuan belajar dan mengaitkannya dengan pengalaman siswa di masa lampau.
c)      Menjelaskan berbagai konsep atau pengertian atau istilah, prosedur yang harus diikuti atau pengertian contoh kepada para siswa.
d)     Mengajukan berbagai pertanyaan khusus untuk mengetahui pemahaman para siswa mengenai tugas mereka.
8)      Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama. Menjelaskan tujaun dan keharusan bekerja sama kepada para siswa dilakukan dengan contoh sebagai berikut.
a)      Meminta kepada kelompok untuk menghasilkan suatu karya atau produk tertentu.
b)      Menyediakan hadiah bagi kelompok. Pemberian hadiah merupakan salah satu cara untuk mendorong kelompok menjalin kerja sama sehingga terjalin pula rasa kebersamaan antar anggota kelompok.
9)      Menyusun akuntabilitas individual. Suatu kelompok belajar tidak dapat dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkan adanya anggota kelompok yang mengerjakan seluruh pekerjan. Suatu kelompok belajar juga tidak dapat dikatakan benar-benar kooperatif jika memperbolehkn adanya anggota yang tidak melakukan apa pun demi kelompok.
10)  Menyusun kerja sama antar kelompok. Hasil positif yang ditemukan dalam suatu kelompok belajar kooperatif dapat diperluas ke seluruh kelas dengan menciptakan kerja sama antar kelompok.
11)  Menjelaskan kriteria keberhasilan. Penilaian dalam pembelajaran kooperatif bertolak dari penilaian acuan patokan (criterion referenced).
12)  Menjelaskan perilaku siswa yang diharapkan. Perkataan kerja sama atau gotong royong sereing memiliki konotasi dan penggunaan yang bermacam-macam. Jika kelompok mulai berfungsi secara efektif, perilaku yang diharapkan dapat mencakup hal-hal sebagai berikut.
a)      Tiap anggota kelompok menjelaskan bagaimana memperoleh jawaban.
b)      Meminta kepada tiap anggota kelompok untuk mengaitkan pelajaran baru dengan yang telah dipelajari sebelumnya.
c)      Memeriksa untuk meyakinkan bahwa semua anggota kelompok memahami bahan yang dipelajari dan menyetujui jawaban-jawabannya.
d)      Mendorong semua anggota kelompok agar berpartisipasi dalam menyelesaikan tugas.
e)      Memperhatikan dengan sungguh-sungguh mengenai apa yang dikatakan oleh anggota lain.
f)       Jangan mengubah pikiran karena berbeda dari pikiran anggota lain tanpa penjelasan yang logis.
g)      Memberikan kritik kepada ide, bukan kepada pribadi.
13)  Memantau perilaku siswa. Setelah semua kelompok mulai bekerja, guru harus menggunakan sebagian besar waktunya untuk memantau kegiatan siswa.
14)  Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaian tugas. Pada saat melakukan pemantauan, guru harus menjelaskan pelajaran, mengulang prosedur atau strategi untuk menyelesaikan tugas, menjawab pertanyaan, dan mengajarkan keterampilan menyelesaikan tugas kalau perlu.
15)  Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja sama. Pada saat memantau kelompok-kelompok yang sedang belajar, guru kadang-kadang menemukan siswa yang tidak memiliki keterampilan untuk menjalin kerja sama yang cukup dan adanya kelompok yang memiliki masalah dalam menjalin kerja sama.
16)  Menutup pelajaran. Pada saat pelajaran berakhir, guru perlu meringkas pokok-pokok pelajaran, meminta kepada siswa untuk mengemukakan ide atau contoh, dan menjawab pertanyaan dan hsil belajar mereka.
17)  Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa. Guru menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar para siswa berdasarkan penilaian acuan patokan.
18)  Menilai kualitas kerja sama antar anggota kelompok. Meskipun waktu belajar di kelas terbatas, diperlukan waktu untuk berdiskusi dengan para siswa untuk membahas kualitas kerja sama antar anggota kelompok pada hari itu.
3.      Model Group Investigation
Ide model pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku Democracy and Education (Arends, 2002). Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob, et al., 1996), adalah: (1) siswa hendaknya aktif, learning by doing; (2) belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik; (3) pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat  tetap; (4) kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa; (5) pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting; (6) kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata.
Gagasan-gagasan Dewey akhirnya diwujudkan dalam model group-investigation yang kemudian dikembangkan oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial antar pribadi (Arends, 2002). Model group-investigation memiliki enam langkah pembelajaran (Slavin, 1995), yaitu: (1) grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan), (2) planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya), (3) investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi), (4) organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis), (5) presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan), dan (6) evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Sistem sosial yang berkembang adalah minimnya arahan guru, demokratis, guru dan siswa memiliki status yang sama yaitu menghadapi masalah, interaksi dilandasi oleh kesepakatan. Prinsip reaksi yang dikembangkan adalah guru lebih berperan sebagai konselor, konsultan, sumber kritik yang konstruktif. Peran tersebut ditampilkan dalam proses pemecahan masalah, pengelolaan kelas, dan pemaknaan perseorangan. Peranan guru terkait dengan proses pemecahan masalah berkenaan dengan kemampuan meneliti apa hakikat dan fokus masalah. Pengelolaan ditampilkan berkenaan dengan kiat menentukan informasi yang diperlukan dan pengorganisasian kelompok untuk memperoleh informasi tersebut. Pemaknaan perseorangan berkenaan dengan inferensi yang diorganisasi oleh kelompok dan bagaimana membedakan kemampuan perseorangan.
Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan penelitian yang sesuai, meja dan korsi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu.
Sebagai dampak pembelajaran adalah pandangan konstruktivistik tentang pengetahuan, penelitian yang berdisiplin, proses pembelajaran yang efektif, pemahaman yang mendalam.
Dalam pembelajaran model group investigation, interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan skema mental yang baru. Dimana dalam pembelajaran ini memberi kebebasan kepada pembelajar untuk berfikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif dan produktif. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan mengambil tema yang berkaitan dengan model pembelajaran dengan maksud untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS khususnya materi sumber daya alam. Disamping itu kerja sama yang kompak antar sesama anggota kelompok dalam mengidentifikasi suatu masalah sangat dibutuhkan
Adapun langkah-langkah pembelajaran model group investigation adalah sebagai berikut;
1.      Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok secara heteogen
2.      Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3.      Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
4.      Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif  yang bersifat penemuan
5.      Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6.      Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
7.      Pada akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi
8.      Penutup
B.       Kerangka Berfikir
Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal dan anak dapat memahami materi sumber daya alam dalam pelajaran IPS pada kelas IV sebaiknya menerapkan pembelajaran Cooperativ model Group Investigation.
Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:
Kondisi Awal
Guru:
Pembelajaran
Konvensional
Siswa:
Nilai IPS Rendah
 
                 
Siklus I:
Pembelajaran Cooperativ Model GI  dengan LKS
Tindakan
Menerapkan Pembelajaran Cooperativ Model GI
Kondisi Akhir
Diduga melalui pembelajaran Cooperativ Model Group Investigation dapat mengoptimalkan hasil belajar IPS materi sumber daya alam di kelas IV 
Siklus II:
Pembelajaran Cooperativ Model GI dengan Quiz
 









Gambar 2.1 Skema Kerangka Berfikir
C.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis tindakan yang peneliti ajukan sebagai berikut: "Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah menerapkan metode pembelajaran Coopeative model Group Investigation terhadap mata pelajaran IPS pada materi sumber daya alam, maka dimungkinkan hasil belajar siswa menjadi lebih optimal dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan secara konvensional”
















BAB III
METODOLOGI  PENELITIAN
A.      Setting Penelitian
1.      Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2010 pada semester I tahun pelajaran 2010/2011. Adapun jadwal penelitian tercantum pada lampiran.
2.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. SD Negeri 1 Aramiah terletak di jalan  Medan – Banda Aceh Gampong Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.
B.       Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa-siswi kelas IV Sekolah Dasar  Negeri 1 Aramiah dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang yang terdiri dari 17 laki laki dan 20  perempuan.
C.    Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II serta hasil pengamatan kelas.
D.      Teknik Dan Alat Pengumpulan Data
1.      Tekhnik Pengumpulan Data
29
Dalam penelitian ini pengumpulan data  menggunakan teknik tes dan non tes. Tes tertulis digunakan pada akhir siklus I dan siklus II,  yang terdiri atas materi  sumber daya alam. Sedangkan Teknik non tes meliputi teknik observasi dan dokumentasi. Observasi digunakan  pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas kemampuan memahami materi sumber daya alam pada siklus I dan siklus II. Sedangkan teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai mata pelajaran IPS.
2.      Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data meliputi:
a.       Tes tertulis, terdiri atas 10 butir soal.
b.      Non tes, meliputi lembar observasi dan dokumen
E.       Validasi Data
Validasi data meliputi validasi hasil belajar dan validasi proses pembelajaran.
1.      Validasi hasil belajar
Validasi hasil belajar dikenakan pada instrumen penelitian yang berupa  tes. Validasi ini meliputi validasi teoretis dan validasi empiris. Validasi teoretis artinya mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas face validity (tampilan tes), content validity (validitas isi) dan construct validity (validitas kostruksi).
Validitas empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butis soal, kunci jawaban dan kriteria pemberian skor.
2.      Validasi proses pembelajaran
Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan observasi terhadap subyek penelitian yaitu siswa kelas IV dan kolaborasi dengan observer/pengamat berasal dari teman sejawat.
Triangulasi metode dilakukan dengan penggunaan metode dokumentasi selain metode observasi. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung yang diperlukan dalam proses pembelajaran  Ilmu Pengetahuan Sosial
F.       Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi:
  1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II.
  2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.
G.      Indikator Kinerja
Yang menjadi indikator keberhasilan kinerja pada tindakan kelas ini adalah jika terjadi perubahan peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran IPS melalui pembelajaran Cooperatif model Group Investigation. Secara kuantitatif dapat di indikasikan jika 75 % dari seluruh siswa terlihat pemahaman terhadap mata pelajaran IPS berubah lebih baik. Hal ini diwujudkan dengan adanya kemampuan siswa 90% dalam menjawab soal dengan benar.
Disamping itu juga 75% siswa terlibat aktif dalam pembelajaran Cooperatif model Group Investigation, kemampuan guru untuk mengimplementasikan pendekatan pembelajaran Cooperatif model Group Investigation dapat terlaksana dengan baik.

H.      Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas II siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Prosedur penelitian diatas digambarkan dengan skema sebagai berikut;
Rancangan /Rencana
Observasi
Rancangan yang Direvisi
Tindakan /Pelaksanaan
Refleksi
Tindakan/ Pelaksanaan 
Observasi
Refleksi
 
                  Siklus I
 


                    Siklus II




Gambar 3.1 Alur PTK
Penjelasan Alur di atas merupakan prosedur penelitian yang dapat penulis diuraikan sebagai berikut;
1.      Siklus I
a.       Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:
1)      penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
2)      penyiapan skenario pembelajaran.
b.      Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
1)      pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,
2)      proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajran Cooperatif model Group Investigation pada pertemuan I dengan materi ”Jenis-Jenis Sumber Daya Alam” sedangkan pertemuan ke II dengan materi ” Persebaran Sumber Daya Alam”
3)      secara klasikal menjelaskan strategi dalam pembelajaran Cooperatif model Group Investigation dan dilengkapi lembar kerja siswa,
4)      memodelkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran Cooperatif  model Group Investigation
5)      mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,
6)      mengadakan tes tertulis,
7)      penilaian hasil tes tertulis.
  1. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya. Atas dasar hasil tersebut digunakan untuk merencanakan tindak lanjut pada siklus berikutnya.
  2. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus I.
2.      Siklus II
  1. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:
a.       penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
b.      penyiapan skenario pembelajaran.
  1. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
a.       pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,
b.      pembelajaran Cooperatif  model Group Investigation pada pertemuan I dengan materi ”Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Kegiatan Ekonomi” sedangkan pada pertemuan ke II dengan materi ”Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam”
c.       siswa untuk menerapkan strategi pembelajaran Cooperatif  model Group Investigation, diikuti kegiatan kuis
d.      mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,
e.       mengadakan tes tertulis,
f.       penilaian hasil tes tertulis.
  1. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya,
  2. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus II.













BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.      Deskripsi Kondisi Awal
Pembelajaran pada kondisi  awal menunjukan bahwa proses kegiatan belajar mengajar di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah, belum efektif dikarenakan pembelajaran masih berpusat pada guru artinya guru masih banyak berperan. Dan peserta didik kurang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Banyak peserta didik yang mengobrol, tidak memperhatikan pelajaran, bercanda dengan teman, dan guru tidak dapat mengkondisikan kelas dengan baik sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Hasil penelitian awal rata-rata mendapatkan nilai di bawah nilai KKM yang sudah ditentukan sekolah yaitu 70, dan ini sangat membuat peneliti tidak puas.  
Berikut ketuntasan belajar pada kondisi awal   penulis paparkan pada tabel di bawah ini.
Tabel  4.1  Ketuntasan Belajar  Siswa Hasil Tes Kondisi Awal
No
Ketuntasan Belajar
Kondisi Awal
Jumlah
Persen
1
Tuntas
11
29,73 %
2
Belum Tuntas
26
70,27 %
Jumlah
37
100 %

35
Berdasarkan data pada tabel 4.1  tersebut di atas, diketahui bahwa siswa kelas IV yang memiliki nilai kurang dari KKM 70, sebanyak 26 siswa. Dengan  demikian persentase jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar minimum untuk materi sumber daya alam sebesar (70,27 %). Sedangkan yang telah mencapai ketuntasan hanya sebanyak 11 siswa (27,93 %) , hal  dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Text Box:        5     10    15     20     25    30   35     40
Text Box: Jumlah  Siswa
            
                



 Tuntas
Tdk Tuntas
 



Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
Hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut ini:
Tabel 4.2. Rata-rata Hasil Tes Kondisi Awal
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
7
2
Nilai Terendah
4
3
Jumlah Nilai
214
4
Nilai Rata-Rata
5,78

B.       Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus I
1.      Perencanaan Tindakan
a.       Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP
Materi yang dipilih adalah ”Sumber Daya Alam” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Jenis-jenis Sumber Daya Alam” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah ”Peresebaran Sumber daya Alam”. Berdasarkan sub materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan  demikian, selama siklus I terjadi 2 kali tatap muka.
b.      Pembentukan kelompok-kelompok belajar
Pada siklus I, siswa dalam satu kelas  dibagi menjadi 7 kelompok kecil  dengan memperhatikan  heterogenitas baik kemampuan dan gender.
2.      Pelaksanaan Tindakan
a.       Pelaksanaan Tatap Muka
Tatap muka I dan II dilaksanakan dengan metode pembelajaran yang digunakan adalah Cooperatif  model Group Investigation dengan panduan Lembar Kerja  Siswa ( LKS). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;
1)      Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok secara heteogen
2)      Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3)      Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain melalui LKS
4)      Masing-masing kelompok melakukan investigasi terhadap jenis-jenis sumber daya alam kemudian membahasnya pada LKS secara kooperatif  yang bersifat penemuan.
5)      Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6)      Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
7)      Pada akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi
8)      Penutup
Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama  dan bertanggung jawab untuk bersaing dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja siswa. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua siswa bergairah dalam mengikuti pelajaran.
b.      Wawancara
Kegiatan wawancara dilaksanakan oleh guru terhadap beberapa anggota kelompok. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perasaan siswa dalam memahami materi sumber daya alam dengan menggunakan pembelajaran Cooperatif  model Group Investigation ini. Hasil wawancara juga digunakan sebagai bahan refleksi.
3.      Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada  SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan  siswa dalam  memahami materi sumber daya alam. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan tindakan pada siklus II.
4.      Refleksi
Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan kondisi awal. Pada kondisi awal jumlah siswa yang dibawah KKM  sebanyak 26 anak sedangkan pada akhir siklus I berkurang menjadi 17 anak.  Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat dari 5,78 menjadi 6,89. Hasil belajar pada kondisi awal jika dibandingkan dengan siklus I, dapat disajikan dalam tabel  berikut.
Tabel 4.3 Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal dengan Siklus I
No
Ketuntasan
Jumlah Siswa
Kondisi Awal
Siklus I
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
1
Tuntas
11
29,73 %
20
54,05 %
2
Belum Tuntas
26
70,27 %
17
45,95 %
Jumlah
37
100 %
37
100 %








Tabel perbandingan ketuntasan belajar kondisi awal dengan siklus I dapat diperjelas dengan diagram batang dibawah ini;

Text Box:        5     10    15     20     25    30   35     40
Text Box: Jumlah  Siswa
            
                



 Tuntas
Tdk Tuntas
 


Siklus I
Kondisi Awal

Gambar 4.2 Grafik  Ketuntasan Belajar Kondisi Awal dan Siklus I
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dengan Siklus I dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut ini:
Tabel  4. 4. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal dan Siklus I
No
Keterangan
Kondisi Awal
Siklus I
1
Nilai Tertinggi
7
9
2
Nilai Terendah
4
5
3
Jumlah Nilai
214
255
4
Nilai Rata-Rata
5,78
6,89

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Cooperatif model Group Investigation  mampu meningkatkan hasil  belajar, khususnya pada materi “Sumber Daya Alam” . Disamping itu, rata-rata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 6,89. Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena sebagian siswa beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II.

C.      Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut.
1.      Perencanaan Tindakan
a.       Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP
Materi yang dipilih adalah ”Sumber Daya Alam” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Kegiatan Ekonomi” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah ”Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam”. Berdasarkan sub materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan  demikian, selama siklus II terjadi 2 kali tatap muka.
b.      Pembentukan kelompok siswa
Pada siklus II, strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran Cooperatif model Group Investigation  dan dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok, sehingga siswa yang dibagi menjadi 7 kelompok akan bersaing untuk mennjadi yang terbaik.
2.      Pelaksanaan Tindakan
a.       Pelaksanaan Tatap Muka
1)      Guru memberikan evaluasi atas kegiatan pembelajaran pada siklus I.
2)      Guru memberikan motivasi tentang bagaimana usaha yang bisa dilakukan untuk melestarikan sumber daya alam
3)      Guru melatih siswa untuk menyikapi tentang beberapa peristiwa yang terdapat pada gambar di lembar kerja siswa (LKS)
4)      Guru memberikan perhatian terhadap siswa yang agak lemah
5)      Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran.
6)      Guru memberikan evaluasi dengan tes.
7)      Guru menilai hasil evaluasi.
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa  masih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok, namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi .
b.      Wawancara
Wawancara dilaksanakan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu,  wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai bahan refleksi.
3.      Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh  2 (dua) observer yang berasal dari teman sejawat yaitu guru pada SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi.
4.      Refleksi

Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus II, terdapat peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan dibandingkan dengan tindakan pada siklus I.  Pada siklus I jumlah siswa yang dibawah KKM  sebanyak 17 anak sedangkan pada akhir siklus II hanya sebanyak 2 anak. Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat tajam dari 6,89 menjadi 8,02.  Hasil belajar pada siklus I jika dibandingkan dengan siklus II, dapat disajikan dalam tabel  berikut.
Tabel 4.5 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I dengan Siklus II
No
Ketuntasan
Jumlah Siswa
Siklus I
Siklus II
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
1
Tuntas
20
54,05 %
35
94,59 %
2
Belum Tuntas
17
45,95 %
2
5,41 %
Jumlah
37
100 %
37
100 %








Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang di bawah ini:
Text Box:        5     10    15     20     25    30   35     40
Text Box: Jumlah  Siswa
            
                
 Tuntas
Tdk Tuntas
 


Siklus II
 Siklus I

Gambar 4.3 Grafik  Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan paparan data tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II sebanyak 35 siswa ( 94,59 %) yang berarti sudah ada peningkatan yang sangat signifikan dibanding dengan tindakan pada siklus I. Rata-rata kelas pun menjadi meningkat tajam.
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada Siklus I  dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut ini:
Tabel  4. 6. Perbandingan Nilai Rata-rata Siklus I dan Siklus II
No
Keterangan
Siklus I
Siklus II
1
Nilai Tertinggi
9
10
2
Nilai Terendah
5
6
3
Jumlah Nilai
255
297
4
Nilai Rata-Rata
6,89
8,02

Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal, Siklus I dan Siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal nilai rata- rata kelas sebesar 5,78 , sedangkan nilai rata- rata kelas siklus I sudah ada peningkatan  menjadi 6,89 dan pada siklus II meningkat tajam menjadi 8,02. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram dibawah ini :
Tabel 4.7.Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No
Ketuntasan
Jumlah Siswa
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Jlh
Persen
Jlh
Persen
Jlh
Persen
1
Tuntas
11
29,73 %
20
54,05 %
35
94,59 %
2
Belum Tuntas
26
70,27 %
17
45,95 %
2
5,41 %
Jumlah
37
100 %
37
100 %
37
100 %

Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang di bawah ini:

Text Box:        5     10    15     20     25    30   35     40
Text Box: Jumlah  Siswa
            
 Siklus I
                



 Tuntas
Tdk Tuntas
 


Kondisi Awal
Siklus II

Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Ketuntasan  Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes kondisi awal Siklus I  dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut
Tabel  4. 8. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No
Keterangan
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
1
Nilai Tertinggi
7
9
10
2
Nilai Terendah
4
5
6
3
Jumlah Nilai
5,78
255
297
4
Nilai Rata-Rata
214
6,89
8,02

Berdasarkan informasi data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Cooperatif model Group Investigation  mampu mengoptimalkan hasil belajar IPS , khususnya pada materi “Sumber Daya Alam” di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. Dengan demikian penlitian sianggap berhasil dan berhenti pada Siklus II.
D.      Pembahasan Tiap Siklus Dan Antar Siklus
Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran Cooperatif model Group Investigation  dapat mengoptimalkan hasil belajar IPS khususnya penguasaan materi ”Sumber Daya Alam” pada siswa kelas IV semester I tahun pelajaran 2010/2011. Hal tersebut dapat dianalisis dan dibahas sebagai berikut;
1.      Hasil Belajar Kondisi Awal
Pada kondisi awal nilai rata-rata siswa kelas IV pelajaran IPS rendah khususnya pada materi sumber daya alam. Penyebabnya adalah luasnya kompetensi yang harus dikuasainya dan perlu daya ingat yang setia sehingga mampu menghafal dalam jangka waktu lama. Sebelum dilakukan tindakan guru memberi tes, ternyata dari sejumlah 37 siswa hanya terdapat 11 siswa (29,73 %) yang baru mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu sebesar 7,0.  Sedangkan 26 siswa atau  (70,27 %) belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Perolehan nilai tertinggi pada kondisi awal adalah 7 dan yang terendah adalah 4 dengan rata-rata kelas 5,78.  
Proses pembelajaran pada kondisi awal menunjukkan bahwa siswa masih pasif, karena tidak diberi respon yang menantang. Siswa masih bekerja secara individual, tidak tampak kreatifitas siswa maupun gagasan yang muncul. Siswa terlihat jenuh dan bosan tanpa gairah karena pembelajaran selalu monoton sehingga terkesan tidak bermakna.
2.      Hasil Belajar Siklus I
Pada tindakan siklus I proses pembelajaran melalui penerapan Cooperatif model Group Investigation . Hasil Tindakan pembelajaran pada siklus I, berupa hasil tes dan non tes. Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai 9 sebanyak 2 siswa (5,40 %), sedangkan yang mendapat nilai 8 adalah 11 siswa atau (29,72 %), yang mendapat nilai 7 sebanyak 7 siswa atau (18,91 %), yang mendapatkan nilai  6 ada 15 siswa atau (40,54 %), sedangkan nilai terendah yaitu 5 diperoleh oleh 2 siswa atau (5,40 %).
Berdasarkan  ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 20 siswa atau (54,05 % ) yang sudah mencapai ketuntasan belajar yaitu memperoleh nilai 7 ke atas. Sementara sisanya 11 siswa atau (45,95 %)  belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai  siklus I dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi adalah 9, sedangkan nilai terendah adalah 5, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 6,78.
            Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya perubahan, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran . Hal ini dikarenakan kegiatan yang bersifat kelompok ada anggapan bahwa prestasi maupun nilai yang di dapat secara kelompok . Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok, serta antar kelompok. Masing-masing siswa ada peningkatan latihan bertanya dan menjawab antar kelompok, sehingga terlatih ketrampilan bertanya jawab. Terjalin kerjasama inter dan antar kelompok. Ada persaingan positif antar kelompok mereka saling berkompetisi untuk memperoleh penghargaan dan menunjukkan untuk jati diri pada siswa.
3.      Hasil Belajar Siklus II
Pada tindakan siklus II proses pembelajaran melalui penerapan Cooperatif model Group Investigation. Dari pelaksanan tindakan siklus II dapat diketahui bahwa siswa yang mendapatkan nilai sangat baik yaitu 10 sebanyak 2 siswa atau (5,40 %),  yang mendapat nilai 9 sebanyak 11 siswa atau (45,95 %) yang meperoleh nilai 8 sebanyak 12 siswa atau (32,43 %) yang memperoleh nilai 7 sebanyak 10 siswa atau (27,02 %) sedangkan yang mendapat nilai terendah yaitu 6 sebanyak 2 siswa atau  (5,40 %).  Nilai rata-rata kelas adalah sebesar 8,02 dengan ketuntasan belajar sebesar 94,59 %.
Proses pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran . Hal ini dikarenakan  sekalipun kegiatan bersifat kelompok namun ada tugas individual yang harus dipertanggung jawabkan,  karena ada kompetisi kelompok maupun kompetisi individu. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok , serta antar kelompok. Masing- masing siswa ada peningkatan latihan bertanya jawab dan bisa mengkaitkan dengan mata pelajaran lain maupun pengetahuan umum, sehingga disamping  terlatih ketrampilan bertanya jawab, siswa terlatih berargumentasi. Ada persaingan positif antar kelompok untuk penghargaan  dan menunjukkan jati diri pada siswa





BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A.      Simpulan
Berdasarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran Cooperatif model Group Investigation dapat mengoptimalkan hasil belajar IPS pada materi “Sumber Daya Alam”  di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.  Hal ini ditandai adanya beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu:
  1. Perolehan nilai rata-rata hasil belajar siswa terhadap materi “Sumber Daya Alam”, mengalami peningkatan yaitu pada kondisi awal sebesar 5,78 dan pada tindakan siklus I meningkat sebesar 6,78 sedangkan pada tindakan siklus II meningkat secara signifikan yaitu sebesar 8,02
  2. Skor ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan yaitu pada kondisi awal hanya sebesar 29,73 %, setelah diberi tindakan pada siklus I menjadi 54,05 % sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar  94,59 %.
B.     Saran
Berdasarkan simpulan dan temuan-temuan diatas, dapat diasarankan agar:
  1. Dalam pembelajaran IPS hendaknya dapat menerapkan pembelajaran Cooperatif model Group Investigation salah satu alternatif  dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa di Sekolah Dasar.
  2. 49
    Melalui pembelajaran Cooperatif model Group Investigation, guru dapat dengan mudah merespon potensi atau modalitas siswa dalam setiap kelompok belajar. Dengan demikian seorang guru yang profesional dapat lebih efektif dapat melakukan kegiatan proses belajar mengajar, serta dengan mudah dapat merespon perbedaan perbedaan potensi yang dimiliki peserta didiknya






















DAFTAR PUSTAKA


Abdurahman & Bintoro. 2000. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka. Jakarta: Bumi Aksara. Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media
Arikunto, Suharsimi, , 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bina Aksara
BNSP, 2007. Standar Kompetensi dan kompeternsi Dasar . Jakarta. Depdiknas
Marimba, 2003. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung:
Nawawi. 2001. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Menga-jar
Sadly,2005. Peningkatan Kemampuan guru dalam mengorganisasi Cooperatipe            Learning  Jakarta Grasindo.

Sumadi, 2006. Coorperative Learning. Jakarta Grasindo

Tim Penyusun Buku SPG, 1989. Model- model Pembelajaran dan Penilaian. Dinas Prop Jatim
Utami, 2002. Strategi Pembelajaran di SD . Jakarata. Universitas Terbuka





















 

No comments:

Post a Comment