Saturday, August 16, 2014

MELALUI PENDEKATAN WHOLE LANGUAGE DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA DALAM HATI PADA SISWA SEKOLAH DASAR



MELALUI PENDEKATAN WHOLE LANGUAGE DAPAT
MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA
DALAM HATI PADA SISWA SEKOLAH DASAR


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Manusia yang memiliki kemampuan sebagai seorang pendidik dan pengajar khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia, sudah selayaknya mengenali dan memahami, serta mampu untuk mengadakan suatu inovasi dan perbaikan dalam hal pembelajaran di dalam kelas baik di kelas rendah maupun di kelas lanjutan, untuk itu ada beberapa masalah yang perlu dicarikan solusi pemecahannya, terutama yang berhubungan dengan kebahasaan.
Anak-anak telah belajar bahasa dan menguasai bahasa lisan dengan baik jauh sebelum mereka sekolah. Sering kita jumpai anak yang pandai bercerita dengan susunan kalimat yang benar sehingga orang yang mendengarkannya dapat memahami jalan cerita tersebut, ternyata anak tersebut belum bersekolah. Dalam hal ini anak-anak tidak mempunyai kesulitan dalam belajar bahasa secara nonformal/di rumah.
Namun ketika anak mulai sekolah dan mendapat pelajaran bahasa, keadaan menjadi terbalik. Bahasa yang semula merupakan hal yang mudah dan mengasyikan berubah menjadi pelajaran yang sulit (Goodman, 1986). Sering kita dengar orang tua mengeluh tentang anaknya mendapat nilai kurang untuk pelajaran bahasa Indonesia, sementara nilai mata pelajaran lain, matematika misalnya, mendapat nilai yang cukup baik. Pelajaran bahasa yang seharusnya menyenangkan dan mengasyikan ternyata jauh ari harapan. Ini disebabkan karena di sekolah, bahasa diajarkan secara terpisah-pisah. Pada umumnya guru mengajarkan keterampilan berbahasa dan komponen bahasa secara terpisah. Membaca diajarkan pada jam yang berbeda dengan menulis. Demikian pula pelajaran tentang struktur bahasa dan kosakata atau kesusasteraan. Tidak jarang kita temui siswa yang ditugasi emembuat kalimat-kalimat lepas untuk melatih pola kalimat tertentu. Dengan system mengajar seperti ini, siswa tidak mendapatkan pelajaran bahasa yang utuh seperti yang mereka pelajari sebelum mereka sekolah.
Dengan mengajarkan bahasa secara terpisah-pisah, sangat sulit untuk memotivasi siswa belajar bahasa karena siswa melihat apa yang dipelajarinya tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka. Untuk memperbaiki pengajaran bahasa, di beberapa negara seperti Inggris, Australia, New Zealand, Kanada, dan Amerika Serikat mulai menerapkan pendekatan Whole Language pada sekitar tahun  delapan puluhan (Routman, 1991).
Whole Language adalah suatu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991; Froeses, 1990; Goodman, 1986; Weaver, 1992). Para ahli Whole Language berkenyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (Whole) yang tidak dapat dipisah-pisahkan (Rigg, 1991). Oleh karena itu pengajaran keterampilan berbahsa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penghitungan tanda baca seperti koma, semi-kolon, dan kolon misalnya, diajarkan sehubungan dengan pelajaran menulis, jangan mengajarkan penggunaan tanda baca tersebut hanya karena materi itu tertera dalam kurikulum.
Atas dasar itulah maka penulis berkeinginan untuk mencoba menerapkan salah satu pembelajaran membaca dalam hati dengan pendekatan menyeluruh (Whole Language) yang dapat membantu meningkatkan keterampilan teknik membaca pada siswa kelas V Sekolah Dasar melalui pembahasan makalah dengan judul yaitu: “Melalui Pendekatan Whole Language Dapat Meningkatkan Keterampilan Membaca Dalam Hati Pada Siswa Sekolah Dasar”. Dalam pembelajaran membaca dalam hati diharapkan siswa dapat memperoleh informasi dari suatu bacaan dengan memahami ini bahan secara tepat dan cermat, karena keterampilan membaca dalam hati merupakan kunci bagi semua ilmu pengetahuan.

B.       Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang masalah di atas, dapat dikemukakan rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: “Apakah Melalui Pendekatan Whole Language Dapat Meningkatkan Keterampilan Membaca Dalam Hati Pada Siswa Sekolah Dasar?”

C.      Tujuan Pembahasan
Untuk mengungkap pengaruh membaca dalam hati dengan pendekatan whole language terhadap hasil belajar Bahasa Indonesianpada siswa sekolah dasar

D.      Manfaat Pembahasan
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk semua pihak yang berkompeten baik dalam bidang pendidikan maupun non kependidikan.  Dengan kata lain manfaat hasil penelitian ini dapat juga dipandang dari dua sisi baik manfaat secara teoretis maupun praktis. Untuk itu manfaat hasil penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
  1. Manfaat  Teoretis
Mendapatkan teori-teori baru tentang peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia membaca dalam hati  dengan  pendekatan Whole Language.
  1. Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa SD, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa yang bermasalah, juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan  akhirnya prestasi belajar siswa meningkat.
b.      Bagi guru, merupakan salah satu langkah untuk mengetahui strategi pembelajaran bahasa Indonesia yang relevan, sehingga permasalahan-permasalahan yang timbul dapat dikurangi.
c.       Bagi peneliti, diharapkan dapat memperluas wawasan tentang pemecahan masalah membaca dalam pembelajaran bahasa Indonesia
d.      Bagi sekolah sebagai masukan dalam rangka pengektifan proses belajar mengajar dan kualitas pembelajaran di kelas.




BAB  II
PEMBAHASAN

A.      Hakikat Membaca
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, selain menyimak, mewicara dan menulis. Dalam membaca seseorang dituntut untuk berinteraksi melalui teks (tulisan). Dengan membaca seseorang dapat memperoleh pesan yang dituliskan dalam sistem tanda baca (graphonic knowledge). Apabila seseorang tidak memiliki keterampilan membaca yang memadai, hampir dipastikan ia tidak mampu berkomunikasi melalui teks, apabila itu dihubungkan dengan tuntutan kehidupan saat ini, tentu orang tersebut akan mendapatkan hambatan dalam memperoleh pesan (informasi) yang disampaikan melalui teks atau tulisan.
Membaca adalah interaksi dengan bahasa yang sudah dialihkan kodekan dalam tulisan (teks). Menurut Ellis (1989), Reasing is the visual receptive component of communication. It is the process of deriving meaning from the written worg. Children use their total language ability when they read. Anak-anak menggunakan seluruh kemampuan bahasa mereka bahasa mereka pada saat membaca. Hal itu dilakukan anak untuk mengolah pesan yang terdapat dalam tulisan. Oleh karena itu, anak harus memiliki keterampilan reseptif visual dalam membaca.
Menurut Nuttall, (1982) mengartikan membaca sebagai upaya menggali informasi dari berbagai jenis teks, sesuai dengan tujuan membaca. Berupa keterampilan-keterampilan mengenai kata dan keterampilan memanfaatkan teks itu sendiri. Keterampilan menangani kata yang dimaksud tersebut adalah keterampilan memanfaatkan konteks mulai dari berbagai pemakaian morfologis lingkungan kata yang lazim disebut konteks, sampai dengna memanfaatkan konteks luar bahasa untuk memahami makna dan nilai yang terdapat dalam teks.
Dari pandang di atas dapat dinyatakan bahwa membaca dapat merupakan proses pengolahan bacaan atau teks untuk menggali informasi yang terdapat dalam teks. Kegiatan membaca melibatkan komponen kebahasaan, gagasan, nada, gaya, serta yang termasuk dalam kategori konteks dan komponen konteks yang berada di luar komponen kebahasaan.

B.       Membaca dalam Hati
Pembelajaran membaca dalam hati di Sekolah Dasar bertujuan untuk mendapatkan informasi dari suatu bacaan dengan memahami isi bacan secara tepat dan cermat.
Untuk mencapai sasaran membaca dalam hati siswa-siswa Sekolah Dasar hendaknya menguasai keterampilan-keterampilan sebagai berikut: membaca tidak bersuara, membaca tanpa disertai gerakan-gerakan anggota badan, membaca tidak merisaukan isinya meskipun tidak cocok, berkonsentrasi fisik dan mental, dapat mengungkapakan kembali isi bacaaan.
Adapun bahan bacaan membaca dalam hati adalah dapat berupa koran, majalah, buku rujukan atau bahan kepustakaan. Bahan bacaan membaca dalam hati sebaiknya bukan bahan yang diambil dari buku paket, sebab kemungkinan ada diantara siswa yang sudah pernah membaca baha tersebut.
Tarigan (1984:30) berpendapat bahwa “membaca dalam hati secara garis besar menjadi dua bagian yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif”.
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas suatu teks dalam waktu yang sesingkat mungkin, kegiatan membaca ekstensif adalah kegiatan membaca untuk memahami isi yang penting dengan cepat dan efisien dalam suatu bacaan. Kegiatan membaca ekstensif meliputi: membaca survey, membaca seluas dan membaca dangkal (Broughton et.al). dalam Tarigan, (1984:35).

Menurut Brooks dalam Tarigan (1984:35)
Membaca intensif adalah “Stdi seksama, telaah isi, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek dua sampai empat halaman setiap hari. Kegiatan membaca intensif meliputi: membaca telaah isi, dan membaca telaah bahasa.

Penulis dapat mengungkapkan bahwa anak tersebut belajar secara terpisah untuk membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Padahal apabila kita cermati secara seksama pembelajaran bahasa adalah menyeluruh. Artinya bila anak tersebut belajar membaca maka secara tidak langsung anak tersebut belajar mendengarkan, berbicara serta menulis. Pembelajaran bahasa yang dipaket dalam satu kemasan dengan memusat pada satu tema adalah pembelajaran yang menarik bagi siswa.

C.       Pendekatan Whole Language
Pendekatan Whole Language merupakan salah satu pendekataan pembelajaran bahasa yang mulai diperkenalkan di Indonesia. Keampuhan pendekataan ini telah banyak dibuktikan oleh beberapa negara yang menggunakan di kelas.
Menurut Brenner (1990) berpendapat bahwa Whole Language adalah cara mengajarkan prapembaca, membaca dan keterampilan bahasa lainnya melalui keseluruhan proses yang melibatkan bahasa, menulis, berbicara, mendengarkan cerita, mengarang cerita karya seni, bermain drama, maupun melalui cara-cara yang lebih tradisional.

Berdasarkan pendapat tokoh di atas, maka pembelajaran bahasa berdasarkan pendekatan bahasa menyeluruh mempunyai ciri-ciri: menyeluruh (Whole/Cooperative Eksperances), bermakna (Meaningfull), berfungsi (Function), alamiah (Natural / Authentic),
Whole Language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran dan tentang orang-orang yang dimaksud adalah siswa yang terlibat dalam pembelajaran. Dalam hal ini orang-orang yang dimaksud adalah siswa dan guru. Whole Language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diajarkan secara terpadu. Menerapkan Whole Language memang agak sulit karena tidak ada acuan yang benar-benar mengaturnya.

D.    Hasil Belajar
Darmansyah (2006:13) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa setelah menjalani proses pembelajaran.
Hasil belajar merupakan suatu prestasi yang dicapai seseorang dalam mengikuti proses pembelajaran, dengan kata lain hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam diri individu yang belajar. Perubahan yang diperoleh dari hasil belajar adalah perubahan secara menyeluruh terhadap tingkah laku yang ada pada diri individu. Hasil belajar itu mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Sesuai menurut Bloom yang dikutip Djaafar (2001:83) menyatakan hasil belajar dibagi dalam tiga ranah atau kawasan yaitu (1) Ranah Kognitif, (2) Ranah Afektif dan (3) Ranah Psikomotor.
Masing-masing ranah menghasilkan kemampuan tertentu. Hasil belajar ranah kognitif berorientasi kepada kemampuan “berpikir” yang mencakup kemampuan memecahkan suatu masalah. Hasil belajar ranah afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap hati-hati yang menunjukkan penerimaan atau penolakkan terhadap sesuatu. Sedangkan hasil belajar ranah psikomotorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak.






BAB III
KESIMPULAN  DAN SARAN

A.       Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan membaca dalam hati dengan  pendekatan whole language dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia materi memahami teks pada siswa kelas V  sekolah dasar. Dengan membaca siswa dapat membuka jendela dunia. Pada pendekatan whole language bukan hanya membaca, melainkan menggabungkan semua aspek dari mendengarkan, menulis dan berbicara.

B.        Saran
Diharapkan  pada siswa, agar sering berlatih membaca yang diberikan oleh guru dengan baik. Bagi guru-guru agar dapat merancang dan mengoptimalkan penerapan pendekatan whole language dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terutama dalam materi membaca..
Disamping itu, dalam upaya meningkatkan hasil belajar dan mutu pendidikan diharapkan agar para orang tua dan masyarakat pro aktif terhadap pihak sekolah demi tercapinya tujuan pendidikan nasional. Contoh/alternative bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru di sekolah (di kelas).



DAFTAR PUSTAKA

BNSP. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD, MI, SDLB. Jakarta: BNSP.
I.G.A.K Wardani. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan Univesitas Terbuka.
Imansjah Alipandie, 2004. Didaktik Metodik. Surabaya: Usaha Nasional.
Mudjiono, 2002. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Muhammmad Ali, 2003. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo.
Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda
Nana Sudjana, 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.Sinar Baru Algensindo.
Sriyono, 2005. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta
Tarsis Tarmudji, 2003. Metoda dan Media. Yogyakarta: Liberty
Udin S, Winataputra, 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud Proyek Mutu Guru Kelas SD Setara DII.











 

No comments:

Post a Comment