Saturday, August 16, 2014

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KONSEP PESAWAT SEDERHANA MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SEMESTER II SDN …………………



UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KONSEP PESAWAT SEDERHANA MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V SEMESTER II SDN …………………


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan merupakan sarana yang paling tepat. Pendidikan dalam hal ini adalah suatu system yang berkesinambungan mengangkat nilai lebih untuk memproklamirkan lisensi mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
Pada hakikatnya pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang terhadap orang lain agar memiliki pengetahuan dan keterampilan. Proses pendidikan selalu terjadi perubahan tingkah laku, bukan hanya perubahan dari tidak tahu menjadi tahu tetapi lebih dari itu, perubahan yang diharapkan meliputi seluruh aspek-aspek pendidikan seperti, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala alam baik yang menyangkut makhuk hidup, ataupun benda mati. Pada prinsipnya IPA diajarkan untuk membekali siswa agar memiliki pengetahuan (pengetahuan berbagai cara), dan keterampilan (cara mengerjakannya) yang dapat membantu siswa untuk memahami gejala alam secara mendalam dan menyadari akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
1
 
Menurut UU Sisdiknas No. 20 Bab XII pasal 45 ayat (1) “Setiap satuan pendidikan menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik”. Sarana dan prasana tersebut pada dasarnya adalah media atau yang biasa kita kenal sebagai alat peraga yang digunakan sebagai perantara agar informasi atau bahan ajar tersebut dapat diterima dan diserap dengan baik oleh para siswa.
Dikarenakan pemanfaatan alat peraga/media kurang digunakan secara maksimal, maka pencapaian hasil belajar siswa belum berhasil. Maka itu dalam pembelajaran IPA, guru perlu memanfaatkan alat peraga. Pendidikan manusia dapat berdayaguna dan mandiri, karena dengan pendidikan manusia dapat berdayaguna dan mandiri. Selain itu pula pendidikan sangat penting dalam pembangunan, maka tidak salah pemerintah mengusahakan untuk meningkatkan mutu pendidikan baik dari tingkat perguruan tinggi. Sekolah dasar sebagai jenjang tujuan memberikan kemampuan dasar baca, tulis, hitung, pengetahuan keterampilan dasar lainnya. Selain itu pula, di sekolah dasar banyak diperkenalkan dengan benda-benda konkrit yang sering di jumpai di kehidupan sehari-hari yang didesain dalam suatu mata pelajaran IPA adalah suatu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan dan merupakan bagian dari integral dari pendidikan nasional dan tidak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan pengetahuan lain. IPA juga merupakan ilmu dasar atau “basic since”, yang penerapannya sangat dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penerapan metode pembelajaran dengan menggunakan alat peraga khususnya mata pelajaran IPA didasari kenyataan pada pembelajaran IPA banyak materi pesawat sederhana. Oleh sebab itu pembelajaran dengan menggunakan alat peraga sangat cepat untuk mempermudah membantu siswa memahami materinya. Hal ini pula dapat membantu siswa dalam upaya meningkatkan prestasi dalam mata pembelajaran IPA.
Kenyataan yang ada di lapangan, penggunaan alat peraga belum dibudidayakan, dalam arti tidak semua guru menerapkan alat peraga dalam mengajar. Hal ini disebabkan belum timbulnya kesadaran akan pentingnya penggunaan alat peraga dalam kegiatan proses pembelajaran IPA.
Hasil kajian penelitian ketika melakukan observasi di SDN 2 Rantau Selamat Kecamatan Rantau Selamat Kabupaten Aceh Timur diperoleh informasi walaupun alat peraga sebagian sudah tersedia tetapi tidak semua guru menggunakannya, sehingga prestasi belajar siswa tidak menunjukan hasil yang memuaskan. Masih banyak hasil ulangan formatif hanya mencapai angka rata-rata 50,00.
Melihat kondisi di atas, maka diperlukan keterampilan seorang guru untuk memanfaatkan alat peraga agar lebih mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan penulis, maka peneliti tertarik melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Pesawat Sederhana Melalui Pemanfaatan Alat Peraga Pada Siswa Kelas V Semester II SDN 2 Rantau Selamat”
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang masalah di atas, dapat dikemukakan rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: “Apakah Pemanfaatan Alat Peraga Dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Pesawat Sederhana Pada Siswa Kelas V Semester II SDN 2 Rantau Selamat?”.
C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengkongkritkan pembelajaran dan dapat melibatkan siswa dalam pembelajaran IPA sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.
2.      Tujuan Khusus
a.        Mengetahui pelaksanaan pembelajaran IPA konsep pesawat sederhana dengan pemanfaatan alat peraga.
b.        Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dalam konsep pesawat sederhan sebelum dan setelah menggunakan alat peraga
c.        Mengetahui respon siswa dalam pembelajaran IPA konsep pesawat sederhana berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
a.       Mendapatkan teori-teri baru tentang peningkatan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana dengan pemanfaatan alat peraga.
b.      Penelitian ini merupakan dasar bagi penelitian selanjutnya.
2.       Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat bagi:
a.       Bagi Siswa
Sebagai landasan untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana dengan pemanfaatan alat peraga
b.      Bagi guru
Dapat dijadikan sebagai pedoman terutama guru mata pelajaran IPA khususnya pada materi pesawat sederhana dengan pemanfaatan alat peraga.
c.       Bagi Penulis
Sebagai kegiatan pengembangan profesi pendidik untuk perolehan angka kredit guna kenaikan pangkat dan golongan setingkat lebih tinggi.
d.      Bagi Sekolah
Dapat dijadikan kebijakan baru yang berhubungan dengan proses pembelajaran guna peningkatan mutu pendidikan.


BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.    Landasan Teori
1.        Hakikat Pelajaran IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang alam semesta di sekolah dasar, dengan menggunkan metose-metode sains. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Wina-Putra, 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secar tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen. Berdasarkan pengertian di atas, tujuan pembelajaran IPA adalah untuk membelaki siswa tentang:
·        Pengetahuan alam atau sains
·        Kemampuan mengindentifikasi, menganalisis, dan menyusun alternative pemecahan masalah secara kritis berdasarkan prinsip-prinsip sains
·        Kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat dari sekolah dengan kehidupan sehari-hari yang berkenaan dengan pengetahuan alam
·        Kesadaran sikap mental yang kritis positif dan keterampilan ilmiah terhadap lingkungan hidup

 
“Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antar peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik” (Mulyana, 2003:100). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam yang sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
7
 
Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan dan proses sikap ilmiah. Sebagaimana dalam kurikulum 2006 (KTSP) tujuan mata pelajaran IPA diantaranya untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat serta mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
IPA sebagai hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar melalui penyelidikan, penyusunan, dan pengujian gagasan. Melalui pembelajaran IPA, kerja ilmiah seperti melakukan pengamatan, memprediksi, dan keterampilan IPA lainnya serta keterampilan berfikir dapat dilatih kepada peserta didik dalam usaha memberi bekal pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan maupun untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan di sekelilingnya.
2.        Hakekat Alat Peraga
Alat peraga merupakan salah satu dari media pendidikan adalah alat untuk membantu proses belajar mengajar agar proses komunikasi dapat berhasil dengan baik dan efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Amir Hamzah (1981:11) bahwa “Media pendidikan adalah alat-alat yang dapat dilihat dan didengar untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif”. Sedangkan yang dimaksud alat peraga menurut Nasution (1985:100) “alat peraga adalah alat pembantu dalam mengajar agar efektif”. Pendapat lain dari pengertian alat peraga atau Audio-Visual Aids (AVA) adalah media yang pengajarannya berhubungan dengan indera pendengaran, (Suhardi, 1978:11). Sejalan dengan itu menurut Sumadi (1975:4) mengemukakan bahwa “Alat peraga atau AVA adalah alat peraga yang memberikan pelajaran atau yang dapat diamati melalui panca indera”.
Dari penjelasan di  atas adalah media atau alat bantu mengajar adalah merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemmpuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Manfaat media/alat peraga dalam pembelajaran adalah mempelancar proses interaksi antara guru dengan siswa, dalam hal ini membantu siswa secara optimal. Menurut Kemp da Dayton (1985) fungsi dari media/alat peraga yaitu sebagai berikut:
a.       Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan
b.      Proses pembelajaran menjadi lebih menarik
c.       Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif
d.      Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi
e.       Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan
f.       Proses belajar dapat terjadi dimana saja
g.      Sikap positif siswa terhadap bahan pelajaran maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan
h.      Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif dan produktif

Adapun langkah-langkah pembelajaran IPA dengan pemanfaatan alat peraga yang sederhana adalah sebagi berikut:
a.       Menganalisis karakteristik siswa (karakteristik umum dan pengetahuan alam)
b.      Menetapkan tujuan pembelajaran (pengetahuan yang akan diperoleh, sikap yang ingin ditanamkan, dan keterampilan yang ingin ditanamkan, dan keterampilan yang ingin dikembangkan)
c.       Menyiapkan alat peraga yang sesuai dengan pembelajaran (materi yang akan dipelajari)
d.      Mendemonstrasikan cara kerja alat peraga
e.       Membagikan LKS (dengan tujuan agar semua siswa melakukan pengamatan demonstrasi yang dilakukan)
f.       Mempresentasikan hasil pengamatan (LKS)
g.      Membuat kesimpulan (mengenai cara kerja alat peraga yang didemonstrasikan)
h.      Kegiatan pembelajaran diikuti dengan diskusi kelompok dan Tanya jawab
Setiap media pembelajaran mempunyai kelemahan dan kelebihan, menurut Edgar dale YD Fim dan F.Hokan (Ahmad Rohani, 1997:8) kelebihan dalam penggunaan media/alat peraga sebagai berikut:
a.       Memberikan dasar pengalaman konkrit bagi pemikiran dengan pengertian-pengertian  abstrak kepada siswa
b.      Mempertinggi/meningkatkan perhatian siswa ketika belajar
c.       Memberikan realitas, sehingga mendorong adanya selfacting
d.      Memberikan hasil belajar yang permanent
e.       Menambah perbendaharaan bahasa anak yang benar-benar dipahami (tidak verbalistik)
f.       Memberikan pengalaman
Disamping ada kelebihan ada pula kelemahannya yaitu:
a.       Kurang efektif untuk mengajar siswa dengan jumlah yang banyak
b.      Memerlukan fasilitas yang memadai
c.       Kebebasan yang diberikan kepada peserta didik tidak selamanya dapat dimanfaatkan secara optimal
d.      Membutuhkan perhatian yang khusus bagi siswa karena daya ingat siswa berbeda-beda
3.        Hasil Belajar
Hasil belajar berasal dari kata, “Hasil” dan “Belajar”. Hasil berarti hal yang telah dicapai (Depdikbud, 1995:787). Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, (Depdiknas, 1995:14). Jadi hasil belajar adalah penguasaan keterampilan atau pengetahuan yang berkembang oleh mata pelajaran, lazimnya ditujukan oleh nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Hasil dalam penelitian yang dimaksud adalah nilai yang diperoleh siswa pada mata pelajaran IPA dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas yang diberikannya.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa pada konsep pesawat sederhana dengan pemanfaatan alat peraga, alat ukur atau teknik penilaian yang digunakan salah satunya adalah penilaian unjuk kerja dan penilaian tertulis. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan demontrasi yang dilakukan siswa sendiri. Teknik penilaian unjuk kerja dapat menggunakan alat atau instrument seperti daftar sek (check-list) atau skala penilaian (rating scale). Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis merupakan tes di mana soal dan jawaban diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan.
4.        Konsep Pesawat Sederhana
Konsep adalah suatu abstraksi suatu kelompok benda atau stimulis yang memliki peranan karakteristik. Hasil dari pengabstraksian tersebut kita beri label atau nama yang merupakan “nama konsep”. Dengan demikian nama konsep tersebut akan memberikan nama konsep yang satu dengan yang lain. Menurut Bruner, Goodnow dan Austin (1962) konsep diartikan sebagai abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat, kesamaan yang dimaksud adalah adanya unsur-unsur yang sama baik dalam bantuk konkrit maupun dalam bentuk yang abstrak.
Keterhubungan artinya adanya hubungan antara berbagai benda atau sifat baik yang sifatnya konkrit maupun sifatnya abstrak dan terjadinya hanya atas dasar pemikiran abstrak tertentu pula. Contoh: manusia adalah konsep. Jenis kelamin laki-laki atau perempuan juga konsep yang membedakan antara laki-laki dan perempuan adalah atribut-atribut seperti bentuk, fisik, suara, alat kelamin dan sebagainya.
Untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari, kita memerlukan alat Bantu. Alat tersebut membuat pekerjaan menjadi ringan. Alat ini dinamakan pesawat sederhana. Memotong kain dengan gunting akan lebih mudah, daripada memotong kain dengan cara menyobek dengan tangan. Begitu pula dengan menggunting kuku dan mencabut paku. Mencabut paku akan lebih mudah jika menggunakan tang.
Gunting dan palu merupakan contoh pesawat sederhana. Hanya dengan tenaga yang kecil, dapat melakukan suatu pekerjaan dengan mudah. Pesawat sederhana ada 4 jenis, yitu pengungkit (tuas), bidang miring, roda, dan katrol.Jenis dan ciri pesawat sederhana:
a.             Pengungkit (Tuas)
Pengungkit (tuas) adalah alat yang menggunakan sebuah tongkat dengan titik tumpu yang dapat dipindah-pindahkan. Ciri-ciri pengungkit (tuas) adalah
·         Memiliki tiga buah titik, yaitu titik tumpu, titik kuasa, dan titik beban
·         Titik tumpu yaitu tempat untuk tumpuan kuasa dan beban yang akan diangkat
·         Titik kuasa yaitu tempat dimana gaya digunakan untuk mengangkat beban berada
·         Jarak antara titik tumpu dan titik beban disebut lengan beban
·         Jarak anatara titik tumpu dan titik kuasa disebut lengan kuasa
Alat-alat yang termasuk pengungkit antara lain: gunting, gerobak dorong beroda satu, pemecah buah pinang, sekop, dan tang.
Pengungkit ada tiga jenis yaitu:
1).    Pengungkit jenis pertama, ciri-ciri pengungkit jenis pertama adalah titik tumpu diantara titik beban dan titik kuasa, contohnya gunting, pisau, tang, dan jungkat jungkit.
2).    Pengungkit jenis kedua, ciri-ciri pengungkit jenis kedua adalah titik beban terletak di antara titik tumpu dan titik kuasa, contohnya pembuka tutup botol, pemecah buah pinang, gerobak dorong beroda satu, dan sebagainya.
3).    Pengungkit jenis ketiga, ciri-ciri pengungkit jenis ketiga adalah titik kuasa terletak diantara titik tumpu dan titik beban, contohnya sekop.
b.      Bidang Miring
Bidang miring adalah suatu alat bantu yang permukaannya sengaja diletakkan miring sehingga gaya yang permukaannya menjadi lebih kecil dan memudahkan kita mencapai tempat yang lebih tinggi, contoh bidang miring adalah tangga, papan yang dimiringkan, dan jalan di pegunungan yang dibuat berkelok-kelok termasuk bidang miring. Tujuan pembuatan jalan di pegunungan dibuat seperti itu adalah untuk melandaikan bidang miring yang dimiliki oleh gunung sepanjang jalan tersebut.
Contoh bidang miring lainnya adalah baji (kampak), dan sekrup. Baji (kampak) adalah alat yang ujungnya tajam gunanya untuk memisahkan (membelah) benda, sedangkan sekrup adalah bidang miring yang melingkar seperti spiral, gunanya sekrup adalah untuk memudahkan menempel dua benda.
c.       Katrol
Katrol  adalah roda beralur yang berputar pada porosnya. Katrol digunakan karena dapat mengubah arah gaya serta mampu menarik atau mengangkat benda. Katrol biasanya digunakan bersama dengan rantai atau tali. Katrol ada tiga jenis yaitu, katrol tetap, katrol bebas atau katrol tunggal bergerak, dan katrol ganda atau blok katrol.
1).    Katrol tetap, katrol tetap adalah katrol yang posisinya tidak berubah, beban diangkat dengan cara menarik tali yang tidak terikat beba. Contohnya katrol tetap yang disimpan pada tiang bendera.
2).    Katrol bebas atau katrol tunggal bergerak, adalah katrol yang posisinya selalu berubah, atau dengan kata lain dapat berpindah tempat. Katrol ini salah satu ujung tali diikat pada tempat yang tetap dan ujung yang lainnya ditarik ke atas.
3).    Katrol ganda atau blok katrol, adalah katrol gabungan katrol tetap dengan katrol bebas. Jenis katrol ini biasa digunakan untuk mengangkat beban yang sangat berat.
d.      Roda
Roda adalah sebuah benda yang berbentuk lingkaran dqan mempunyai poros di bagian tengahnya. Sebuah roda dapat bergerak karena roda dapat berputar pada porosnya. Contoh benda yang menggunakan roda adalah kipas angin, roda sepeda, roda mobil, kursi roda, dan sebagainya.

B.       Kerangka Berfikir
Berdasarkan uraian landasan teori di atas fungsi pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran IPA adalah untuk meningkatkan hasil belajar dan mengkongkritkan konsep yang terdapat pada materi operasi hitung bilangan. Dengan kata lain, penggunaan metode resitasi dalam pembelajaran matematika dapat memperbesar minat dan perhatian siswa.
Secara skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:






 






         


 







Gambar 2.1 Skema Kerangka Berfikir

C.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir diatas, hipotesis tindakan yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah “ Diduga Pemanfaatan Alat Peraga Dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Pesawat Sederhana Pada Siswa Kelas V Semester II SD Negeri 2 Rantau Selamat .”







 
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Setting Penelitian
1.      Waktu 
Adapaun waktu penelitian berlangsung selama lebih kurang 4 bulan yang dimulai bulan Februari sampai dengan Mei pada semester II tahun pelajaran 2009/2010
2.      Tempat 
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas V pada SD Negeri 2 Rantau Selamat  terletak di Jalan alue Raya Desa Rantau Panjang Kecamatan Ranto Selamat Kabupaten Aceh Timur.

B.     Subjek Penelitian
 Subjek penelitian adalah siswa kelas V dengan Jumlah siswa 25 orang yang terdiri dari 12 siswa laki laki dan 13 siswi perempuan.

C.    Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari;
1.      Catatan pengamatan lapangan dari observer/pengamat yang berasal dari teman sejawat/guru
2.      Kondisi awal serta hasil tes formatif siklus I , dan siklus II
3.      Hasil angket

D.    Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1.     
17
 
Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh kebenaran yang objektif dalam melakukan pengumpulan data, diperlukan adanya instrumen yang tepat sehingga masalah yang diteliti akan terefleksi dengan baik. Oleh karena itu peneliti menggunakan instrumen sebagai berikut: a. tes, b.observasi, c. angket
a.       Tes Hasil Belajar
Untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar siswa tentang materi pesawat sederhana yang dilaksanakan ketika observasi awal. Adapun jenis test yang diberikan dari siklus I dengan siklus II, berupa test tertulis isian singkatan sebanyak 10 soal dan kinerja siswa yang diambil langsung ketika proses pembelajaran. Test ini diambil sebelum menggunakan alat peraga. Materi soal yang diambil ketika pelaksanaan tes awal disesuaikam dengan indikator dari setiap siklus.
Tes akhir dilaksanakan setelah pelaksanaan siklus I, dan II. Adapun bentuk soal yang diberikan kepada siswa adalah isian singkat sebanyak 10 soal yang dimaksudkan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa tentang konsep pesawat sederhana setelah menggunakan alat peraga. Materi soal yang diambil ketika pelaksanaan tes akhir disesuaikan dengan indicator dengan setiap siklus.
b.      Lembar observasi
.Lembar observasi yang berfungsi untuk mengetahui memperoleh data tentang aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan tahap-tahap kegiatan pembelajaran yang tertuang dalam RPP dengan pemanfaatan alat peraga. Observasi dilakukan dengan observer sebanyak 2 orang, mereka merupakan guru dari kelas tempat peneliti mengadakan penelitian dan guru yang menjadi observer adalah guru kelas IV dan kelas VI.
Ada dua lembar observasi yaitu lembar observasi aktivitas guru dan siswa. Lembar observasi aktivitas guru digunakan untuk mengamati kesesuaian antara rencana yang telah dibuat dengna proses pembelajaran. Adapun kegiatan yang diobservasi dalam lembar observasi ini meliputi langkah-langkah kegiatan guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga. Selanjutnya lembar observasi aktivitas siswa dibuat untuk mengetahui keaktifan siswa dalam berdiskusi kelompok, melakukan kerjasama dalam pemecahan masalah bersama anggota kelompoknya, dan pembuatan tugas.
c.       Angket siswa
Untuk memperoleh data mengenai respon siswa tentang materi pesawat sederhana setelah pembelajaran dengan memanfaatkan alat peraga. Kegiatan angket siswa ini berupa daftar chek pada jawaban yang telah tersedia, dan peneliti juga mengajukan pertanyaan tentang kesan-kesan siswa selama pembelajaran IPA dengan pemanfaatan alat peraga.
2.      Alat Pengumpulan Data
a.       Butir soal tes siklus I,
b.      Lembar observasi siklus Idan siklus II
c.       Panduan angket
E.     Validasi Data
1.      Validasi hasil belajar
Validasi hasil belajar dikenakan pada instrumen penelitian yang berupa tes. Validasi ini meliputi validasi teoretis dan validasi empiris. Validasi teoretis artinya mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas tampilan tes, validitas isi dan validitas kostruksi.
Validitas empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butis soal, kunci jawaban dan kriteria pemberian skor.
2.      Validasi proses pembelajaran
Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan observasi terhadap subyek penelitian yaitu siswa kelas V SD Negeri  2 Rantau  Selamat  dan kolaborasi dengan guru kelas.
Triangulasi metode dilakukan dengan penggunaan metode dokumentasi selain metode observasi. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung yang diperlukan dalam proses pembelajaran.

F.     Analisis  Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi:
  1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II.
  2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II

G.    Indikator Kinerja
Kesimpulan diambil setelah peneliti melakukan proses pembelajaran di kelas sesuai dengan materi yang diajarakan.
Adapun indikator kinerjanya adalah sebagai berikut:
1.      Data hasil tes awal dan tes akhir
·        Jawaban benar diberi nilai 10 (sepuluh), siswa ngan mdianggap memahami konsep. Jawaban yang salah diberi nilai 0 (nol), siswa dianggap belum memahami konsep.
·        Menentukan persentase rata-rata kelas dari keseluruhan jumlah siswa dengan memakai rumusan sebagai berikut:
R = ∑N
         N  
Keterangan :      
∑N      =          total nilai yang diperoleh siswa
N         =          jumlah siswa
R         =          nilai rata-rata
(Warkitri, 1999)
·        Skor yang diperoleh siswa dihitung presentase KKM dengan menghitung rumus
·        Peningkatan rata-rata setiap siklus dapat dihitung indeks dengan menggunakan rumus
2.      Data Hasil Observasi
Menentukan presentase jumlah siswa yang menjawab (Ya) atau (Tidak) pada lembar angket setiap aspek yang tertera pada lembar angket adalah sebagai berikut:
Jumlah siswa yang menjawab (ya) atau (tidak)  X 100%
Jumlah siswa seluruhnya


3.      Data Hasil Angket
Menentukan presentase jumlah siswa yang menjawab (Ya) atau (Tidak) pada lembar angket setiap aspek yang tertera pada lembar angket adalah sebagai berikut:
Jumlah siswa yang menjawab (ya) atau (tidak)  X 100%
Jumlah soal


Untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa setelah melaksanakan pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga, maka data tes yang ada dirata-ratakan, dikelompokan dan dipresentasekan, dihitung secara tepat untuk mendapatkan persen berdasarkan kriteria sebagai berikut:
81% - 100%    : Baik sekali
70% - 80%      : Baik
60% - 69%      : Cukup
40% - 59%      : Kurang
≤39%      : Sangat kurang
(Wardani, 2006:216)

H.    Prosedur Penelitian
Prosedur yang ditempuh dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Perencanaan
Penyusunan rencana pembelajaran pada pokok pembahasan pesawat sederhana yang berpedoman pada kompetensi dasar kurikulum (KTSP 2006) dan kurikulum tingkat satuan pendidikan SDN 2 Rantau Selamat , selanjutnya peneliti menerapkan rancangan pembelajaran yang telah memanfaatkan alat perada dalam pembelajaran IPA pada konsep pesawat sederhana.
2.      Siklus Penelitian
Siklus I
a.       Perencanaan
Pada tahap perencanaan, guru menyusun rencana pembelajaran IPA, yang berkaitan dengan indikator pada siklus I yaitu, pertama menjelaskan pengertian pesawat sederhana dan pengungkit, serta ciri-ciri pengungkit. Kedua mendemonstrasikan prinsip kerja pengungkit, ketiga mengidentifikasi pesawat sederhana jenis pengungkit, keempat mendemonstrasikan cara menggunakan pengungkit jenis pertama, pengungkit jenis kedua dan pengungkit jenis ketiga. Selanjutnya menjelaskan kegiatan sehari-hari yang menggunakan pengungkit jenis pertama, jenis kedua dan jenis ketiga. Perencanaan dibuat dalam bentuk Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) dilengkapi dengan lembar observasi guru, dan siswa, lembar angket siswa, dan lembar evaluasi.
b.      Pelaksanaan Tindakan
Guru melaksanakan proses pembelajaran dengan membahas topik pesawat sederhana dengan kompetensi dasar menjelaskan pesawat sederhana yang dapat membuat pekerja lebih mudah dan lebih cepat dan indikator pertama menjelaskan pengertian pesawat sederhana dan pengungkit, serta ciri-ciri pengungkit. Kedua mendemonstrasikan prinsip kerja pengungkit, ketiga mengidentifikasi pesawat sederhana jenis pengungkit, keempat mendemonstrasikan cara menggunakan pengungkit jenis pertama, pengungkit jenis kedua dan pengungkit jenis ketiga. Selanjutnya menjelaskan kegiatan sehari-hari yang menggunakan pengungkit jenis pertama, jenis kedua dan jenis ketiga.
c.       Observasi
Dalam pelaksanaan observasi proses pembelajaran IPA, peneliti dibantu dengan teman sejawat. Adapun sasaran observasi adalah kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan pemanfaatan alat peraga yang di dalamnya terdapat pula ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab untk satu kali pertemuan (2 X 35 menit). Instrumen yang digunakan untuk mengamati kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran adalah lembar observasi guru dan lembar observasi siswa. Tugas observer adalah mengamati kegiatan guru dan observer kedua mengamati kegiatan siswa.
d.      Refleksi
Refleksi menerapkan kegiatan menganalisis terhadap semua informasi yang diperoleh observer dan hasil angket. Peneliti dan observer mendiskusi hasil proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari data hasil observasi observer dan hasil observasi peneliti terhadap siswa, mengenai topik pesawat sederhana, maka diperoleh gambaran tentang pembelajaran IPA yang dilakukan dengan data tersebut, respon siswa pada pelaksanaan pembelajaran siklus I cukup bagus. Hal ini terlihat dari hasil LKS yang meningkat dari pretes. Peneliti dapat menetukan langkah berikutnya yaitu memperbaiki proses pembelajaran dan menyusun tindakan untuk  siklus ke II.

Siklus II
a.       Perencanaan
Setelah diperoleh gambaran dari siklus I, maka peneliti kembali merancang pelaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga dengan topik yang sama yaitu pesawat sederhana. Kompetensi dasar yang diambil masih sama dengan siklus I, tetapi dengan indikator yang berbeda. Adapun indikator yang akan diambil pada tahap ini, yaitu: pertama menyebutkan pengertian dari bidang mirip, roda dan katrol, kedua mengidentifikasi kegiatan sehari-hari yang menggunakan bidang mirip, roda dan katrol, ketiga mendemonstrasikan cara kerja bidang mirip, roda dan katrol.
b.      Pelaksanaan Tindakan
Guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat dengan memperbaiki kekurangan dari proses pembelajaran pada siklus ke I. Guru melaksanakan proses pembelajaran dengan membahas topik yang sama dengan siklus I yaitu mengenai pesawat sederhana. Pembelajaran dilengkapi alat peraga. Kemudian membentuk kelompok belajar untuk mengerjakan LKS. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Pada tindakan kedua proses pembelajaran IPA dengan pemanfaatan alat peraga dilaksanakan di luar ruangan/lapangan. Setiap siswa dipersilahkan maju ke depan untuk mendemonstrasikan katrol tetap yang disimpan pada tiang bendera.
c.       Observasi
Observasi dilaksanakan ketika proses pembelajaran IPA berlangsung dengan dibantu oleh teman sejawat. Sasaran observasi adalah kegiatan guru dan keaktifan siswa ketika mengerjakan LKS setelah mendemonstrasikan alat peraga konkrit.
d.      Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti kembali melakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan temuan dari proses pembelajaran IPA yang berlangsung pada siklus I. Dengan data yang diperoleh peneliti dapat membuat kesimpulan serta membuat laporan hasil penelitian yang telah dilaksanakan.
Prosedur penelitian dapat digambarkan melalui alur penelitian sebagai berikut:
Gambar 3.1 Alur Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas
Model Kemmis dan Mc. Taggart (Arikunto, 2006:20)
                                                                                                 



 
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Kondisi Awal
Untuk mengetahui proses pembelajaran IPA di kelas V SDN 2 Rantau Selamat Kecamatan Rantau Selamat Kabupaten Aceh Timur sebelum melaksanakan tindakan peneliti melakukan observasi tentang proses pembelajaran IPA. Sebelum mulai menyampaikan materi pelajaran inti, guru memulai dengan kegiatan awal berupa apersepsi, dilanjutkan dengan kegiatan inti dengan menggunakan metode ceramah serta diselingi dengan tanya jawab dan terakhir guru mengadakan evaluasi.
Hasil temuan peneliti pada observasi awal di kelas V, pada umumnya siswa kurang memperhatikan pelajaran dengan serius, masih banyak siswa lebih suka bercanda dan ngobrol dengan temanya, karena siswa merasakan bahwa pembelajaran yang diberikan oleh guru sangat membosankan.
Data hasil yang diperoleh pada pretes nilai rata-rata siswa adalah 55,2 dan presentase pencapaian nilai siswa yang mendapatkan nilai di atas 63 adalah 28% dengan jumlah 7 orang siswa .
Hasil belajar pada kondisi awal dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1. Ketuntasan Belajar Hasil Tes Kondisi Awal
No
Hasil Tes akhir
Jumlah
Presentase
1.
Siswa yang tuntas
7
28 %
2.
Siswa yang tidak tuntas
18
72 %



28
 
 
Table 4.2  Nilai Hasil Tes Kondisi Awal
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
80
2
Nilai Terendah
30
3
Jumlah Nilai
1380
4
Nilai Rata-rata
55,2

Berdasarkan data pada tabel di atas, diketahui bahwa siswa kelas V yang belum mencapai ketuntasan belajar minimum (KKM) dari 6,3 untuk materi pesawat sederhana sebanyak 18 siswa (72 %) .Sedangkan yang telah mencapai ketuntasan hanya 7 siswa ( 28 %) , hal  dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Text Box: 5   10  15   20  25   30  35Text Box: Jumlah  Siswa


                
Tuntas
 
                                                                                                                        


Tdk Tuntas
 


Gambar 4.1. Grafik Ketuntasan Belajar Kondisi Awal
                 

B.     Deskripsi Tindakan dan Hasil Penelitian Siklus I
1.           Perencanaan
Rencana tindakan pembelajaran pada siklus I berisi tentang kegiatan materi pembelajaran yang akan dibahas yakni pembelajaran konsep pesawat sederhana dengan topic pengungkit dengan pemanfaatan alat peraga. Sebelum melakukan pembelajaran terlebih dahulu peneliti menyusun langkah-langkah sebagai berikut: pertama penyusunan rencana pembelljaran pada pokok pembahasan pesawat sederhana yang berpedoman pada kompetensi dasar kurikulum (KTSP 2006) dan kurikulum tingkat satuan pendidikan SDN 2 Rantau Selamat, kedua peneliti menerapkan rancangan pembelajaran yang telah memanfaatkan alat peraga dalam pembelajaran IPA pada konsep pesawat sederhana topic pengungkit, ketiga peneliti membuat pedoman observasi kegiatan guru dan siswa untuk mengamati selama proses pembelajaran berlangsung, keempat peneliti membuat pedoman angket siswa untuk mengetahui repon siswa selama proses pembelajaran berlangsung, kelima peneliti menyusun soal-soal tes (pretes dan postes) untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa
  1. Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus I membahas materi pokok tentang pesawat sederhana dengan indicator sebagai berikut: pertama menjelaskan pengertian pesawat sederhana dan pengungkit, serta ciri-ciri pengungkit. Kedua mendemonstrasikan prinsip kerja pengungkit, ketiga mengidentifikasi pesawat sederhana jenis pengungkit, keempat mendemonstrasikan cara menggunakan pengungkit jenis pertama, pengungkit jenis kedua dan pengungkit jenis ketiga. Selanjutnya menjelaskan kegiatan sehari-hari yang menggunakan pengungkit jenis pertama, jenis kedua dan jenis ketiga. Siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan, setiap pertemuan 2 x 35 menit jam pelajaran, dan dilaksanakannya pada hari jum’at, 12 Februari 2010. dan jum’at 19 Februari 2010. Kegiatan pembelajaran pada siklus I diawali dengan guru (peneliti) memasuki ruangan kelas dan mengucapkan salam yang melanjutkan dengan mengabsen siswa untuk mengetahui kehadiran siswa. Kemudian guru memberi motivasi pada siswa yang berkaitan dengan materi. Sebelum melaksanakan pembelajaran guru mengkondisikan kelas terlebih dahulu supaya siswa siap untuk mengikuti pembelajaran IPA dengan menyuruh siswa mempersiapkan alat yang telah dibawanya sebagai penunjang pembelajaran. Karena pada siklus I guru mengadakan dua pertemuan, maka pada pertemuan pertama guru memberikan pretes sebelum melakukan PBM untuk mengetahui hasil siswa sebelum menggunakan alat peraga. Dan pertemuan kedua guru mengecek tugas rumah atau PR yang telah diberikan pada pertemuan pertama. Kemudian guru menginformasikan tujuan pembelajaran dan garis besar kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran.
Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan inti, pembelajaran siklus I, pertemuan pertama dilaksanakan guru dengan pemanfaatan alat peraga pembelajaran IPA untuk SD mengenai prinsip kerja pengungkit, dan pada pertemuan kedua pembelajaran IPA dilaksanakan mengenai cara kerja pengungkit jenis pertama, pengungkit jenis kedua, pengungkit jenis ketiga.
Untuk memfokuskan perhatian siswa guru membagikan lembar berisi pertanyaan pengarah (LKS) yang berhubungan dengan materi pengungkit. Ketika pembelajaran berlangsung guru menyuruh siswa untuk mengajukan pertanyaan apabila ada hal-hal yang belum mereka pahami. Siswa mendemonstrasikan prinsip kerja pengungkit, dan cara kerja pengungkit jenis pertama, pengungkit jenis kedua, dan pengungkit jenis ketiga dengan alat peraga yang telah dibawanya sambil mengisi Lembar Kerja Siswa (LKS) dan sesakali ada siswa yang bertanya kepada guru tentang materi yang kurang mereka pahami.
Agar materi yang bersangkutan dengan indikator pembelajaran lebih siswa pahami, guru meminta tiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya, sedangkan kelompok lain diminta menanggapi jawabannya. Selanjutnya guru melakukan penguatan mengenai jawaban yang benar.
Pada akhir pembelajaran siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah dibahas, pada pertemuan pertama guru tidak melakukan postes, melainkan guru hanya memberikan tugas atau PR agar siswa tetap mengingat materi yang telah dipelajari, dan guru mengadakan tes tertulis (postes) berupa soal isian singkat sebanyak 10 pertanyaan pada pertemuan kedua. Sebelum menutup pembelajaran, guru menginformasikan materi pembelajaran pertemuan selanjutnya tentang pesawat sederhana jenis bidang miring, roda dan katrol.
  1. Observasi
Observasi pada siklus I yang diamati :
a.       Kegiatan Guru
Pada saat membuka pelajaran guru memotivasi siswa dengan memperlihatkan gambar jenis-jenis pengungkit yang akan mendukung proses pembelajaran, sambil mengajukan pertanyaan “menggunakan apakah ibu kamu di rumah bila ingin memotong baju?”. Selanjutnya guru melakukan apersepsi, dan mengkondisikan siswa dalam situasi yang kondusif, serta guru memberitahu bahwa pertemuan ini akan membahas konsep pesawat sederhana dengan topic pengungkit. Pada saat melakukan pengamatan siswa diminta untuk mencatat hasil pengamatannya tentang prinsip kerja pengungkit dan cara kerja pengungkit jeins pertama, kedua, dan ketiga pada LKS yang telah disediakan. Ternyata ada kelompok yang tidak membawa benda-benda yang akan digunakan untuk melakukan demonstrasi tersebut.
Pada siklus I pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru/peneliti dengan pemanfaatan alat peraga dan metode demonstrasi dan diskusi kelas. Dalam hal ini guru banyak terlibat untuk melakukan bimbingan cara melakukan diskusi yang baik pada setiap kelompok, dan cara mendemonstrasikan alat peraga. Guru memberi contoh dan menjelaskan tata cara diskusi dengan terperinci, siswa dibimbing untuk melakukan demonstrasi. Bimbingan yang dilakukan guru pada siswa sangat menyita waktu untuk pelaksanaan dalam siklus I.
Pada akhir siklus I, guru emminta siswa untuk mengumpulkan hasil diskusi, dan melakukan Tanya jawab. Kemudian guru melaksanakan tes tertulis pada siswa, serta memberikan tugas rumah. Untuk mendukung pembelajaran berikutnya guru meminta kepada ketua kelompok untuk mengatur anggotanya agar membawa alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembelajaran berikutnya.

b.      Kegiatan Siswa
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat bahwa dalam siklus I pemahaman atau penguasaan materi siswa cukup, hanya saja dalam diskusi kelas dan kemampuan melaporkan hasil diskusi masih kurang ini semua dikarenakan bahwa tidak semua siswa mengeluarkan pendapatnya, dan masih ada beberapa siswa yang hanya mengobrol saja dengan temannya.
Respon siswa ketika proses pembelajaran cukup bagus. Siswa terlihat senang saat belajar, siswa antusias mengerjakan urutan kegiatan yang ada pada LKS. Pada saat kegiatan diskusi kelompok, siswa terlibat, siswa dapat mengemukan pendapat untuk menyelesaikan masalah yang diajukan oleh gur/peneliti. Kegiatan diskusi kelompok masih mendapatkan bimbingan dari guru, karena ada beberapa siswa yang hanya asyik dengan benda-benda yang dipergunakan untuk melakukan demonstrasi, dan ada juga siswa yang hanya bersendau asyik dengan kegiatan masing-masing, sehingga waktu yang digunakan tidak efektif karena dalam melakukan diskusi kelompok memerlukan waktu yang sangat banyak. Tetapi secara keseluruhan kegiatan diskusi berjalan aktif.
Respon siswa saat proses pembelajaran siklus I cukup baik, walaupun baru mencapai 65,3% dari siswa yang mengikuti pembelajaran memeberikan tanggapan yang positif, sedangkan 34,7% dari jumlah siswa kurang memberikan tanggapan yang positif.
Adapun analisis observasi atau temuan-temuan selama pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut: pertama perencanaan, pada proses pembelajaran siklus I peneliti dibantu oleh observer yang bertugas melakukan pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung agar dapat mengetahui kondisi nyata pelaksanaan tindakan yang mencakup tindakan siklus I dilaksanakan sesuai rencana pembelajaran, hal ini bertujuan untuk menjaring data dari kegiatan proses pembelajaran IPA. Sebagai pelaksanaan penelitian tindakan kelas, maka digunakan pedoman observasi kegiatan belajar sebagai pengumpul data tentang aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran IPA dengan pemanfaatan alat peraga. Dalam penelitian tindakan kelas guru (peneliti) dibantu dengan rekan sejawat yang bertindak sebagai observer. Observer melakukan penilaian terhadap kegiatan guru selama proses pembelajaran, dan melakukan penilaian terhadap kegiatan siswa selama proses pemebelajaran.
Kedua analisis observasi saat pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, berdasarkan yang observer dapat ditemukan saat kegiatan guru adalah satu, waktu yang digunakan untuk seluruh pembelajaran siklus I kurang efektif karena melebihi waktu yang direncanakan, kedua belum bisa mengoptimalkan diskusi kelompok dan diskusi kelas, ketiga sudah memberikan motivasi dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, keempat belum dapat menoptimalkan kegiatan yang positif, dan kelima belum dapat emngoptimalkan keaktifan dan kreativitas siswa. Observasi kegiatan siswa ialah pertama masih ada yang nilainya belum mencapai KKM atau di bawah 63, kedua pemahaman siswa terhadap petunjuk dalam melakukan diskusi dan pengisian LKS sangat kurang sehingga siswa menanyakan pertanyaan yang sama secara berulang-ulang, ketiga kegiatan kelompok pada saat diskusi masih didominasi oleh ketua kelompok atau siswa yang dianggap pintr, keempat beberapa orang tampak bermain-main dengan media pembelajaran walaupun mendemonstrasikan alat peraga sudah selesai, kelima siswa rata-rata tidak berani mengemukakan pendapat atau pertanyaan dalam diskusi kelas, keenam kemampuan siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masih sangat kurang.
Berdasarkan dari temuan-temuan yang didapatkan dari kegiatan guru dan kegiatan siswa maka dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus I belum berhasil walaupun dapat dikategorikan cukup, karena masih ada beberapa siswa yang lupa membawa alat peraga yang akan didemonstrasikan, dan dalam mendemonstrasikan serta mengisi LKS tidak semua siswa terlibat masih banyak siswa yang bercanda dengan temanya.
c.       Hasil Belajar
Hasil belajar yang diamati adalah yang tuntas dan yang tidak tuntas. Untuk memperjelas data  hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel  berikut ini:

Tabel 4.3. Ketuntasan Belajar Hasil Tes Siklus I

No
Hasil Tes akhir
Jumlah
Presentase
1.
Siswa yang tuntas
15
60 %
2.
Siswa yang tidak tuntas
10
40 %

Table 4.4  Nilai Hasil Tes Siklus I
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
90
2
Nilai Terendah
50
3
Jumlah Nilai
1760
4
Nilai Rata-rata
70,4

Dari hasil tes akhir siklus I pada tabel diatas dapat dilihat, dari 25 orang siswa, 10 orang atau (40% ) sudah tuntas belajarnya dan 15 orang atau (60 %) belum tuntas belajarnya. Rata-rata hasil belajar  70,4 Ketuntasan belajar siswa siklus I dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Text Box: 5   10  15   20  25   30  35Text Box: Jumlah  Siswa


                
Tuntas
 
                                                                                                                        













Tdk Tuntas
 


Gambar 4.2. Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I
                 

  1. Refleksi
Berdasarkan nilai diskusi yang dilakukan dengan guru beserta observer, setelah pembelajaran siklus I selesai dilaksanakan, secara umum pembelajaran dapat dikatakan cukup baik walaupun belum optimal dan masih banyak kekurangannya. Dengan siswa lebih memahami materi, maka cukup terbantu untuk menguasai konsep-konsep yang ada dalam materi pembelajaran. Dengan peneliti mengevaluasi dan merefleksi selama pelaksanaan penellitina tindakan kelas pada siklus I, maka peneliti merencanakan tindakan kelas pada siklus II, sebagai berikut:
Tabel 4.5
Refleksi Terhadap Pembelajaran Siklus I

Indikator Guru
Indikator Siswa
Refleksi untuk Tindakan Pembelajaran Siklus I
1.   Waktu yang digunakan utnuk seluruh pembelajaran siklus I, kurang efektif karena melebihi waktu yang yang direncanakan, kelebihan waktu yang terjadi karena pada saat siswa mengerjakan pretes, pembagian kelompok dan saat mengerjakan LKS.
2.         Belum bisa menoptimalkan diskusi kelompok dan diskusi kelas.
3.         Sudah memberikan motivasi dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
4.         Belum dapat menoptimalkan kegiatan yang positif.
5.         Belum dapat mengoptimalkan keaktifan dan kreativitas siswa.

1.   Masih ada siswa yang nialinya belum mencapai KKM atau dibawah 63.
2.   Pemahaman siswa terhadap petunjuk dalam melakukan diskusi dan mengisi LKS sangat kurnag sehingga siswa menanyakan pertanyaan yang sama secara berulang-ulang.
3.   Kegaitan kelompok pada saat diskusi masih didominasi oleh ketua kelompok atau siswa tertentu yang dianggap pintar.
4.   Beberapa orang siswa tampak bermain-main dengan media pembelajaran walaupun mendemonstrasikan alat peraga sudah selesai.
5.   Siswa rat-rata tidak berani mengemukankan pendapat atau pertanyaan dalam diskusi kelas.
6.   Kemampuan siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masih sangat kurang.
1.   Untuk mengefektifitas waktu dapat dilakukan tindakan menata kembali penggunaan waktu tiap langkah-langkah pembelajaran secara proporsional dan dilaksanakan secara konsisten.
2.   Untuk dapat membantu siswa yang nilainya belum mencapai 63, maka pada siklus II guru/peneliti akan lebih mengoptimalkan bimbingan dan arahan dalam pengisian LKS.
3.   Agar siswa lebih memahami petunjuk dalam melakukan demonstrasi alat peraga, maka penulisan petunjuk cara melakukan demonstrasi dengan alat peraga dibuat dengan bahawasa yang lebihb mudah dipahami siswa.
4.   Pemerataan aktivitas dalam kelompok dapat diatasi dengan tindakan monitoring dan bimbingan yang lebih intensif dan merata kepada setiap kelompok.
5.   Agar tidak ada siswa yang bermain-main dengan media pembelajaran, diatasi dengan memberikan pemahaman bahwa hal tersebut dapat mengurangi penilaian kelompok.
6.   Guru berusaha membimbing siswa dan berusaha menumbuhkan keberanian pada diri siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
7.   Untuk meningkatan respon siswa, maka guru/peneliti merancang pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa saat melakukan kegiatan individu maupun kegiatan kelompok.

C.      Deskripsi Tindakan dan Hasil Penelitian Siklus II
1.      Perencanaan
Kegiatan ini dilakukan dengan menganalisis siklus I, maka disusunlah suatu pembelajaran sains dengan menekan pada perbaikan-perbaiakn dalam pembelajaran dari hasil refleksi siklus I. Adapun materi yang disampaikan adalah mengenai konsep pesawat sederhana dengan topic bidang miring, roda  katrol dengan pemanfaatan alat peraga. Seting kelas yang digunakan adalah membuat kelompok menjadi lima kelompok yang setiap kelompok beranggotakan ada lima orang siswa.
2.        Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus II membahas materi pokok tentang pesawat sederhana dengan indicator sebagai berikut: (a) menyebutkan pengertian dari bidang miring, roda dan katrol (b) mengidentifikasi kegiatan yang menggunakan bidang miring, roda dan katrol, (c) mendemonstrasikan cara kerja bidang miring, roda dan katrol bidang miring, roda dan katrol. Siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan, setiap pertemuan 2 x 35 menit dua jam pelajaran, dan dilaksanakannya pada hari Jum’at, 5 Maret 2010 dan 12 Maret 2010.
Kegiatan pembelajaran pada siklus II diawali dengan guru mengkondisikan siswa dalam situasi belajar yang kondusif. Guru mengecek soal atau pekerjaan rumah yang telah diberikan. Guru memberikan pretes pada pertemuan pertama, sedangkan pada pertemuan kedua, dan pertemuan ketiga guru hanya memberikan pekerjaan rumah. Guru mengadakan apaersepsi. Kemudian guru menginformasikan tujuan pembelajaran dan garis besar yang akan dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran.
Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan inti, pembelajaran siklus II, tindakan pertama dilaksanakan guru dengan pemanfaatan alat peraga, pembelajaran IPA, dengan guru memotivasi siswa dengan memperlihatkan gambar-gambar orang sedang menaikan barang ke atas truk dan orang sedang naik tangga sambil mengajukan pertanyaan “Apakah kamu pernah melakuan pekerjaan seperti yang ada digambar ini?” guru meminta siswa untuk menyebutkan gambar-gambar yang telah diperlihatkan, alat-alat berat yang ada digambar ini?” guru meminta siswa untuk menyebutkan gambar-gambar yang telah diperlihatkan. Pada tindakan kedua siswa dibawa keluar ruangan untuk mendemonstrasikan cara kerja katrol. Guru  memotivasi siswa dengan memperlihatkan gambar alat-alat teknologi yang menggunakan alat bantu katrol  sambil mengajukan pertanyaan “Apakah kamu pernah melihat alat-alat berat yang ada digambar ini?”  Guru meminta siswa untuk menyebutkan gambar-gambar yang telah diperlihatkan, Guru meminta siswa untuk berkelompok dengan kelompok yang sudah di bentuk dan pemberian nama kelompok berdasarkan pesawat sederhana misalnya gunting, jungkat-jungkit dan sebagainya, tiap kelompok berjumlah 5 orang. Tiap kelompok diminta untuk mempersiapkan alat peraga masing-masing yang telah dibawanya, dan mendemonstrasikan cara kerja alat peraga tersebut. Guru membimbing siswa dalam berdiskusi dengan memberikan LKS. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan perwakilan ketua kelompok masing-masing. Setiap kelompok diminta untuk menanggapi hasil dari kelompok lain. Guru bertanya kepada siswa tentang kegiatan-kegiatan yang menggunakan bidang miring, roda. Dari berbagai jawaban guru menjelaskan bahwa roda sangat dibutuhkan untuk meringankan pekerjaan. Setiap kelompok diminta membuat laporan hasil diskusi dengan bimbingan guru.  Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang telah dipelajarinya. Guru memberikan penjelasan berdasarkan pertanyaan yang dikemukakan siswa. Guru bersama siswa membuat kesimpulan.
Pada akhir pembelajaran siswa diminta mengumpulkan laporan diskusinya, pada pertemuan pertama guru tidak melakukan postes, dan guru mengadakan tes tertulis (postes) berupa soal isisan singkat sebanyak 10 pertanyaan pada pertemuan kedua. Setelah pelaksanaan pembelajaran tindakan siklus II dapat menghasilkan data berupa nilai pretes dan postes. Data tersebut dapat diperoleh melalui pretes dan postes yang telah dilakukan siswa.
3.      Observasi
            Observasi pada siklus II yang diamati:
a.       Kegiatan Guru
Pada saat membuka pelajaran guru memotivasi siswa dengan memperlihatkan gambar bidang miring, roda dan katrol yang akan mendukung proses pembelajaran, sambil mengajukan pertanyaan “Apakah kamu sering melakukan kegiatan yang ada pada gambar tersebut?”. Selanjutnya guru mengkondisikan siswa dengan situasi belajar yang kondusif, mengecek soal-soal pekerjaan rumah, dan melakukan apersepsi, serta guru memberitahu bahwa pertemuan ini akan membahas pesawat sederhana dengan topic bidang miring, roda dan katrol. Pada saat melakukan pengamatan siswa diminta untuk mencatat hasil pengamatannya tentang cara kerja bidang miring, roda dan katrol pada LKS yang telah disediakan.
Pada siklus II pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru/peneliti dengan pemanfaatan alat peraga dan metode demonstrasi dan diskusi kelas. Pada pembelajaran siklus II ini guru masih tetap terlibat untuk melakukan bimbingan cara melakukan diskusi yang baik pada setiap kelompok, dan cara mendemonstrasikan alat peraga. Guru memberi contoh dan menjelaskan tata cara diskusi dengan terperinci, siswa dibimbing untuk melakukan demonstrasi. Bimbingan yang dilakukan guru pada siswa lebih terarah dibandingkan pada siklus I.
b.      Kegiatan Siswa
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan teman sejawat bahwa dalam siklus II pemahaman atau penguasaan materi siswa baik sekali, dalam diskusi kelas dan kemampuan melaporkan hasil diskusi sudah baik, semua siswa mengeluarkan pendapatnya, dalam mengisi LKS siswa mendapat tugas sendiri-sendiri sehingga tidak ada siswa yang saling berebut untuk mengisi LKS.
Respon siswa ketika proses pembeljaran baik sekali. Siswa terlihat senang saat belajar, siswa antusias mengerjakan urutan kegiatan yang ada pada LKS. Pada saat kegiatan diskusi kelompok, siswa terlibat, siswa dapat mengemukakan pendapatnya untuk menyelesaikan masalah yang diajukan oleh guru/peneliti. Kegiatan diskusi kelompok sudah baik sekali.
 Respon siswa saat proses pembelajaran pada siklus II sangat baik sekali, yaitu mencapai 100% semua siswa yang mengikuti pembelajaran memberikan tanggapan yang positif.
Adapun temuan-temuan selama tindakan saat perencanaan, pada proses siklus II peneliti dibantu oleh observer yang bertugas melakukan pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung agar dapat mengetahui kondisi nyata pelaksanaan tindakan yang mencakup tindakan siklus II dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran, hal ini bertujuan untuk menjaring data dari kegiatan proses pembelajaran IPA yang lebih efektif dari siklus I. Sebagai pelaksanaan peneliti tindakan kelas, maka digunakan pedoman observasi dalam kegiatan belajar sebagai pengumpul data tentang aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran IPA dengan pemanfaatan alat peraga.
Dalam penelitian tindakan kelas guru (peneliti) menggunakan dua rekan sejawat yang bertindak sebagai observer. Observer pertama melakukan penilaian terhadap kegiatan guru selama proses pembeljaran, sedangkan observer kedua melakukan penilaian terhadap kegiatan siswa selama proses pembelajaran.
Temuan-temuan saat pelaksanaan pembelajaran pada siklus II berdasarkan yang observer lakukan dapat ditemukan sebagai berikut: pertama pada kegiatan guru (1) waktu yang digunakan untuk seluruh pembelajaran siklus II  sudah efektif, (2) sudah bisa mengoptimalkan diskusi kelompok dan diskusi kelas, (3) sudah memberikan motivasi dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, (4) sudah dapat mengoptimalkan kegiatan yang positif, (5)sudah dapat mengoptimalkan keaktifan dan kreativitas siswa. Kedua temuan-temuan pada kegiatan siswa ialah (1) semua siswa yang nilainya sudah mencapai KKM atau di atas 63, (2) pemahaman siswa terhadap petunjuk dalam melakukan diskusi dan mengisi LKS masih sudah optimal, (3) kegiatan kelompok pada saat diskusi semua siswa sudah terlibat dengan baik,, (4) siswa dengan antusias dalam mengemukakan pendapat atau pertanyaan dalam diskusi kelas, (5) kemampuan siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya sangat baik.
Berdasarkan hasil temuan-temuan yang didapatkan dari kegiatan guru dan kegiatan siswa maka, dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus II dapat dikategorikan baik, walaupun masih ada sisa yang nialinya belum mencapai KKM, dan pada saat pengisian LKS siswa berebut sehingga menimbulkan kkurang keharmonisan dalam diskusi kelompok
c.       Hasil Belajar
Hasil belajar siklus II yang diamati adalah yang tuntas dan yang tidak tuntas. Untuk memperjelas data hasil tes siklus II dapat dilihat pada tabel  berikut ini:
Tabel 4.6. Ketuntasan Belajar Hasil Tes Siklus II
No
Hasil Tes akhir
Jumlah
Presentase
1.
Siswa yang tuntas
24
96 %
2.
Siswa yang tidak tuntas
1
4 %



Table 4.7. Nilai Hasil Tes Siklus II
No
Keterangan
Nilai
1
Nilai Tertinggi
100
2
Nilai Terendah
60
3
Jumlah Nilai
2200
4
Nilai Rata-rata
88

Dari hasil tes siklus II pada tabel diatas dapat dilihat, dari 25 orang siswa,24 orang (96%) sudah tuntas belajarnya dan hanya 1 orang (4 %) belum tuntas belajarnya. Rata-rata hasil belajar adalah 88 Ketuntasan belajar siklus I dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Text Box: 5   10  15   20  25   30  35Text Box: Jumlah  Siswa


                 
Tuntas
 
                                                                                                                        








Tdk Tuntas
 
Gambar 4.3. Grafik Ketuntasan Belajar Siklus II

 
                                                                                                   


4.      Refleksi
Berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan dengan guru kelas beserta observer, setelah pembelajaran siklus II selesai dilaksanakan, secara umum pembelajaran dapat dikatakan baik sekali dan sudah optimal. Dengan siswa lebih memahami materi, maka cukup terbantu untuk emnguasai konsep-konsep yang ada dalam materi pembelajaran.
Dengan guru/peneliti mengevaluasi dan merefleksi selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus II, maka peneliti dapat membuat kesimpulanI sebagai berikut:
Tabel 4.8
Refleksi Pembelajaran Siklus II

Indikator Guru
Indikator Siswa
Refleksi untuk Tindakan Pembelajaran Siklus III
1.   Waktu yang digunakan utnuk seluruh pembelajaran siklus III, sudah efektif
2.   Sudah  bisa mengoptimalkan diskusi kelompok dan diskusi kelas.
3.   Sudah memberikan motivasi dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
4.   Sudah dapat mengoptimalkan kegiatan yang positif.
5.   Sudah dapat mengoptimalkan keaktifan dan kreativitas siswa.

1.    Semua siswa yang nialinya sudah mencapai KKM atau dibawah 63.
2.    Pemahaman siswa terhadap petunjuk dalam melakukan diskusi dan mengisi LKS sudah optimal.
3.    Kegaitan kelompok pada saat diskusi semua siswa sudah terlibat, dengan baik.
4.    Siswa dengan antusias dalam mengemukakan pendapat atau pertanyaan dalam diskusi kelas..
5.    Kemampuan siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya sangat baik.
1.   Guru harus mempertahankan kegiatan positif seperti memuji siswa, memberikan penghargaan pada siswa supaya pembelajaran dapat menyenangkan.
2.   Dengan mengevaluasi dan merefleksi hasil temuan pembelajaran siklus III, maka guru dapat membuat kesimpulan bahwa pembelajaran IPA konsep pesawat sederhana dengan pemanfaatan alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

D.    Pembahasan Tiap Siklus Dan Antar Siklus
1.      Hasil Belajar
Dari dua siklus yang telah dilakukan, hasil belajar siswa sudah mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Pembelajaran matematika materi operasi hitung bilangan sudah mencapai ketuntasan yang diharapkan, yang terjadi pada siklus II. Pada kondisi awal nilai rata-rata siswa pada pelajaran IPA khususnya pada materi operasi hitung bilangan sangat rendah, hanya mencapai 55,2 dengan ketuntsan belajar hanya sebesar 28 % .
Pada siklus I, sudah memberikan perubahan dibandingkan kondisi awal. Dengan alat peraga siswa terbantu dalam proses belajar dan tidak hanya dibayangkan jenis-jenis pengungkitnya. Hasil yang diperoleh pada siklus I ini masih cukup memuaskan karena dari 25 orang siswa, yang tuntas sebanyak 15 orang siswa (60%) sedangkan nilai rata-rata nya hanya 70,4..
Berdasarkan hasil observasi peneliti dengan pengamat atas hasil belajar siswa, maka peneliti dan pengamat kembali merencanakan untuk melanjutkan pada tindakan siklus II dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan. Dengan demikian kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I direncanakan pada siklus II menggunakan pemanfaatan alat peraga dan demonstrasi langsung oleh siswa.
Pada siklus kedua, hasil belajar siswa sangat mengembirakan peneliti, karena 24 dari 25siswa sudah tuntas hasil belajarnya atau (96 %) dengan nilai rata-rata tes siswa mencapai 88. Hal ini terlihat jelas dari siswa saat mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas dan mendemonstrasikan alat peraga. Peneliti lebih banyak mengadakan bimbingan dan berkeliling melihat hasil pekerjaan siswa. Dari wajah siswa terpancar bahwa mereka senang dengan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sikap optimis dari siswa terlihat, dari cara mereka berebut untuk menjawab pertanyaan. Hal ini disebabkan mereka sudah mulai paham dengan materi yang disajikan oleh peneliti. Pada saat ulangan harian dilaksanakan mereka bekerja dengan tenang dan penuh percaya diri, namun masih ada bebarapa orang siswa yang tidak tuntas menjawab pertanyaan. Pada siklus II ini terbukti, bahwa hasil belajar siswa meningkat mencapai hasil yang diharapkan dengan menggunakan alat peraga. Melalui alat peraga ini siswa dapat belajar lebih optimal melalui tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
Supaya lebih jelas gambaran peningkatan kegiatan siswa dan hasil belajar siswa dari kondisi awal, siklus I dan siklus II, dapat dilihat dan diperhatikan pada rekapitulasi tabel dan grafik ketuntasan belajar di bawah ini.
Tabel 4.9 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan II

No
Hasil Tes akhir
Siklus
Presentase
KA 
I
II
KA 
I
II
1.
Siswa yang tuntas
7
15
24
28 %
60 %
96 %
2.
Siswa yang tidak tuntas
18
10
1
72 %
40 %
4 %

Table 4.10 Rekapitulasi Nilai Rata-Rata Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan II

No
Keterangan
Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
1
Nilai Tertinggi
7
90
100
2
Nilai Terendah
4
50
60
3
Jumlah Nilai
1380
1760
2200
4
Nilai Rata-rata
55,2
70,4
88




Text Box: 5   10  15   20  25   30  35Text Box: Jumlah  Siswa


                
Tuntas
 
                                                                                                                        
Tdk Tuntas
 
Kondisi Awal
 
Gambar 4.4. Grafik Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Kondisi Awal , Siklus I dan II

 
Siklus II
 
Siklus I
 



2.      Observasi
Mulai dari siklus I hingga siklus II aktivitas guru/peneliti mengalami perubahan ke arah perbaikan guna meningkatkan mutu pembelajaran atau meningkatkan kompetensi guru. Kemampuan dari membuka pelajaran sudah cukup baik meskipun dari efektivitas waktu perlu perhatian memotivasi siswa setelah dilakukan dengan berbagai macam cara untuk emnumbuhkan minat siswa. Dalam membimbing kelompok pada saat melakukan diskusi telah dilakukan oleh guru/peneliti sesuai dengan peran guru. Saat diskusi keas pada siklus I guru mendominasi pembicaraan, pada sklus II mulai berangsuran kearah perbaikan sesuai dengan fungsi guru sebagai moderator dan fasilitator. Guru tidak hanya mengajar untuk menyampaikan gagasan atau konsep, melainkan sebagai suatu proses mengubah gagasan/konsep yang sudah ada pada diri anak yang mungkin salah. Hal ini sependapat dengan Dahar (1996:167) “Dalam pembelajaran gagasan yang sudah ada pada siswa dikembangkan dan berakhir dengan gagasan yang sudah termodifikasi”. Peningkatan presentasi belajar yang  tinggi ini disebabkan oleh adanya perubahan pola KBM yang berbeda dari yang biasa dilakukan. Jika sebelumnya siswa diberikan konsep-konsep yang dipelajari. Hal tersebut sesuai dengan prinsip belajar konstruktivisme (Arifin, 2000). Pengelolaan KBM yang dilakukan guru dengan pemanfaatan alat peraga menjadi proses belajar mengajar tidak terkesan monoton dan membosankan bagi siswa. Keterampilan menutup pelajaaran telah dilakukan oleh guru pada setiap siklus terus mengalami perbaikan. Hal ini untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa, dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar (Usman, 1995:92).
Aktivitas siswa dalam pembelajaran ini meliputi aktivitas dalam kegiatan pengamatan terhadap media pembelajaran, aktivitas siswa dalam diskusi kelompok. Pembelajaran IPA melalui diskusi kelompok maupun pengamatan terlihat aktivitas siswa meningkat. Aktivitas siswa dalam membuat laporan hasil pengamatan, mencari jawaban pertanyaan dalam LKS, dilakukan siswa dengan penuh perhatian, sehingga pembelajaran dirasakan lebih bermakna bagi siswa, karena siswa dihadapkan dengan objek asli dan didekatkan dengan kenyataan sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Poedjiadi (1996:128) “Melalui kegiatan praktek langsung siswa memiliki pengetahuan  dan keterampilan yang diperlukan untuk mengembangkan dirinya bagi kelangsungan hidupnya”.


3.      Angket Siswa
Respon siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran IPA sangat baik, hal ini terlihat dari lima aspek pertanyaan yang diberikan kepada siswa melalui angket dapat disimpulkan bahwa seluruh siswa menyenangi dan menyukai pembelajaran IPA yang dilaksanakan dengan pemanfaatan alat peraga. Sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran sangat baik

                                                                                                                                                  









 
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang peningkatan belajar IPA dalam konsep pesawat sederhana melalui pemanfaatan alat peraga”. Di keas V SDN 2 Rantau Selamat Kecamatan Rantau Selamat Kabupaten Aceh Timur, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Pertama rancangan kegiatan pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini anatara lain Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang dirancang sesuai dengan tahap-tahap yang digunakan dalam pemanfaatan alat peraga, lembar observasi guru dalam KBM, lembar observasi siswa, Lembar Kerja Siswa (LKS), serta media dan sumber belajar yang digunakan disesuaikan dengan materi yang dibahas yaitu tentang pesawat sederhana.
Kedua, pelaksanaan pembelajaran sebelum pemanfaatan alat peraga pada konsep pesawat sederhana, prestasi belajar siswa nilai rata-rata pada kondisi awal 55,2, siklus I sebesar 70,4, pada siklus II sebesar 88.
Ketiga, respon siswa selama pembelajaran berlangsung dijaring dengan lembar angket menunjukan peningkatan yang cukup baik pada siklus I mencapai sebesar 65,3% respon siswa, sedangkan pada siklus II mencapai sebesar 100%. Dengan demikian respon siswa menunjukan criteria baik sekali.




53
 
 
B.     Saran
Dengan mengidentifikasi hasil temuan penelitian dan pendahuluan, maka untuk menyempurnakan pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga dapat direkomendasikanhal-hal sebagai berikut:
1.      Dalam kegiatan pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga sebaiknya lebih menekan pada upaya pengembangan kemampuan memecahkan masalah melalui kegiatan aktif siswa dalam pengamatan hasil demontrasinya dan berdiskusi dengan kelompoknya.
2.      Peningkatan hasil belajar siswa pada konsep pesawat sederhana setelah pemanfaatan alat peraga mencapai sebesar 18,5%, peningkatan tersebut tidak begitu besar, ini semua dikarenakan pemanfaatan alat peraga ditepatkan pada konsep pesawat sederhana saja, dan juga waktu penyelenggaraan PTK sangat singkat, apabila pemanfaatan alat peraga dilakukan pada awal pembelajaran, dan ditetapkan pada semua mata pelajaran mungkin prestasi belajar siswa akan maksimal.
3.      Penelitian-penelitian lain dengan pemanfaatan alat peraga perlu dilakukan lebih lanjut dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih baik denagn pelaksanaan kegiatan yang lebih baik dan lebih terkordinasi sehingga dapat dijadikan contoh/alternative bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru di sekolah (di kelas).
4.      Analisis terhadap hasil belajar yang dicapai siswa dan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran menunjukan adanya hasil tersebut guru dapat mempertimbangkan untuk menerapkan pemanfaatan alat peraga.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, H.1981.Media Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta
Arikunto.2006.Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Dahar.1996.Teori-teori Belajar.Jakarta: Erlangga
Depdiknas.2006.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar Mata Pelajaran IPA SD/MI.Jakarta: Depdiknas

Depdiknas.2004.Kurikulum. Jakarta: Depdiknas
Nasution.1985.Alat Peraga dalam Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Poedjiadi.1996.Model Pembelajaran Konstektual Bermuatan Nilai.Bandung:Remaja Rosda Karya

Rohani, Ahmad.2006.Media Pembelajaran.Jakarta:Rineka Cipta
Suhardi.1978.Media Pembelajaran AVA. Depok:Arya Duta
Usman.1995.Menjadi Guru Profesional.Bandung:Remaja Rosda Karya
Wardani.2007.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka
Winaputra.1996.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Universitas Terbuka







 

No comments:

Post a Comment