Saturday, August 16, 2014

Contoh PTK : MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PECAHAN DI KELAS IV SD NEGERI …. ………………………..



CONTOH PTK : MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA
MATERI PECAHAN DI KELAS IV SD NEGERI ….
………………………..


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dapat dilihat dari segi pendidikan. Hal ini terkandung dalam tujuan pendidikan nasional, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, selain beriman, bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa serta sehat jasmani dan rohani, juga memiliki kemampuan dan keterampilan.
Dengan penegasan di atas berarti peningkatan kualitas sumber daya manusia haruslah dilakukan dalam konteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui model pengajaran yang efektif dan efisien serta mengikuti perkembangan zaman. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak tertentu terhadap sistem pengajaran. Pandangan mengenai konsep pengajaran terus-menerus mengalami perkembangan sesuai dengan kemajauan ilmu dan teknologi.
1
 
Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar ‘baru’ yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam jangka panjang.
Berdasarkan data awal yang didapat menunjukkan bahwa hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri 1 Aramiah masih rendah. Belum semua siswa mencapai ketuntasan belajar yang diinginkan. Dari 37 siswa hanya 9 (24,32 %) yang mencapai  kriteria ketuntasana minimum (KKM) yang ditetapkan yaitu sebesar 65. Hal ini mungkin disebabkan kesulitan yang dihadapi oleh para siswa adalah mereka kurang mampu mengaitkan konsep-konsep matematika yang dipelajarinya dengan kegiatan kehidupan sehari-hari.
Dan pada umumnya siswa belajar dengan menghafal konsep-konsep matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika. Selain itu, siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi, bahkan lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap pelajaran matematika hanya merupakan suatu beban, sehingga tidak heran jika banyak siswa yang tidak menyenangi pelajaran matematika. Di sisi lain, metode dan pendekatan yang diterapkan oleh guru umumnya masih menerapkan metode ceramah atau ekspositori .
Oleh karena itu pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan strategi yang cocok diterapkan dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi siswa SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur dalam proses belajar matematika. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Dalam konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai dirinya sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk masa depannya. Dengan pembelajaran berbasis kontekstual diharapkan akan mempermudah dalam memahami dan memperdalam matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul ” Melalui Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah  Kecamatan Birem Bayeun  Kabupaten Aceh Timur”

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah: “ Apakah Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur?”
C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah:
  1. Tujuan Umum
Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual terhadap pelajaran matematika pada materi pecahan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur
  1. Tujuan Khusus
Meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur melalui pembelajaran berbasis kontekstual.
D.      Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat teoritis maupun praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran berbasis kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar matematika.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa:
Dapat mempermudah dalam memahami konsep-konsep matematika yang terlihat pada peningkatan hasil belajar siswa .
b.      Bagi guru:
Sebagai acuan dalam mendapatkan cara yang efektif dalam penyajian pelajaran.
c.       Bagi sekolah:
Sebagai masukan dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang tercapainya target kurikulum dan daya serap siswa seperti yang diharapkan.
d.      Bagi Penulis:
Sebagai kegiatan pengembangan profesi untuk pengakuan angka kredit guna kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.







BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESISI
A.      Landasan Teori
1.      Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Pembelajaran matematika yang diajarkan di SD merupakan matematika sekolah yang terdiri dari bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi anak serta berpedoman kepada perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa matematika SD tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu: (1) memiliki objek kajian yang abstrak (2) memiliki pola pikir deduktif konsisten Suherman (2006: 55).
Matematika sebagai studi tentang objek abstrak tentu saja sangat sulit untuk dapat dipahami oleh siswa-siswa SD yang belum mampu berpikir formal, sebab orientasinya masih terkait dengan benda-benda konkret. Ini tidak berarti bahwa matematika tidak mungkin tidak diajarkan di jenjang pendidikan dasar, bahkan pada hakekatnya matematika lebih baik diajarkan pada usia dini.
6
 
Mengingat pentingnya matematika untuk siswa-siswa usia dini di SD, perlu dicari suatu cara mengelola proses belajar-mengajar di SD sehingga matematika dapat dicerna oleh siswa-siswa SD. Disamping itu, matematika juga harus bermanfaat dan relevan dengan kehidupannya, karena itu pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar harus ditekankan pada penguasaan keterampilan dasar dari matematika itu sendiri. Keterampilan yang menonjol adalah keterampilan terhadap penguasaan operasi-operasi hitung dasar (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian).
Untuk itu dalam pembelajaran matematika terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) matematika sebagai alat untuk menyelesaikan masalah, dan (2) matematika merupakan sekumpulan keterampilan yang harus dipelajari. Karena itu dua aspek matematika yang dikemukakan di atas, perlu mendapat perhatian yang proporsional (Syamsuddin, 2003: 11). Konsep yang sudah diterima dengan baik dalam benak siswa akan memudahkan pemahaman konsep-konsep berikutnya. Untuk itu dalam penyajian topik-topik baru hendaknya dimulai pada tahapan yang paling sederhana ketahapan yang lebih kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak, dari lingkungan dekat anak ke lingkungan yang lebih luas.
Kurikulum matematika sekolah berbasis kompetensi (2004) memuat materi yang lebih ringkas dan memuat hal-hal pokok yang mencakup tiga komponen : a) kemampuan dasar b) materi standar c) indikator pencapaian hasil belajar. Penyusunan kurikulum berbasis kompetensi mempertimbangkan kesinambungan tujuan antara jenjang pendidikan yang lebih rendah ke jenjang yang lebih tinggi. Pada mata pelajaran matematika manyajikan tujuan instruksional sebagai berikut :
a.       Siswa mampu menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah atau soal yang mencakup : kemampuan memahami model matematika, operasi penyelesaian model, dan penafsiran solusi model terhadap masalah semula.
b.      Menggunakan matematika sebagai cara bernalar dan untuk mengkomunikasikan gagasan secara lisan dan tertulis, misalnya menyajikan masalah ke bentuk model matematika.
Tujuan umum matematika sekolah ini selanjutnya dijabarkan berkesinambungan pada setiap jenjang pendidikan yaitu SD, SLTP, dan SMU. Berikut ini merupakan tujuan matematika pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar.
Siswa mampu :
a.       Melakukan operasi hitung : penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, beserta operasi campurannya termasuk yang melibatkan pecahan.
b.      Menentukan sifat dan unsur suatu bangun datar dan bangun ruang sederhana, termasuk penggunaan sudut, keliling, luas dan volume.
c.       Menentukan sifat simetri, kesebangunan dan sistem koordinat.
d.      Menggunakan pengukuran, satuan, kesetaraan antar satuan, dan penaksiran pengukuran.
e.       Menentukan dan menafsirkan data sederhana seperti ukuran tertinggi, terendah, rata-rata, modus, serta mengumpulkan dan menyajikan data.
2.      Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Antara kata hasil dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Hasil adalah dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah, 2004:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (2004:21) bahwa hasil adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Slameto (2005 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu. Sedangkan menurut Nurkencana (2006 : 62) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa hasil belajar adalah taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
3.      Definisi Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Definisi Pembelajaran Kontekstual atau CTL menurut para ahli. Ada tiga ahli pendidikan yang diambil kafeilmu.com untuk mendefinisikan pembelajaran kontekstual ini (CTL). Definisi tersebut antara lain. Elaine B. Johnson mendefinisikan pengertian pembelajaran kontekstual sebagai berikut:  Contextual Teaching and Learning (CTL) atau disebut secara lengkap dengan Sistem Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah: sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Dengan pengertian tentang pembelajaran kontekstual diatas, diperlukan usaha dan strategi pengajaran yang tepat, sehingga dapat dicapai tujuan untuk mengantarkan guru dan murid dalam sebuah pendidikan yang kontekstual. Untuk mencapai tujuan ini, sistem pembelajaran kontekstual mempunyai delapan komponen utama. Komponen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut:
1.      membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,
2.      melakukan pekerjaan yang berarti,
3.      melakukan pembelajaran yang diatur sendiri,
4.      melakukan kerja sama,
7.      mencapai standar yang tinggi,
Contextual Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membentuk hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika belajar.
Akhmad sudrajat, mendefinisikan Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut:Contextual Teaching and Learning (CTL) Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
Departemen Pendidikan Nasional mendefinisikan Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari. http://kafeilmu.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
4.      Pembelajaran Matematika Berbasis Kontekstual
Pembelajaran berbasis CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2002: 26). Selain itu, dalam pembelajaran kontekstual siswa diharapkan untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan guru mengupayakan dan bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ada kesenjangan antara tujuan pembelajaran matematika yang ingin dicapai, di antaranya yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, dan kenyataan yang ada di lapangan. Juga dapat kita cermati bahwa agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, maka proses pembelajaran yang dilaksanakan harus melibatkan siswa secara aktif. Di lain pihak, mengingat komponen-komponen yang dimiliki CTL, pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dapat dicoba sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk melatih siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya dalam matematika.
Untuk beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan teknologi, pembelajaran matematika di SD/MI perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kita melihat dan merasakan bahwa informasi yang harus diketahui oleh manusia setiap hari begitu beraneka, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, sehingga tidak mungkin kita memilih dan memahami sebagian kecilpun dari informasi tersebut tanpa memanfaatkan cara atau strategi tertentu untuk memperolehnya.
Pendefinisian pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dikemukakan oleh ahli sangatlah beragam, namun pada dasarnya memuat faktor-faktor yang sama. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan mengambil, mensimulasikan, menceritakan, berdialog, bertanya jawab atau berdiskusi pada kejadian dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa, kemudian diangkat kedalam konsep yang akan dipelajari dan dibahas.
Melalui pendekatan ini, memungkinkan terjadinya proses belajar yang di dalamnya siswa mengeksplorasikan pemahaman serta kemampuan akademiknya dalam berbagai variasi konteks, di dalam ataupun di luar kelas, untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya baik secara mandiri ataupun berkelompok. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Berns dan Ericson (2001), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan penerapannya dikehidupan sehari-hari dalam peran mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja, sehingga mendorong motivasi mereka untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya.
Dengan demikian pembelajaran kontekstual merupakan suatu sistem pembelajaran yang didasarkan pada penelitian kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga guru harus merencanakan pengajaran yang cocok dengan tahap perkembangan siswa, baik itu mengenai kelompok belajar siswa, memfasilitasi pengaturan belajar siswa, mempertimbangkan latar belakang dan keragaman pengetahuan siswa, serta mempersiapkan cara-teknik pertanyaan dan pelaksanaan assessmen otentiknya, sehingga pembelajaran mengarah pada peningkatan kecerdasan siswa secara menyeluruh untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme baru dalam pembelajaran matematika, yang pertama-tama dikembangkan di negara Amerika, yaitu dengan dibentuknya Washington State Consortium for Contextual oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat.
Menurut Owens (2001) bahwa pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2001 diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektivitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, 18 sekolah, 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sebelumnya sudah diberikan pembekalan pembelajaran kontekstual.
Selanjutnya penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi dan hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan pelaksanaannya. Hasil penelitian untuk tingkat sekolah, yakni secara signifikan terdapat peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan secara utuh partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya Northwest Regional Education Laboratories dengan proyek yang sama, melaporkan bahwa pengajaran kontekstual dapat menciptakan kebermaknaan pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Demikian pula Owens (2001) menyatakan bahwa pengajaran konteksual secara praktis menjanjikan peningkatan minat, ketertarikan belajar siswa dari berbagai latar belakang serta meningkatkan partisipasi siswa dengan mendorong secara aktif dalam memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkoneksikan dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Pendapat lain mengenai komponen-komponen utama dari pengajaran kontekstual yaitu menurut Johnson (2002), yang menyatakan bahwa pengajaran kontekstual berarti membuat koneksi untuk menemukan makna, melakukan pekerjaan yang signifikan, mendorong siswa untuk aktif, pengaturan belajar sendiri, bekerja sama dalam kelompok, menekankan berpikir kreatif dan kritis, pengelolaan secara individual, menggapai standar tinggi, dan menggunakan asesmen otentik.
Menurut Zahorik (Nurhadi,2002:7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu :
a.       Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
b.      Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
c.       Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (a) Konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
d.      Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)
e.       Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
B.       Kerangka Berfikir
Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal dan anak dapat memahami materi pecahan dalam pelajaran matematika pada kelas siswa IV, sebaiknya menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual. Karena dengan pembelajaran kontekstual dapat melibatkan siswa pada situasi dunia nyata sebagai sumber maupun terapan materi pelajaran
Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:
Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:






Oval: Siswa:
Nilai Matematika Rendah


 
                       










Siklus I:
Pembelajaran berbasis kontekstual  dengan LKS
 




Siklus I:
Pembelajaran berbasis kontekstual  dengan Quiz

 




 







Gambar 2.1 Skema Kerangka Berfikir
C.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas, maka hipotesis tindakan yang peneliti ajukan sebagai berikut: "Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual terhadap mata pelajaran matamtika  pada materi pecahan, maka dimungkinkan hasil belajar siswa menjadi lebih meningkat dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan secara konvensional”


 
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.      Setting Penelitian
1.      Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan April 2011 pada semester II tahun pelajaran 2010/2011. Adapun jadwal penelitian tercantum pada lampiran.
2.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. SD Negeri 1 Aramiah terletak di jalan  Medan – Banda Aceh Gampong Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.
B.       Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa-siswi kelas IV Sekolah Dasar  Negeri 1 Aramiah dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang yang terdiri dari 17 laki laki dan 20  perempuan.
C.    Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II serta hasil pengamatan kelas.
D.      Teknik Dan Alat Pengumpulan Data
1.      Tekhnik Pengumpulan Data
18
 
Dalam penelitian ini pengumpulan data  menggunakan teknik tes dan non tes. Tes tertulis digunakan pada akhir siklus I dan siklus II,  yang terdiri atas materi  pengukuran. Sedangkan Teknik non tes meliputi teknik observasi dan dokumentasi. Observasi digunakan  pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas kemampuan memahami konsep pada materi pecahan pada siklus I dan siklus II. Sedangkan teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai mata pelajaran matematika.
2.      Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data meliputi:
a.       Tes tertulis, terdiri atas 10 butir soal.
b.      Non tes, meliputi lembar observasi dan dokumen
E.       Validasi Data
Validasi data meliputi validasi hasil belajar dan validasi proses pembelajaran.
1.      Validasi hasil belajar
Validasi hasil belajar dikenakan pada instrumen penelitian yang berupa tes. Validasi ini meliputi validasi teoretis dan validasi empiris. Validasi teoretis artinya mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas face validity (tampilan tes), content validity (validitas isi) dan construct validity (validitas kostruksi).
Validitas empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butis soal, kunci jawaban dan kriteria pemberian skor.
2.      Validasi proses pembelajaran
Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan observasi terhadap subyek penelitian yaitu siswa kelas IV dan kolaborasi dengan observer/pengamat berasal dari teman sejawat.
Triangulasi metode dilakukan dengan penggunaan metode dokumentasi selain metode observasi. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung yang diperlukan dalam proses pembelajaran  matematika.
F.       Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi:
  1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II.
  2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.
G.      Indikator Kinerja
Yang menjadi indikator keberhasilan kinerja pada tindakan kelas ini adalah jika terjadi perubahan peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran matematika melalui pembelajaran berbasis kontekstual. Secara kuantitatif dapat di indikasikan jika 75 % dari seluruh siswa terlihat pemahaman terhadap mata pelajaran matematika berubah lebih baik. Hal ini diwujudkan dengan adanya kemampuan siswa 75 % dalam menjawab soal dengan benar.   Disamping itu juga 75% siswa terlibat aktif dalam pembelajaran berbasis kontekstual, kemampuan guru untuk mengimplementasikan pendekatan pembelajaran berbasis kontekstual dapat terlaksana dengan baik.
H.      Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas II siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Prosedur penelitian diatas digambarkan dengan skema sebagai berikut;





















Rancangan /Rencana
 







Refleksi
 






Rancangan yang Direvisi
 










Refleksi
 

Observasi
 



 






Gambar 3.1 Alur PTK
Penjelasan Alur di atas merupakan prosedur penelitian yang dapat penulis diuraikan sebagai berikut;
1.      Siklus I
a.       Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:
1)      penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
2)      penyiapan skenario pembelajaran.
b.      Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
1)      pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,
2)      proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual pada pertemuan I dengan sub materi ”Menyatakan Pecahan Dalam Gambar” sedangkan pertemuan ke II dengan sub materi ” Pecahan Sebagai operasi Pembagian ”
3)      secara klasikal menjelaskan strategi dalam pembelajaran berbasis kontekstual dan dilengkapi lembar kerja siswa,
4)      memodelkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran berbasis kontekstual.
5)      mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,
6)      mengadakan tes tertulis,
7)      penilaian hasil tes tertulis.
  1. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya. Atas dasar hasil tersebut digunakan untuk merencanakan tindak lanjut pada siklus berikutnya.
  2. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus I.
2.      Siklus II
  1. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:
a.       penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
b.      penyiapan skenario pembelajaran.
  1. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
a.       pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,
b.      pembelajaran berbasis kontekstual pada pertemuan I dengan sub materi ” Membandingkan Pecahan Berpenyebut Sama” sedangkan pada pertemuan ke II dengan sub materi ”Mengurutkan Pecahan Berpenyebut Sama”
c.       siswa untuk menerapkan strategi pembelajaran berbasis kontekstual, diikuti kegiatan kuis.
d.      mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,
e.       mengadakan tes tertulis,
f.       penilaian hasil tes tertulis.
  1. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya,
  2. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus II.










BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.      Deskripsi Kondisi Awal
Proses pembelajaran pada kondisi awal hanya dengan menghafal konsep-konsep matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika. Selain itu, siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi, bahkan lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap pelajaran matematika hanya merupakan suatu beban, sehingga tidak heran jika banyak siswa yang tidak menyenangi pelajaran matematika.  Di sisi lain, metode dan pendekatan yang diterapkan oleh guru umum masih menerapkan metode ceramah atau ekspositori .
Hasil pengamatan pada kondisi awal menunjukkan bahwa hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri 1 Aramiah masih rendah. Dari 37 siswa hanya 9 (24,32 %) yang mencapai  kriteria ketuntasana minimum (KKM) yang ditetapkan untuk materi pecahan yaitu sebesar 65.
Berikut ketuntasan belajar pada kondisi awal penulis paparkan pada tabel di bawah ini.
Tabel  4.1  Ketuntasan Belajar  Siswa Hasil Tes Kondisi Awal
No
Ketuntasan Belajar
Kondisi Awal
Jumlah
Persen
1
Tuntas
9
24,32 %
2
Belum Tuntas
28
75,68 %
24
 
Jumlah
37
100 %
Berdasarkan data pada tabel 4.1  tersebut di atas, diketahui bahwa siswa kelas IV yang memiliki nilai kurang dari KKM 65, sebanyak 28 siswa. Dengan  demikian persentase siswa yang belum mencapai KKM adalah sebesar  (75,68 %). Sedangkan yang telah mencapai ketuntasan hanya sebanyak 9 siswa atau sebesar (24,32 %) , hal  dapat dilihat pada grafik dibawah ini.
Text Box:        5     10    15     20     25    30   35     40
Text Box: Jumlah  Siswa
            
 Tuntas
 
Tdk Tuntas
 
                


Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
Grafik diatas menunjukkan jumlah siswa yang mengalami ketuntasan hanya sebanyak  9 orang atau sebesar (24,32 %) sedangkan yang belum mencapai ketuntasan belajar yaitu sebanyak 28 siswa atau sebesar (75,68 %).
Hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut ini:
Tabel 4.2. Rata-rata Hasil Tes Kondisi Awal
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
7
2
Nilai Terendah
3
3
Jumlah Nilai
209
4
Nilai Rata-Rata
5,64
B.       Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus I
1.      Perencanaan Tindakan
a.       Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP
Materi yang dipilih adalah ”Pecahan” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Menyatakan Pecahan Dalam Gambar” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah ”Pecahan Sebagai Operasi Pembagian”. Berdasarkan sub materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan  demikian, selama siklus I terjadi 2 kali tatap muka.
b.      Pembentukan kelompok-kelompok belajar
Pada siklus I, siswa dalam satu kelas  dibagi menjadi 7 kelompok kecil  dengan memperhatikan  heterogenitas baik kemampuan dan gender.
2.      Pelaksanaan Tindakan
a.       Pelaksanaan Tatap Muka
Tatap muka I dan II dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual dengan panduan Lembar Kerja  Siswa ( LKS). Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;
1)      Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa.
2)      Guru menyajikan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang                           telah dibuat sebelumnya.
3)      Guru mengelompokkan siswa yang anggota kelompoknya terdiri  dari berbagai ragam ( heterogen )
4)      Guru membagikan lembar materi berupa gambar yang menyatakan pecahan kepada masing-masing kelompok,dengan materi yang sama, agar dipahami oleh kelompok siswa tersebut.
5)      Secara kelompok siswa bekerja untuk mengidentifikasi banyaknya bagian dari satu benda utuh yang dibagi menjadi bagian-bagian yang sama besar.
6)      Secara kelompok siswa berdiskusi menyelesaikan LKS.
7)      Secara kelompok siswa bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
8)      Guru memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dengan mengadakan evaluasi berupa tes.
9)      Guru menilai hasil evaluasi.
10)  Guru memberikan tindak lanjut.
Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama  dan bertanggung jawab untuk bersaing dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja siswa. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua siswa bergairah dalam mengikuti pelajaran.
b.      Wawancara
Kegiatan wawancara dilaksanakan oleh guru terhadap beberapa anggota kelompok. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perasaan siswa dalam memahami materi pecahan dengan menggunakan pembelajaran berbasis kontekstual ini. Hasil wawancara juga digunakan sebagai bahan refleksi.
3.      Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada  SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan  siswa dalam  mengerjakan soal yang berkaitan dengan pengkuran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan tindakan pada siklus II.
4.      Refleksi
Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan kondisi awal. Pada kondisi awal jumlah siswa yang dibawah KKM  sebanyak 28 anak sedangkan pada akhir siklus I berkurang menjadi 14 anak.  Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat dari 5,64 menjadi 6,86. Namun hasil yang dicapai belum begitu memuaskan, hal ini menjadi bahan evaluasi pagi peneliti untuk merencanakan dan mempersiapkan menjadi lebih matang pada tindakan  siklus berikutnya.

Hasil belajar pada kondisi awal jika dibandingkan dengan siklus I, dapat disajikan dalam tabel  berikut.
Tabel 4.3 Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal dengan Siklus I
No
Ketuntasan
Jumlah Siswa
Kondisi Awal
Siklus I
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
1
Tuntas
9
24,32 %
23
62,16 %
2
Belum Tuntas
28
75,68 %
14
37,84 %
Jumlah
37
100 %
37
100 %








Tabel perbandingan ketuntasan belajar kondisi awal dengan siklus I dapat diperjelas dengan diagram batang dibawah ini;
Text Box:        5     10    15     20     25    30    35    40
Text Box: Jumlah  Siswa
Tdk Tuntas
 
            
 Tuntas
 
                


Siklus I
 
Kondisi Awal
 


Gambar 4.2 Grafik  Ketuntasan Belajar Kondisi Awal dan Siklus I
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dengan Siklus I dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut ini:
Tabel  4. 4. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal dan Siklus I
No
Keterangan
Kondisi Awal
Siklus I
1
Nilai Tertinggi
7
9
2
Nilai Terendah
3
5
3
Jumlah Nilai
209
254
4
Nilai Rata-Rata
5,64
6,86

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi “Pecahan”. Disamping itu, rata-rata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 6,86. Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena sebagian siswa beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II.
C.      Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut.
1.      Perencanaan Tindakan
a.       Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP  Materi yang dipilih adalah ”Pecahan” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Membandingkan Pecahan Berpenyebut Sama” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah ”Mengurutkan Pecahan Berpenyebut Sama”. Berdasarkan sub materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan  demikian, selama siklus II terjadi 2 kali tatap muka.
b.      Pembentukan kelompok siswa
Pada siklus II, strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis kontekstual dan dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok, sehingga siswa yang dibagi menjadi 7 kelompok akan bersaing untuk menjadi yang terbaik.
2.      Pelaksanaan Tindakan
a.       Pelaksanaan Tatap Muka
1)      Guru memberikan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus I.
2)      Guru memberikan motivasi kepada kelompok siswa agar lebih                           aktif lagi dalam pembelajaran.
3)      Lebih intensif membimbing kelompok siswa yang mengalami                          kesulitan dalam pembelajaran.
4)      Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran.
5)      Guru memberikan evaluasi dengan tes.
6)      Guru menilai hasil evaluasi.
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa  masih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok, namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi .
b.      Wawancara
Wawancara dilaksanakan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu, wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai bahan refleksi.
3.      Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh  2 (dua) observer yang berasal dari teman sejawat yaitu guru pada SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi.
4.      Refleksi
Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus II, terdapat peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan dibandingkan dengan tindakan pada siklus I.  Pada siklus I jumlah siswa yang dibawah KKM  sebanyak 14 anak sedangkan pada akhir siklus II hanya sebanyak 1 anak. Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat tajam dari  6,86 menjadi 7,97  Hasil belajar pada siklus I jika dibandingkan dengan siklus II, dapat disajikan dalam tabel  berikut.
Tabel 4.5 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I dengan Siklus II
No
Ketuntasan
Jumlah Siswa
Siklus I
Siklus II
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
1
Tuntas
23
62,16 %
36
97,30 %
2
Belum Tuntas
14
37,84 %
1
2,70 %
Jumlah
37
100 %
37
100 %








Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang di bawah ini:
Text Box:        5     10    15     20     25    30    35    40
Text Box: Jumlah  Siswa
Tdk Tuntas
 
            
 Tuntas
 
                
Siklus II
 


Siklus I
 


Gambar 4.3 Grafik  Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan paparan data tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II sebanyak 36 siswa ( 97,30 %) yang berarti sudah ada peningkatan yang sangat signifikan dibanding dengan tindakan pada siklus I. Rata-rata kelas pun menjadi meningkat tajam.
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada Siklus I  dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut ini:
Tabel  4. 6. Perbandingan Nilai Rata-rata Siklus I dan Siklus II
No
Keterangan
Siklus I
Siklus II
1
Nilai Tertinggi
9
10
2
Nilai Terendah
5
6
3
Jumlah Nilai
254
295
4
Nilai Rata-Rata
6,86
7,97

Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal, Siklus I dan Siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal nilai rata- rata kelas sebesar 5,64, sedangkan nilai rata- rata kelas siklus I sudah ada peningkatan  menjadi 6,86 dan pada siklus II meningkat tajam menjadi 7,97. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram dibawah ini :
Tabel 4.7.Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No
Ketuntasan
Jumlah Siswa
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Jlh
Persen
Jlh
Persen
Jlh
Persen
1
Tuntas
9
24,32 %
23
62,16 %
36
97,30 %
2
Belum Tuntas
28
75,68 %
14
37,84 %
1
2,70 %
Jumlah
37
100 %
37
100 %
37
100 %

Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang di bawah ini:
Text Box:        5     10    15     20     25    30    35    40
Text Box: Jumlah  Siswa
Tdk Tuntas
 
            
 Tuntas
 
                


 
Kondisi Awal
 
Siklus I
 
Siklus II
 

Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Ketuntasan  Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes kondisi awal, Siklus I dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti  dalam tabel  berikut
Tabel  4. 8. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No
Keterangan
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
1
Nilai Tertinggi
7
9
10
2
Nilai Terendah
3
5
6
3
Jumlah Nilai
209
254
295
4
Nilai Rata-Rata
5,64
6,86
7,97

Berdasarkan informasi data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar matematika, khususnya pada materi “Pecahan” di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. Dengan demikian penlitian dianggap berhasil dan berhenti pada Siklus II.

D.      Pembahasan Tiap Siklus Dan Antar Siklus
Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya penguasaan materi ”Pecahan” pada siswa kelas IV semester II tahun pelajaran 2009/2010. Hal tersebut dapat dianalisis dan dibahas sebagai berikut;
1.      Hasil Belajar Kondisi Awal
Hasil belajar pada kondisi awal nilai rata-rata siswa kelas IV pelajaran matematika rendah khususnya pada materi pecahan. Penyebabnya siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi. Sebelum dilakukan tindakan guru memberi tes, ternyata dari sejumlah 37 siswa hanya terdapat 9 siswa (24,32 %) yang baru mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu sebesar 65.  Sedangkan 28 siswa atau  (75,68 %) belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Perolehan nilai tertinggi pada kondisi awal adalah 7 dan yang terendah adalah 3 dengan rata-rata kelas 5,64. 
Suasana pembelajaran pada kondisi awal menunjukkan bahwa siswa masih kurang tertarik dan hanya bersikap pasif. Siswa belum bekerja secara maksimal, disamping itu proses pembelajaran hanya bersifat verbal dengan metode pembelajaran yang bersifat konvensional. Siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran yang bersifat aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, hal inilah menjadikan siswa merasa jenuh dan bosan sehingga berimbas pada hasil belajar matematika menjadi rendah.
2.      Hasil Belajar Siklus I
Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa yang memperoleh nilai 9 sebanyak 2 siswa (5,40 %), sedangkan yang mendapat nilai 8 sebanyak  7  siswa atau (18,92 %), yang mendapatkan 7 sebanyak 14 siswa (37,84 %) , yang mendapat nilai  6 sebanyak 12 siswa (32,44 %) dan yang mendapat nilai terendah yaitu 5 hanya 2 siswa ( 5,40 %).
Berdasarkan  ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 23 atau 62,16  % yang sudah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan 14 siswa atau 37,84 % belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai  siklus I dapat dijelaskan bahwa  perolehan nilai tertinggi adalah 9 , nilai terendah 5, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 6,86
Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya pembelajaran berbasis kontekstual, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan kegiatan yang bersifat kelompok ada anggapan bahwa prestasi maupun nilai yang di dapat secara kelompok . Dari hasil pengamatan telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan serta perlu kecermatan dan ketepatan. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok , serta antar kelompok. Masing-masing siswa ada peningkatan latihan bertanya dan menjawab antar kelompok, sehingga terlatih ketrampilan bertanya jawab. Terjalin kerja sama inter dan antar kelompok. Ada persaingan positif antar kelompok mereka saling berkompetisi untuk memperoleh penghargaan dan menunjukkan untuk jati diri pada siswa.
3.      Hasil Belajar Siklus II
Hasil belajar pada pelaksanan tindakan siklus II dapat diketahui bahwa yang mendapatkan nilai tertinggi yaitu 10 sebanyak 2 siswa (5,40 %) yang mendapat nilai 9 sebanyak 8 siswa (21,62 %), yang mendapat nilai 8 sebanyak 15 siswa (40,55 %), yang mendapat nilai 7 sebanyak 11 (29,73 %), sementara yang mendapat nilai terendah yaitu 6 hanya 1 siswa saja (2,70 %).  Sedangkan nilai rata-rata kelas 7,97
Berdasarkan  ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 36 siswa atau (97,30 % ), artinya hapir semua siswa sudah mengalami ketuntasan belajar pada materi pecahan. Sementara sisanya 1 siswa atau (2,70 %)  belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai  siklus II dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi adalah 10 sedangkan nilai terendah adalah 6, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 7,97.
Suasana pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti lebih banyak mengadakan bimbingan dan berkeliling melihat hasil pekerajan siswa. Dari wajah siswa terpancar mereka senang dengan bekerja. Sikap optimis dari siswa terlihat, dari cara mereka berebut untuk menjawab pertanyaan. Pada saat ulangan harian dilaksanakan mereka bekerja dengan tenang dan penuh percaya diri. Pada siklus kedua ini terbukti, bahwa hasil belajar siswa meningkat dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A.      Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya, terkait dengan pengaruh pembelajaran berbasis kontekstual terhadap hasil belajar siswa, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.
2.      Adanya peningkatan nilai rata-rata tes hasil belajar siswa jika dibandingkan pada kondisi awal hanya sebesar 5,64 dengan ketuntasan belajar hanya mencapai 23,32 % setelah diberi tindakan nilai rara-rata siswa pada siklus I sebesar 6,86 dengan ketuntasan belajar mencapai 62,16 %. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata mencapai 7,97 dengan ketuntasan belajar mencapai 97,30 %.
3.      Penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek psikomotor atau kemampuan keterampilan proses matematika aspek, mengajukan pertanyaan, menggunakan alat bahan dan menginterpretasi data.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran agar menjadi masukan yang berguna, diantaranya:
1.     
39
 
Diharapkan para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dapat memilih pendekatan pembelajaran yang tepat agar memicu semangat dan aktifitas belajar siswa, seperti pembelajaran berbasis kontekstual yang dapat menciptakan suasana belajar yang aktif.
2.      Diharapkan guru untuk dapat menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual pada materi-materi yang dianggap sesuai untuk menggunakan pendekatan pembelajaran tersebut karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.













DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2006. Kurikulum KTSP Standar Kopetensi Mata Pelajaran Matematika Untuk SD/MI, Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri.2004. Hasil Belajardan kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.
Mas’ud Abdul Dahar, 2004. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA: UNIMA
Nurhadi, 2002. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Malang JICA IMSTEP FPMIPA UPI.
Nurkencana. 2006. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Slameto. 2005. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. font-size:100px
Suherman, 2006. Evaluasi Pembelajaran Matematika, Bandung : JICA FPMIPA UPI.
Syamsuddin, 2003. Apa, Bagaimana dan Mengapa CTL. Makalah disajikan pada Pelatihan  Matematika bagi Guru-Guru SD Provinsi Jabar, Bandung
http://kafeilmu.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl.html






 

No comments:

Post a Comment