Saturday, August 16, 2014

PTK : UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS DAN SIKAP SISWA KELAS III MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK PADA SD NEGERI ......... .............................................

PTK :

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS
DAN SIKAP SISWA KELAS III MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK PADA SD NEGERI .........
.............................................


BAB I

 
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
1
 
Upaya peningkatan kualitas pendidikan matematika di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pembaharuan kurikulum dan penyediaan perangkat pendukungnya seperti silabus, buku siswa, buku pedoman untuk guru, penyediaan alat peraga, dan memberikan pelatihan bagi guru-guru matematika. Namun berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil yang menggembirakan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di tanah air. Berbagai penelitian dan hasil survei mengungkapkan bahwa siswa di sekolah mempunyai kinerja yang kurang memuaskan dalam matematika. Misalnya, seperti dikutip dalam Kusumah (2008:2) mengenai data yang diperlihatkan oleh International Achievement Education (IAE) yang menyebutkan bahwa siswa SD di Indonesia menempati peringkat ke-38 dari 39 negara peserta; demikian pula yang dikutip dari hasil penelitian TIMSS-R (The Third International Mathematic and Science Study Repeat) tahun 2007 menyebutkan bahwa di antara 48 negara, prestasi siswa SMP Indonesia berada pada urutan 36 untuk matematika. Adapun hasil nilai matematika pada ujian nasional, pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu terpaku pada angka yang rendah. Padahal matematika sebagai ratunya ilmu sangat penting dikuasai oleh siswa dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin maju.
Bila dilihat dari hakikat matematika, matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika. Pada matematika diletakkan dasar bagaimana mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain (Suherman, 2003:298).
Ketika materi-materi matematika dipandang sebagai sekumpulan keterampilan yang tidak berhubungan satu sama lain, maka pembelajaran matematika hanya sebagai sebuah pengembangan keterampilan belaka. Matematika seharusnya dipandang secara fleksibel dan dapat memahami hubungan serta keterkaitan antara ide atau gagasan-gagasan matematika yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sesuai dengan salah satu standar kurikulum yang dikemukakan oleh NCTM (1989:84) bahwa matematika sebagai hubungan.
Pengembangan konsep dalam materi-materi matematika seyogyanya tidak dibatasi oleh topik yang sedang dibahas saja, melainkan dikaitkan pula dengan topik-topik yang relevan, bahkan dengan mata pelajaran lain jika memungkinkan secara terpadu. Pembelajaran matematika yang terpadu memfokuskan pada pendekatan pembelajaran antar topik bahkan jika memungkinkan antar mata pelajaran. Konsep pembelajaran matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar dan proses yang melibatkan pengembangan berpikir dan belajar. Karena secara umum, para siswa sulit untuk berpikir parsial tentang apa yang mereka pelajari, tetapi mereka cenderung memandang dunia sekitar secara holistik.
Pembelajaran matematika diharapkan berakhir dengan sebuah pemahaman siswa yang komprehensif dan holistik (lintas topik bahkan lintas mata pelajaran jika memungkinkan) tentang materi yang disajikan. Pemahaman siswa yang dimaksud tidak sekedar memenuhi tuntutan pembelajaran secara substantif saja, namun diharapkan muncul efek iringan dari pembelajaran matematika tersebut. Efek iringan tersebut diantaranya : 1) lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika yang lain (koneksi matematis); 2) lebih menyadari akan penting dan strategisnya matematika bagi bidang lain; 3) lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia; 4) lebih mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis; 5) lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah; dan 6) lebih peduli pada lingkungan sekitarnya.
Ketercapaian dua sasaran pembelajaran matematika secara substantif dan efek iringannya akan tercapai manakala siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar matematika secara komprehensif dan holistik. Titik berat pemberian materi pelajaran harus digeser menjadi pemberian kemampuan yang relevan dengan kebutuhan siswa untuk belajar.
Dalam pembelajaran matematika, seorang guru seyogyanya tidak menyekat secara ekstrim pelajaran matematika sebagai penyajian materi-materi matematika belaka. Hal ini akan mengakibatkan kemampuan koneksi matematis siswa terhambat, karena siswa tidak diberikan kesempatan untuk melihat keterkaitan-keterkaitan materi matematika dengan unsur lainnya. Topik-topik dalam matematika sebaiknya tidak disajikan sebagai materi secara parsial, tetapi harus diintegrasikan antara satu topik dengan topik lainnya, bahkan dengan mata pelajaran lain. Matematika harus diperkenalkan dan disajikan ke dalam kehidupan nyata. Menyajikan matematika hanya sebagai kumpulan fakta-fakta saja tidak akan menumbuhkan kebermaknaan dan hakikat matematika sebagai queen of the science dan sebagai pelayan bagi ilmu lain.
Mengajarkan matematika sekedar sebagai sebuah penyajian tentang fakta-fakta hanya akan membawa sekelompok orang menjadi penghapal yang baik, tidak cerdas melihat hubungan sebab akibat, tidak pandai memecahkan masalah. Padahal dalam menghadapi perubahan masa depan yang cepat, bukan pengetahuan saja yang diperlukan, tetapi kemampuan mengkaji dan berpikir (bernalar) secara logis, kritis dan sistematis.
Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya di SD  kelas rendah (1, 2 dan 3) dilakukan secara terpisah, misalnya IPA  2 jam pelajaran, Matematika 5 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 5 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu hanya mempelajari materi yang berhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (berpikir holistik), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik. Demikian juga untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran matematika yang terpisah kurang dapat mengembangkan kemampuan koneksi matematis para siswanya. Karena dengan pembelajaran matematika yang terpisah akan membuat kesulitan bagi anak dalam menemukan keterkaitan-keterkaitan antar mata pelajaran maupun dengan kehidupan sehari-harinya. Hal ini dapat dibuktikan dalam beberapa hal, diantaranya: siswa lebih mudah mengerjakan soal matematika yang berbentuk isian langsung daripada mengerjakan soal cerita. Di dalam soal cerita, selain siswa harus mampu menguasai materi matematika juga siswa dituntut untuk memahami bahasanya. Di sinilah letak kemampuan koneksi matematis diperlukan.
 Selain itu, dengan pelaksanaan pembelajaran yang terpisah,  muncul permasalahan pada kelas rendah (1, 2 dan 3) antara lain adalah tingginya angka mengulang kelas. Angka mengulang kelas siswa kelas I SD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain. Data tahun 2000/2001 yang disebutkan Balitbang Depdiknas dalam Buletin PADU (2005), memperlihatkan bahwa angka mengulang kelas pada kelas satu sebesar 11,46% sementara pada kelas dua 7,44%, kelas tiga 6,23%, kelas empat 4,71%, kelas lima 3,27%, dan kelas enam 0,41%.
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan di atas, perlu diterapkan sistem pembelajaran yang dapat memadukan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Sebagaimana disebutkan oleh Iskandar (Sukayati, 2004), bagi guru sekolah dasar kelas rendah yang siswanya masih berperilaku dan berpikir kongkrit, pembelajaran sebaiknya dirancang secara terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran. Dengan cara ini maka pembelajaran untuk siswa kelas rendah akan menjadi lebih bermakna, lebih utuh dan sangat kontekstual dengan dunia anak-anak. Alasan pertama yang mendasari hal ini adalah karena latar belakang empiris. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari tidak satupun fenomena alam yang terjadi secara terpisah atau berdiri sendiri, namun justru bersifat kompleks dan terpadu. Alasan kedua, yaitu tuntutan dan perkembangan IPTEK yang begitu pesat dan kompleks, secara ilmiah membutuhkan penyikapan secara realistis. Dengan demikian, peningkatan kualitas pembelajaran dan bahan ajar di sekolah harus diperkaya dengan kenyataan hidup dan tuntutan zaman.
Agar proses pembelajaran dapat mengakomodasikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta permasalahan yang begitu kompleks dalam masyarakat, maka dapat diterapkan pembelajaran tematik. Mengingat, dengan pembelajaran tematik siswa tidak terpisah dengan kehidupan nyata dan tidak ‘gagap’ dalam menghadapi perkembangan zaman. Pembelajaran tematik akan menciptakan sebuah pembelajaran terpadu yang akan mendorong keterlibatan siswa dalam belajar, membuat siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan menciptakan situasi pemecahan masalah sesuai dengan kebutuhan siswa.
Pembelajaran tematik dapat pula dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Pembelajaran tematik memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan keterlibatan anak dalam belajar, membuat anak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan dalam memecahkan masalah, tumbuhnya kreativitas sesuai kebutuhan siswa. Sehingga diharapkan siswa dapat belajar dan bermain dengan kreativitas yang tinggi.
Pendekatan tematik dapat dikatakan sebagai suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna, karena dalam pembelajaran tematik anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengamatan langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang mereka pahami (koneksi). Demikian halnya dalam upaya meningkatkan kemampuan matematika sekolah dasar, pembelajaran tematik merupakan salah satu alternatif untuk mencapai tujuan tersebut. Fenomena yang terjadi sekarang adalah banyak siswa pada mata pelajaran matematika memiliki tingkat koneksi matematis yang rendah. Hal ini dibuktikan banyak siswa yang tidak mampu menerapkan konsep matematika terhadap disiplin ilmu lain maupun dalam memecahkan masalah matematika dalam kehidupan sehari-harinya. Fenomena ini juga terjadi di SD Negeri 2 Birem Rayeuk Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur, dimana ditemukan bahwa peserta didik kurang mampu menyelesaikan soal matematika yang berupa soal cerita yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga nilai rata-rata matematika dalam kurun waktu tiga tahun terakhir selalu berada di bawah mata pelajaran yang lain seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.
Daftar Nilai Rata-rata Pelajaran Matematika Kelas III SDN 2 Birem Rayeuk
No
Tahun Pelajaran
Nilai Rata-Rata
1
2005 – 2006
5,60
2
2006 - 2007
5,85
3
2007 - 2008
6,00
 Sumber SDN 2 Birem Rayeuk
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ” Upaya meningkatkan kemampuan koneksi matematis dan sikap siswa melalui penerapan pembelajaran tematik di SDN 2 Birem Rayeuk Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penelitian ini ingin menjawab dua  pertanyaan mendasar yang dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apakah terdapat peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan koneksi  matematis siswa melalui penerapan pembelajaran tematik. ?
2.      Bagaimana sikap siswa terhadap matematika dalam pembelajaran tematik?
C.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika melalui penerapan pendekatan tematik dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa..
2.      Untuk mengetahui sikap siswa terhadap matematika dalam pembelajaran tematik
D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas proses pembelajaran matematika, manfaat dan kegunaannya antara lain :
1.      Bagi guru  :
a.       Dapat dijadikan sebagai alternatif dalam menggunakan model pembelajaran tematik pada pembelajaran matematika. Sehingga dengan model pembelajaran tematik dalam menyampaikan materi matematika dapat menumbuhkembangkan minat belajar matematika siswa.
b.      Dapat dijadikan salah satu sumber tambahan informasi bagi guru ataupun calon guru di SD dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran matematika.
2.      Bagi siswa, melalui model pembelajaran tematik, diharapkan kemampuan koneksi matematisnya akan semakin meningkat. Mereka diharapkan akan termotivasi, merasa tertantang, bersemangat, kritis, kreatif serta menumbuhkan sikap mandiri, tidak mudah putus asa dalam belajar matematika yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan hasil belajar matematika.
3.      Bagi sekolah pada umumnya diharapkan dapat mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran tematik pada materi-materi lain yang esensial khususnya dalam matematika maupun mencoba untuk mata pelajaran lainnya.
E. Definisi Operasional
1.   Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggabungkan  beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, proses pembelajarannya mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembelajaran atau satu tema.

2.   Koneksi Matematis
Koneksi matematis merupakan pengaitan matematika, yang meliputi: menggunakan matematika dalam mata pelajaran lain; menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari; memahami hubungan antar topik matematika dan menggunakan koneksi antar topik matematika. Yang dimaksud kemampuan koneksi matematis dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan koneksi matematis. Kemampuan tersebut secara umum dilihat dari perolehan skor dalam mengerjakan soal.
F.   Hipotesis Penelitian
1.      Terdapat peningkatan yang signifikan tergadap kemampuan koneksi matematis siswa melalui penerapan pembelajaran tematik.
2.      Terjadi perubahan sikap dan prilaku siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika melalui penerapan pembelajaran tematik.










 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Model Pembelajaran Tematik
Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di kelas rendah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), tidak lepas dari perkembangan akan konsep pembelajaran terpadu. Menilik perkembangan konsep pendekatan terpadu di Indonesia, pada saat ini model pembelajaran yang dipelajari dan berkembang adalah model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty. Menurut Hesty (2008:7), model pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty ini berawal dari konsep pendekatan interdisipliner yang dikembangkan oleh Jacob (1989). Fogarty menyatakan bahwa ada 10 model integrasi pembelajaran, yaitu model fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked.
11
 
11
 
Pembelajaran tematik dalam penelitian ini merupakan pembelajaran terpadu model webbing (jaring laba-laba) yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, dalam PUSKUR 2006). Menurut Sa’ud (2006:12), pendekatan tematik (thematic approach) dalam pembelajaran terpadu merupakan suatu proses dan strategi yang mengintegrasikan isi bahasa (membaca, menulis, berbicara, dan mendengar) dan mengkaitkannya dengan mata pelajaran yang lain. Konsep ini mengintegrasikan bahasa (language arts contents) sebagai pusat pembelajaran yang dihubungkan dengan berbagai tema atau topik pembelajaran.
Joni dalam Trianto (2007:6) mengungkapkan bahwa pembelajaran tematik merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. Sedangkan menurut Hadisubrata, pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Jika dibandingkan dengan pendekatan konvensional, maka pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan. Hal ini sesuai dengan panduan Kurikulum Berbasis Kompetensi Depdiknas (2003) yang menyatakan bahwa pengalaman belajar siswa menempati posisi penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan.
Dengan demikian, yang dimaksud pembelajaran tematik dalam penelitian ini adalah suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema, dimana keterpaduannya bersifat longgar dan lebih menonjolkan unsur tematiknya. Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya: (1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, (2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama, (3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, (4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, (5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, (6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain, dan (7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Dalam pembahasannya, tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran atau lebih dikenal juga dengan bentuk webbing (jaring laba-laba). Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran IPA dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasan pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia di sekitar mereka.
Apabila dikaitkan dengan tingkat perkembangan anak, pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan dan menyesuaikan pemberian konsep sesuai tingkat perkembangan anak. Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak (Trianto, 2006:7). Landasan pembelajaran tematik mencakup landasan filosofis, landasan psikologis dan landasan yuridis.
Landasan filosofis dalam hal ini yaitu progresivisme, konstruktivisme dan humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukkan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Aliran kostruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
Landasan psikologis, yaitu psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar; Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan konstribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarainya.
Landasan yuridis, yaitu UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). Landasan yuridis yang kedua adalah UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional  yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya (Bab V pasal 1-b).
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik juga lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Pengalaman belajar yang menunjukan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut : (1) Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar; (2) Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa diharapkan pada sesuatu yang nyata (kongkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak; (3) Dalam pembelajaran tematik, pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa; (4) Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari; (5) Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada; (6) Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya; dan (7) Pembelajaran tematik menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. (PUSKUR, 2006:6)
Di samping karakteristik di atas, pembelajaran tematik juga memiliki beberapa keistimewaan antara lain : (1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; (2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; (3) Kegiatan belajar-mengajar lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; (4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; (5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan (6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Berdasarkan karakteristik dan keistimewaan-keistimewaan di atas, pelaksanaan pembelajaran tematik akan sangat bermanfaat apabila diterapkan pada anak sekolah dasar. Ciri utama dalam pembelajaran tematik adalah penggunaan tema dalam pelaksanaan pembelajarannya. Melalui suatu tema, beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran dapat digabungkan sehingga akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Pemaduan antar mata pelajaran inipun akan membawa dampak bagi siswa yaitu mereka akan mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna antar mata pelajaran sebab isi materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir. Dengan melalui tema, pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran ini juga maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.
B.     Koneksi Matematis
Koneksi matematis memberikan gambaran tentang bagaimana sifat materi matematika yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan ini muncul karena topik-topik dalam matematika banyak memiliki keterkaitan dan juga banyak memiliki relevansi dan manfaat dengan bidang lain, baik dengan mata pelajaran lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam pembelajaran matematika perlu adanya penekanan kepada materi yang mengarah kepada adanya keterkaitan baik dengan matematika sendiri maupun dengan bidang lain. Matematika terdiri atas beberapa cabang dan tiap cabang tidak bersifat tertutup yang masing-masing berdiri sendiri namun merupakan suatu keseluruhan yang padu. Melalui koneksi matematis diupayakan agar bagian-bagian itu saling berhubungan sehingga siswa tidak memandang sempit terhadap matematika.
Koneksi matematis berasal dari bahasa Inggris yakni mathematical connection. Istilah ini dipopulerkan oleh NCTM dan dijadikan sebagai salah satu standar kurikulum. Menurut NCTM (1989 : 84) tujuan koneksi matematis di sekolah adalah “... To help student broaden their perspective, to view mathematics as an integrated whole rather than as an isolated set of topics, and to knowledge  its relevance and usefulness both in and out of school”.
Dari pernyataan ini, terdapat tiga tujuan kehadiran koneksi dalam matematika di sekolah yaitu memperluas wawasan pengetahuan siswa, memandang matematika sebagai suatu keseluruhan yang padu bukan sebagai materi yang berdiri sendiri dan mengenal relevansi dan manfaat matematika baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) matematika yakni mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Dari uraian di atas diketahui bahwa kemampuan koneksi matematis merupakan suatu kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa. Menurut Sumarmo (2003), ada beberapa indikator dari kemampuan koneksi matematis yang dapat dikembangkan yaitu : (1) Mencari hubungan berbagai representasi konsep dan prosedur, (2) Memahami hubungan antar topik matematika, (3) Menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan sehari-hari, (4) Memahami representasi ekuivalen konsep atau prosedur yang sama, (5) Mencari koneksi antar topik matematika, dan antara topik matematika dengan topik yang lain.
Kusumah (2008:19) mengungkapkan bahwa koneksi matematis dapat diartikan sebagai keterkaitan antara konsep-konsep matematika secara internal yaitu berhubungan dengan matematika itu sendiri ataupun keterkaitan secara eksternal, yaitu matematika dengan bidang lain, baik bidang studi lain maupun dengan kehidupan sehari-hari. Melalui peningkatan kemampuan koneksi matematis, kemampuan berpikir dan wawasan siswa terhadap matematika dapat menjadi semakin luas dan kokoh. Topik-topik dalam matematika memiliki keterkaitan satu sama lain dan juga memiliki relevansi dan manfaat baik dengan bidang lain maupun dengan kehidupan sehari-hari. Keterkaitan tersebut merupakan koneksi matematis. Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam pembelajaran matematika perlu adanya penekanan terhadap koneksi, baik dengan matematika itu sendiri, dengan pelajaran lain maupun dengan kehidupan sehari-hari.
NCTM (Yaniawati, 2001:24) membagi koneksi matematis menjadi tiga macam, yaitu: (1) koneksi antar topik matematika, (2) koneksi dengan disiplin ilmu yang lain, dan (3) koneksi dalam kehidupan sehari-hari. Pembagian ini senada dengan pendapat Mikovch dan Monroe (1994) yang menyatakan tiga koneksi matematis yaitu koneksi dalam matematika, koneksi untuk semua kurikulum, dan koneksi dengan konteks dunia nyata.
Kutz (1991) berpendapat hampir serupa, ia menyatakan koneksi matematis berkaitan dengan koneksi internal dan koneksi eksternal. Koneksi internal meliputi koneksi antar topik matematika sedangkan koneksi eksternal meliputi koneksi dengan mata pelajaran lain dan koneksi dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan Riedesel membagi koneksi matematika menjadi lima macam, yaitu: (1) koneksi antar topik dalam matematika, (2) koneksi antara beberapa macam tipe pengetahuan, (3) koneksi antara beberapa macam representasi, (4) koneksi dari matematika ke daerah kurikulum lain, dan (5) koneksi siswa dengan matematika.
Bruner (Ruseffendi, 1991:152) mengemukakan bahwa dalam matematika setiap konsep itu berkaitan dengan konsep lain. Bagitu pula antara yang lainnya misalnya antara dalil dan dalil, antara teori dan teori, antara topik dengan topik, antara cabang matematika (aljabar dan geometri misalnya). Oleh karena itu, agar siswa dalam belajar metematika lebih berhasil, siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melihat kaitan-kaitan itu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa koneksi matematika tidak hanya mencakup masalah yang berhubungan dengan matematika saja, namun juga dengan pelajaran lain serta dalam kehidupan sehari-hari. Koneksi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi koneksi internal dan koneksi eksternal sesuai dengan pendapat Kutz. Sedangkan kemampuan koneksi  matematika yang dimaksud adalah kemampuan siswa dalam mengaitkan topik matematika yang sedang dibahas dengan topik matematika lainnya, dengan mata pelajaran lain atau dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan tersebut secara umum dilihat dari kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal koneksi, baik soal koneksi internal maupun soal koneksi eksternal.
1.      Koneksi internal (koneksi antar topik matematika)
Banyak di antara topik matematika yang sebenarnya memiliki koneksi satu sama lain dalam suatu permasalahan matematika.
Contoh soal:    Diketahui panjang suatu persegi panjang adalah 10 cm dan lebarnya adalah setengah dari panjangnya. Berapa dm kah keliling persegi panjang tersebut!
Topik-topik yang terkait dengan soal di atas adalah geometri bangun datar yaitu persegi panjang, satuan pengukuran dan operasi bentuk pecahan.
2.      Koneksi eksternal (koneksi topik matematika dengan topik diluar matematika)
Koneksi eksternal terdiri dari koneksi dengan mata pelajaran lain atau koneksi dengan kehidupan sehari-hari. Matematika sebagai suatu disiplin ilmu dapat bermanfaat baik bagi pengembangan disiplin ilmu lain, maupun dalam memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh soal:    Ibu pergi ke pasar membeli 3 liter beras dengan harga Rp.2500/liter, gula pasir ½ kg dengan harga Rp.2000, 3 ikat kangkung dengan harga Rp.1000/ikat. Pergi dan pulangnya Ibu naik becak dengan ongkos Rp.3000. Berapa seluruh uang yang ibu keluarkan?
Topik matematika tersebut terkait dengan permasalahan sehari-hari dan disiplin ilmu lain yaitu mata pelajaran IPS dengan topik kegiatan jual beli.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa koneksi matematika merupakan pengaitan matematika dengan pelajaran lain, atau dengan topik lain, yang meliputi: memahami hubungan antar topik matematika; menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan sehari-hari; menggunakan koneksi antar topik matematika, dan antar topik matematika dengan topik lain.
C. Sikap Siswa Terhadap Matematika
Sesuatu yang belum diketahui dapat mendorong siswa belajar untuk mencari tahu. Siswa pun mengambil sikap seiring dengan minatnya terhadap suatu objek. Siswa mempunyai keyakinan dan pendirian tentang apa yang seharusnya dilakukannya. Sikap itulah yang mendasari dan mendorong ke arah perbuatan belajar. Jadi, sikap siswa dapat dipengaruhi oleh motivasi sehingga ia dapat menentukan sikap belajar.
Siswa mempunyai sikap positif terhadap suatu objek yang bernilai dalam pandangannya, dan ia akan bersikap negatif terhadap objek yang dianggapnya tidak bernilai dan atau juga merugikan. Sikap ini kemudian mendasari dan mendorong ke arah sejumlah perbuatan yang satu sama lainnya berhubungan. Hal yang menjadi objek sikap dapat bermacam-macam. Sekalipun demikian, siswa hanya dapat mempunyai sikap terhadap hal-hal yang diketahuinya. Jadi harus ada sekedar informasi pada siswa untuk dapat bersikap terhadap suatu objek. Informasi merupakan kondisi pertama untuk suatu sikap. Dari informasi yang didapatkan itu akan menimbulkan berbagai macam perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek.
Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa munculnya sikap seorang siswa diiringi oleh minatnya terhadap suatu objek. Kemudian diyakini bahwa objek yang menarik minat siswa tersebut misalnya terhadap proses pembelajaran di kelas akan menjadi dasar motivasi siswa sehingga akan menentukan sikap siswa itu untuk belajar.
Begitu halnya dalam pembelajaran matematika, tujuan pendidikan matematika antara lain adalah penekanannya pada pembentukan sikap siswa. Dengan kata lain, dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap positif siswa terhadap matematika. Hal ini penting mengingat sikap positif terhadap matematika berkorelasi positif dengan prestasi belajar matematika (Ruseffendi, 1988). Sikap merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak sesuatu, konsep, kumpulan ide, atau kelompok individu. Matematika dapat diartikan sebagai suatu konsep atau ide abstrak yang penalarannya dilakukan dengan cara deduktif aksiomatik. Hal ini dapat disikapi oleh siswa secara berbeda-beda, mungkin menerima dengan baik atau sebaliknya. Dengan demikian, sikap siswa terhadap matematika adalah kecenderungan untuk menerima atau menolak matematika.
Berkaitan dengan sikap positif siswa terhadap matematika, beberapa pendapat, antara lain Ruseffendi (1988), mengatakan bahwa anak-anak menyenangi matematika hanya pada permulaan mereka berkenalan dengan matematika yang sederhana. Makin tinggi tingkatan sekolahnya dan makin sukar matematika yang dipelajarinya akan semakin berkurang minatnya. Menurut Begle (1979), siswa yang hampir mendekati sekolah menengah mempunyai sikap positif terhadap matematika yang secara perlahan menurun. Siswa yang memiliki sikap positif terhadap matematika memiliki ciri antara lain terlihat sungguh-sungguh dalam belajar matematika, menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu, berpartisipasi aktif dalam diskusi, mengerjakan tugas-tugas pekerjaan rumah dengan tuntas dan selesai pada waktunya.
Dengan demikian, untuk menumbuhkan sikap positif terhadap matematika, perlu diperhatikan agar penyampaian materi matematika dapat menyenangkan, mudah dipahami, tidak menakutkan, dan menunjukkan bahwa matematika banyak kegunaannya. Dalam menyampaikan materi matematika, siswa harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melihat keterkaitan-keterkaitan antar topik matematika, keterkaitan antara matematika dengan mata pelajaran lain dan keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, materi harus dipilih dan disesuaikan dengan lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari (kontekstual) dan tingkat kognitif siswa. Di samping itu, pelaksanaan pembelajarannya harus dapat menyajikan keterkaitan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan hal ini adalah pendekatan pembelajaran tematik.
D.  Pembelajaran Biasa
Mengajar adalah proses menyampaikan berbagai informasi atau pengalaman dari seorang guru kepada siswa. Mengajar seperti pandangan ini masih bersifat konvensional. Dalam prakteknya tujuan mengajar hanya untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan saja dan selama proses pembelajaran berlangsung guru merupakan pusatnya atau dengan kata lain proses pembelajaran terpusat pada sosok guru. Di samping itu pembelajaran seperti ini umumnya materi pelajaran diserap melalui hapalan dan bukan berdasarkan proses mental dan emosional yang diperoleh dari pengalaman. Pada pembelajaran konvensional, umumnya guru beranggapan bahwa tugasnya adalah menyelesaikan atau mentransfer pengetahuan seperti yang terdapat dalam GBPP atau kurikulum tanpa adanya usaha atau upaya untuk menolong siswa agar memahami dan mengerti materi ajar.
Menurut Nasution (Suhendra, 2005:38) menjelaskan bahwa ciri-ciri pembelajaran biasa yaitu : (1) tujuan tidak dirumuskan secara spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan diukur, (2) bahan pelajaran disajikan kepada kelompok, kepada kelas sebagai keseluruhan tanpa memperhatikan siswa secara individual, (3) kegiatan pembelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah, tugas tertulis dan media lain menurut pertimbangan guru, (4) siswa umumnya pasif karena dominan mendengar uraian guru, (5) dalam hal kecepatan belajar, semua siswa harus belajar menurut kecepatan yang umum ditentukan oleh kecepatan guru mengajar, (6) keberhasilan belajar umumnya dinilai oleh guru secara subjektif, (7) diharapkan bahwa hanya sebagian kecil saja akan menguasai bahan pelajaran secara tuntas, sebagian lagi akan menguasainya sebagian saja, dan ada lagi yang gagal, (8) guru terutama berfungsi sebagai penyalur atau penyebar pengetahuan (sumber informasi atau pengetahuan).
Dengan demikian pembelajaran konvensional atau pembelajaran biasa yang selama ini terjadi umumnya dilakukan secara klasikal, dan guru masih sangat mendominasi kelas. Guru menyampaikan sejumlah informasi kepada siswa dan komunikasi umumnya terjadi satu arah dari guru ke siswa sebagai pendengar, memberikan contoh soal dan menyelesaikannya, penurunan atau pembuktian rumus, siswa hanya mencatat dan kadang-kadang sedikit dibarengi tanya jawab untuk menanyakan materi mana yang belum dikuasai oleh siswa, kemudian memberikan soal-soal latihan untuk diselesaikan oleh siswa baik di buku mereka ataupun di papan tulis secara bergantian yang dikehendaki atau yang ditunjuk oleh guru. Peran guru umumnya adalah menerangkan dan menjelaskan, memberikan dan menyelesaikan soal, sedangkan siswa hanya mendengar, menulis atau mencatat apa yang tertulis di papan tulis.
Melihat dari kegiatan guru dan siswa serta ciri-ciri dalam proses pembelajaran di atas, maka pembelajaran konvensional yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru sehari-hari dalam prakteknya selama ini. Umumnya dalam kegiatan proses pembelajaran seperti tersebut di atas, guru banyak menggunakan metode ceramah, dengan harapan agar semua materi mudah disampaikan semua kepada siswanya sesuai dengan yang terdapat dalam kurikulum.
Meskipun pembelajaran konvensional atau pembelajaran biasa disebut juga pembelajaran yang masih bersifat tradisional, dimana lebih dominan menggunakan metode ceramah, hal ini bukan berarti pembelajaran biasa yang menggunakan metode tersebut kurang baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dubin dan Taveggia pada tahun 1968 (dalam Ruseffendi, 1998:228) menyimpulkan bahwa hasil belajar melalui metode ceramah lebih unggul (dalam tentamen) jika dibandingkan bahwa hasil belajar melalui metode lain, khususnya metode diskusi. Sedangkan Ausubel (dalam Ruseffendi, 1998:291) menyebutkan, ”... metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien dan menyebabkan siswa belajar secara bermakna”.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan pembelajaran matematika biasa merupakan suatu kegiatan atau proses pembelajaran yang dilakukan secara klasikal, proses pembelajaran lebih didominasi guru, umumnya dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, dan komunikasi yang terjadi hanya searah sehingga siswa kurang terakomodasi dalam menyampaikan pendapatnya.
Lebih lanjut penulis dalam penelitian ini perlu membatasi bahwa pembelajaran biasa yang digunakan adalah pembelajaran yang menggunakan metode ceramah, serta kombinasi metode lainnya seperti metode ekspositori dan metode tanya jawab. Karena pada umumnya metode-metode ini lebih banyak digunakan dalam proses pembelajaran matematika selama ini. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyudin (1995) dengan menyimpulkan bahwa metode/strategi/pendekatan yang paling sering digunakan umumnya (sebesar 90%) oleh guru matematika dalam pembelajaran matematika adalah kombinasi metode ceramah dan ekspositori. Kedua metode tersebut umumnya proses belajar berpusat pada guru, sedangkan siswanya lebih banyak bersikap pasif.
Berikut ini disajikan perbandingan karakteristik antara pembelajaran biasa dengan pembelajaran tematik.

Tabel 2.1
Perbandingan Karakteristik
Antara Pembelajaran Tematik dan Pembelajaran Biasa

Pembelajaran Tematik
Pembelajaran Biasa
Guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
Guru lebih mendominasi dalam pembelajaran (teacher center)
Siswa berperan sebagai subjek belajar (student centered) atau siswa yang melakukan kegiatan belajar
Siswa lebih banyak mendengar, mencatat/menulis atau mengerjakan perintah guru.
Siswa memperoleh pengalaman langsung (direct experiences), sehingga siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak
Siswa meniru pengetahuan yang telah diterima dan menggunakannya
Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas karena diarahkan pada pembahasan tema-tema. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, sehingga siswa mampu memahami konsep-konsep secara utuh.
Pemberian mata pelajaran dilakukan secara terpisah.
Multi metode dengan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Misalnya: problem solving, tanya jawab, eksperimen, latihan, kerja kelompok, dan lain-lain.
Umumnya kombinasi metode ceramah dan ekspositori
Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Hasil pembelajaran berdasarkan tuntutan kurikulum
E. Teori Belajar Yang Mendukung Penelitian ini
Teori belajar yang mendukung pembelajaran tematik berawal dari cara anak belajar. Piaget (1950) dalam Depdiknas (2007) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut kalau berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membenagun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam diri dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) mulai berpikir secara operasional, (3) mempergunakan cara berpikir secara operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: (1) Konkrit, (2) Integratif, dan (3) hierarkis. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba dan diotak-atik, dengan penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang dialami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Integratif mengandung arti bahwa pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. Sedangkan hierarkis bermakna bahwa pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.
Teori belajar kedua yang mendukung pembelajaran tematik adalah teori belajar bermakna. Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.
Belajar bermakna (meaningful learning) merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghapal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukan konsep-konsep tersebut secara harmonis dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Demikian juga halnya dengan koneksi matematis, dalam NCTM standar (1989) dinyatakan bahwa belajar bermakna merupakan landasan utama terbentuknya koneksi matematis. Gagasan tentang belajar bermakna yang dikemukakan oleh William Brownell merupakan ide dasar dari teori konstruktivisme. Menurut Brownell (Suherman, 2001:49), matematika dapat dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri atas ide, prinsip dan proses sehingga keterkaitan antara aspek-aspek harus dibangun dengan penekanan bukan pada memori atau hapalan, melainkan pada aspek penalaran atau intelegensi anak. Konsep yang dipelajari punya arti, dipahami sebagai suatu disiplin yang terurut, terstruktur, dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, serta diperoleh melalui proses pemecahan masalah yang bervariasi.
Demikian pula Bruner (Suherman, 2001:48) mengemukakan dalil pengaitan yakni dalam matematika antara satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang erat, bukan saja dari segi isi, namun juga dari segi rumus-rumus yang digunakan. Kedua teori yang dikemukakan oleh Brownell dan Bruner mendukung dikembangkannya kemampuan koneksi matematis. Kemampuan koneksi matematis siswa yang baik dapat menjadikan siswa memandang matematika sebagai bagian terintegrasi dalam kehidupan dan dapat menggunakan matematika dalam pemecahan masalah.











 
BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Birem Rayeuk Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur. Sekolah ini terletak di jalan Dusun Bahagia Gampong Keude Birem lebih kurang 300 m dari jalan Negara Medan – Banda Aceh. SD Negeri 2 Birem Rayeuk didirikan pada tahun 1991. Sekolah ini memiliki siswa berjumlah 196 orang dengan 6 rombongan belajar didukung 13 orang tenaga pengajar PNS dan non PNS serta seorang kepala sekolah ditambah seorang penjaga sekolah.  Penelitian ini dilaksanakan pada semster II di bulan Pebruari  sampai bulan Mei 2009.
B.       Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas rendah yaitu di kelas III dengan jumlah responden sebanyak 36 siswa terdiri dari 31 orang perempuan dan 15 orang laki-laki.
C.      Teknik Pengumpulan Data
Cara yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu melalui tes soal bentuk uraian. Tes dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran. Sebelum pembelajaran dilakukan pre tes dan sesudah pembelajaran dilakukan pos tes.
D.    Prosedur dan Teknik Pengolahan Data
Prosedur pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1.     
34
 
Melalui pengamatan langsung tentang aktivitas belajar siswa
2.      Melalui wawancara dengan siswa kelas III
3.      Melalui tes dengan persiapan LAS
Data kualitatif dalam penelitian ini diperoleh dari hasil angket siswa, hasil observasi dan wawancara. (Angket siswa, pedoman observasi dan pedoman wawancara dapat dilihat pada lampiran,).
E.       Bahan Ajar
Sesuai dengan tujuan penelitian, bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini dirancang dengan kurikulum sekolah yang berlaku. Selain itu, bahan ajar yang digunakan di kelas didesain agar kemampuan koneksi matematis siswa dalam matematika, seperti: kemampuan mengaitkan antar topik matematika, mengaitkan topik matematika dengan mata pelajaran lain, dan mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari, dapat berkembang dengan baik.
Secara umum, bahan ajar yang dikembangkan untuk pembelajaran melalui model pembelajaran tematik memiliki dua bentuk, yaitu bahan ajar yang dikemas dalam bentuk sajian pembelajaran tematik dan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk pengantar pada tema. Bahan ajar yang dikemas dalam bentuk pengantar pada tema disampaikan secara langsung tanpa melalui pengolahan dalam aktivitas belajar. Dengan kata lain bahan ajar yang dikemas dalam bentuk pengantar tema ini mempunyai sifat informative. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Suryadi (2005) bahwa bahan ajar yang disampaikan secara langsung tanpa melalui pengolahan dalam aktivitas belajar disebut bahan ajar yang yang bersifat informative. Sedangkan, bahan ajar yang dikemas dalam bentuk sajian pembelajaran tematik menuntut siswa untuk berpikir lebih dari biasa dan beraktivitas mengarah kepada kemampuan koneksi matematis yang diharapkan.
F.     Skenario Pembelajaran
Sesuai dengan desain penelitian yang dikemukakan di atas, pembelajaran dilakukan melaui pembelajaran tematik.
Sementara itu, aspek-aspek pembelajaran di kelas menyangkut bahan ajar dan pola interaksi di dalam kelas yang dijabarkan dalam bentuk skenario pembelajaran (silabus, jaring-jaring tema, RPP, LAS dan Latihan dapat dilihat pada lampiran). Secara umum gambaran skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Pemetaan kompetensi dasar, kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh mengenai penjabaran standar kompetesi dan kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran (Matematika, Seni Budaya dan Keterampilan dan B. Indonesia dan IPS) yang dipadukan dalam tema yang dipilih (Rumahku). Kegiatan yang dilakukan adalah menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator yang diharapkan. Selanjutnya menentukan tema untuk mengikat keterpaduan antar mata pelajaran.
2.      Menetapkan jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran.
3.      Mendeskripsikan indikator ke dalam materi pembelajaran
4.      Pelaksanaan pembelajaran dengan mengembangkan koneksi matematis yang diharapkan.
5.      Pada awal pelaksanaan kegiatan pembelajaran, guru memberikan apersepsi untuk menarik perhatian siswa sesuai dengan tema yang akan disajikan. Apersepsi tersebut diantaranya berdoa bersama, membahas materi yang telah lalu, bernyanyi bersama atau melakukan permainan.
6.      Pada kegiatan inti, siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk melihat keterkaitan-keterkaitan antar materi pelajaran yang disajikan berdasarkan tema yang ditentukan. Pada proses ini siswa lebih banyak melakukan aktivitas melalui lembar aktivitas siswa.
7.      Pada kegiatan akhir, guru memberikan penguatan kepada siswa.
G.    Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Perencanaan
2.      Pelaksanaan
3.      Observasi
4.      Refleksi
Prosedur penelitian dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut





Pada kegiatan siklus akan dilakukan sesuai dengan tahap-tahap tersebut.
Penelitian akan di lakukan dengan 2 (dua ) siklus. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan tindakan , pelaksanaan ,observasi dan refleksi.
Siklus I
a.      Rencana Tindakan
Pada pertemuan mingguan disusun rencana berikut: Guru merencanakan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan membuat rencana pembelajaran dengan pendekatan tematik , membawa alat peraga beberapa model benda yang sering ada di rumah misalnya.; kotak susu, kaleng minuman, bingkai foto, dan beberapa model bangun datar, dan lembar observasi serta membagi siswa menjadi 6 (enam) kelompok.
b.      Pelaksanaan Tindakan
1.      Pertemuan pertama
Guru menyiapkan beberapa benda yang dibawa dari rumah misalnya : kotak susu, kaleng minuman, bingkai foto dan lain-lain. Seluruh benda tersebut di letakkan di atas meja. Guru menyiapkan beberapa model bangun datar yang terbuat dari karton seperti; persegi, persegi panjang, segi tiga dan lain-lain. Seluruh bangun datar tersebut disimpan dalam kotak tertutup. Secara bergantian setiap kelompok dipanggil kedepan kelas untuk meraba salah satu benda yang ada dalam kotak tertutup tersebut . kemudian siswa tersebut diminta mengenali benda yang dia raba dan membandingkannya dengan benada yang ia lihat di atas meja. Kemudian siswa dimita untuk menunjukkan benda yang di atas meja, yang permukaannya serupa dengan yang ia raba dalam kotak tertutup tadi. Hal ini dilakukan berulang kali sampai semua bangun datar yang ada dalam kotak teridentifikasi semua oleh setiap kelompok. Masing-masing siswa pada setiap kelompok menceritakan pengalaman yang dialaminya tadi. Kemudian siswa lainnya menanggapi masalah yang diceritakan. Guru mermperlihatkan bangun datar yang ada di dalam kotak. Setiap kelompok mendaftar nama-nama  bangun datar yang ada dalam kotak. Kemudian menyebutkan benda-benda yang ada disekitar rumahnya yang serupa dengan bangun datar tersebut perwakilan kelompok melaporkan hasil diskusi kelompoknya, sedangkan siswa lainya member tanggapan terhadap hasil diskusi yang dilaporkan.
2.      Pertemuan Kedua
Secara berkelompok siswa diminta menyusun sebuah model rumah yang tersusun dari berbagai jenis bangun dartar yang telah disediakan oleh guru, siswa diminta untuk memberikan warna dan hiasan pada rumah-rumahan yang mereka bentuk. Guru membacakan puisi depan kelas yang berjudul “Rumahku”. Siswa diminta membaca puisi dengan lafal, intonasi dan ekspresi yang tepat. Beberapa siswa diminta untuk memperagakan cara membaca puisi di depan kelas. Siswa lainya menilai dan memberikan tanggapan sederhana terhadap cara membaca puisi temanya.
c. Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan pengamat untuk mengamati tingkah laku dan sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran matematika yang menerapkan model pembelajaran tematik melalui kemampuan koneksi matematis. Semua temuan dicatat dan di rekam oleh peneliti dan juga pengamat.
d.      Refleksi
Pada akhir siklus I diadakan refleksi terhadap hasil-hasil yang diperoleh, baik dari hasil angket, catatan guru dan pengamat. Setelah mengkaji hasil belajar tematik dan hasil pengamatan aktivitas siswa, serta menyesuaikan dengan ketercapaian indikator kinerja maka peneliti merencanakan melanjutkan pada siklus II untuk melihat peningkatan kemapuan siswa dalam koneksi matematis.
Siklus  II
a.      Rencana Tindakan
Pada pertemuan kali ini disusun rencana seperti pada siklus pertama: Guru melanjutkan siklus I dengan penambahan materi tetapi masih terkait dengan materi pada siklus I serta membagi siswa menjadi 6 (enam) kelompok.
b.      Pelaksanaan Tindakan
1.      Pertemuan pertama
Siswa  memperhatikan bentuk model rumah yang telah mereka buat pada pertemuan yang lalu. Siswa diminta untuk mengidentifikasi berbagai bangun datar yang membentuk model rumah tersebut dan mendaftar serta menjelaskan ciri-ciri dari berbagai bangun datar yang ditemukan pada bentuk rumah tersebut. Siswa juga diminta menyebutkan contoh berbagai jenis bangun datar lainya beserta benda yang menterupai bangun datar tersebut. Dari berbagai jenis bangun datar yang telah diketahui mereka diminta untuk menggambar sebuah benda yang tersusun dari berbagai bangun datar tersebut. Dengan memperhatikan gambar yang telah dibuat, siswa diminta untuk menulis sebuah karangan sederhana .
2.      Pertemuan  Kedua
Guru memberikan gambar suatu denah yang tertera di dalam lembar aktifitas siswa, siswa diminta menyebutkan nama-nama jalan yang terdapat dalam denah sesuai yang diperintahkan dalam lembar aktifitas siswa. Siswa diminta untuk menyebutkan pasangan nama jalan yang membentuk sudut. Siswa diminta untuk mengurutkan nama-nama jalan dan menyebutkan jenis-jenis sudut yang terbentuk. Siswa diminta untuk membuat karangan sederhana berdasarkan gambar denah yang disajikan.
c.       Observasi  
Hasil observasi pada siklus II menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kesungguhan siswa dalam mengikuti pelajaran matematika lebih meningkat. Perhatian dan semangat siswa lebih meningkat. Semua siswa mengikuti pelajaran dengan penuh semangat, tidak ada yang terlihat malas dalam mengikuti pelajaran. Observasi selain dilakukan peneliti juga dilakukan oleh pengamat. Semua temuan selama proses pembelajaran berlangsung dicatat dan direkam oleh peneliti dan pengamat.
d.      Refleksi 
Pada akhir siklus II diadakan refleksi terhadap hasil-hasil yang diperoleh, baik dari hasil angket, catatan guru dan pengamat. Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis pada tahap ini. Peneliti dapat merefleksi diri berdasrkan hasil observasi dan diskusi untuk mengkaji apakah tindakan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kemampuan siswa. Hasil analisis data yang dilakukan dalam tahapan ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa.


 












 
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengungkap secara komprehensif mengenai peningkatan kemampuan koneksi matematis pada siswa dengan pembelajaran tematik. Selain itu, diungkap pula interaksi antara pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa. Dengan demikian pada bab ini disajikan hasil penelitian yang melingkup perbandingan peningkatan kemampuan koneksi matematis berdasarkan faktor pembelajaran dan tingkat kemampuan siswa.
Setelah diamati dan didiskusikan serta dilakukan refleksi selama pelaksanaan penelitian tindakan dilapangan, maka dapatlah dipaparkan hasilnya sebagai berikut:
  1. Keberanian siswa mengemukakan pendapat juga semakin meningkat. Siswa sudah berani mengungkapkan pendapat, mengomentari suatu hal atau pun mengungkapkan ide-idenya. Keberanian lain yang juga semakin meningkat yaitu keberaniannya menjawab pertanyaan. Mereka berlomba-lomba untuk memperoleh pertanyaan dan menjawabnya. Peningkatan juga terlihat pada kemampuan siswa untuk tampil di kelas. Masing-masing siswa berusaha tampil dengan sebaik-baiknya.
  2. 41
     
    Perubahan yang cukup signifikan juga terjadi di aspek ketepatan. Rata-rata siswa di kelas mampu menjawab pertanyaan dengan tepat. Mereka juga mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Selain itu siswa juga lebih mampu membuat pertanyaan yang bagus yang mudah dipahami dan sesuai dengan materi.
  3. Aspek kecepatan siswa juga mengalami peningkatan. Siswa dapat menyelesaikan tugas lebih awal. Kecepatan juga terlihat saat siswa menjawab pertanyan. Siswa dapat menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Sehinga pelajaran dapat berlangsung dengan lancar, aktif, kreatif, bermakna, dan menyenangkan
  4. Perubahan yang cukup signifikan juga terjadi pada guru sebagai fasilitator pembelajaran. Kualitas guru dalam mengajar lebih meningkat dibandingkan siklus sebelumnya. Guru lebih tenang, dapat menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, terkesan luwes, dan dapat menguasai kelas, mengelola ruang, menggunakan model pembelajaran, dan strategi dengan tepat.
  5. Hal yang lebih menggembirakan lagi guru terkesan lebih kreatif, lebih bergairah mengajar, membawa suasana kelas menjadi menjadi segar. Dengan suasana kelas yang demikian ternyata siswa lebih mudah memahami materi pelajaran.
  6. Hasil belajar siswa meningkat dan kualitas guru dalam mengajar juga meningkat. Sehingga tidak aneh lagi jika anatara guru dan siswa terjalin hubungan yang dinamis, harmonis, dan menyenangkan.

B.       Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat peningkatan kemampuan koneksi matematis dan sikap siswa. dengan penerapan pembelajaran tematik. Hal tersebut diindikasikan dari perolehan rata-rata siklus I (6,47) dan siklus II (7,85). Sedangkan pencapaian ketuntasan belajar individu pada siklus I sebesar 76,19 % dan siklus II sebesar 91,66 % sehingga indikator kinerja penelitian tindakan kelas ini selesai pada siklus II.
   Terjadinya hipotesis tindakan dalam penelitian ini membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran tematik dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis dan sikap siswa. Di samping aspek kognitif siswa, penerapan model tersebut juga mampu meningkatkan aspek afektif dan psikomotor. Aspek afektif yang tampak yakni kesungguhan, keberanian, sementara aspek psikomotor dapat dilihat dari kecepatan dan ketepatan siswa menyelesaikan serangkaian tugas.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nana Sudjana (2002) bahwa dalam pembelajaran terdapat tiga ranah yang menjadi fokus peningkatan kualitas pembelajaran yakni ranah kognitif, ranah efektif,dan ranah psikomotoris. Dengan demikian hasil penelitian tindakan kelas ini dapat dijadikan rujukan oleh peneliti lain yang hendak menelaah dan menindakkritisi sebagai fenomena aktual bidang pendidikan kususnya dalam hal inovasi pembelajaran.
Pembahasan hasil penelitian dilakukan berdasarkan pada faktor-faktor yang dicermati dalam studi ini, meliputi: Perbedaan kemampuan koneksi matematis siswa, perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis berdasarkan faktor pembelajaran dan tingkat kemampuan siswa, serta sikap siswa terhadap matematika dalam pembelajaran tematik..
1.         Kemampuan Koneksi Matematis Siswa
Kemampuan koneksi matematis siswa diungkap melalui pretes dan postes. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa kemampuan koneksi matematis siswa sebelum diterapkan pendekatan tematik tergolong kurang. Hal ini diperlihatkan oleh rata-rata skor pretes yang kurang dari 50% skor maksimal ideal. Dimana 50% dari skor maksimal ideal adalah sebesar 50. Menurut Firdaus (2005 : 54) jika rata-rata skor siswa kurang dari 50% dari skor total ideal, maka kemampuan siswa dikatakan kurang.
Setelah diberi perlakuan berupa pembelajaran tematik, kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran tematik mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan koneksi matematis pada pembelajaran tematik lebih berhasil. Mencermati hasil penelitian di atas, pembelajaran tematik menunjukkan peran yang sangat berarti dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis dan sikap siswa. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2008) yang menyebutkan bahwa melalui pembelajaran tematik, hasil belajar matematika siswa mengalami peningkatan.
 Bila ditinjau kembali, kemampuan koneksi matematis siswa dapat meningkat atau berkembang apabila dalam proses pembelajarannya, siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melihat keterkaitan-keterkaitan antara konsep-konsep awal yang telah dimilikinya dengan konsep-konsep baru yang dihadapinya. Dalam pembelajaran tematik, proses pembelajaran selalu diarahkan pada aktivitas siswa. Aktivitas yang dilakukan siswa selalu diupayakan agar dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian siswa akan belajar secara langsung dan tidak merasa seperti dipaksa untuk belajar melainkan memiliki motivasi sendiri untuk belajar. Aktivitas dalam pembelajaran tematik juga selalu dekat dengan kehidupan siswa sehingga membuat siswa dapat belajar dengan bermakna. Hal ini sesuai dengan teori belajar bermakna (meaningful learning), dimana belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghapal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
Dalam pembelajaran tematik juga, pengembangan konsep dalam materi-materi matematika tidak dibatasi oleh topik yang sedang dibahas saja, melainkan dikaitkan pula dengan topik-topik yang relevan, bahkan dengan mata pelajaran lain. Aktivitas yang dikembangkan dalam pembelajaran tematik selalu menuntut siswa agar dapat menghubungkan pengetahuan awal yang dimilikinya dengan aktivitas yang akan dilakukannya, sehingga hal ini dapat mengembangkan kemampuan koneksi matematisnya. Hal ini juga sesuai dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukan oleh Piaget. Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut kalau berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya.
Bila memperhatikan tahapan perkembangan berpikir yang dikemukakan oleh Piaget, yaitu bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi kongkret. Kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: (1) Konkrit, (2) Integratif, dan (3) hierarkis. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba dan diotak-atik, dengan penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang dialami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2.         Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa
Berdasarkan hasil temuan di lapangan, secara umum terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh perlakuan melalui pembelajaran tematik. Siswa yang memperoleh pembelajaran tematik mengalami pengingkatan kemampuan koneksi matematis yang lebih baik.
Dengan demikian, pembelajaran tematik sangatlah sesuai bila diterapkan pada setiap tingkat kemampuan siswa, baik tinggi, sedang maupun rendah. Bila memperhatikan beberapa karakteristik yang dikemukakan oleh Sanjaya (2006:52) mengenai kemampuan belajar siswa yang dikelompokkan pada siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah, siswa yang termasuk berkemampuan tinggi biasanya ditunjukkan oleh motivasi yang tinggi dalam belajar, perhatian dan keseriusan dalam mengikuti pelajaran, dan lain-lain. Sebaliknya siswa yang tergolong pada kemampuan rendah ditandai dengan kurang motivasi belajar, tidak adanya keseriusan dalam mengikuti pelajaran, termasuk menyelesaikan tugas dan sebagainya. Pembelajaran tematik merupakan salah satu pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa dalam pelaksanaannya. Keaktifan siswa sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengorganisasi materi pembelajaran dan kelas selama pembelajaran berlangsung. Aktivitas-aktivitas yang diberikan dalam pembelajaran tematik selalu menampilkan permasalahan-permasalahan yang menuntut keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Pemilihan tema yang dekat dengan diri dan lingkungan siswa sangat membantu siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas dan dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
Materi-materi dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan melalui tema, serta pengalaman belajar yang dapat memperlihatkan keterkaitan-keterkaitan antara materi dalam pembelajaran tematik sangat sesuai dengan tahapan berpikir anak. Pembelajaran tematik sangat relevan bila diberikan pada anak usia sekolah dasar terutama kelas rendah (I, II dan III). Hal ini dapat dibuktikan dari hasil temuan di atas, bahwa pembelajaran tematik dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis pada semua tingkat kemampuan siswa baik tinggi, sedang ataupun rendah. Hal ini juga senada dengan yang diungkapkan oleh Joni dalam Sa’ud (2006) bahwa pembelajaran tematik sangat diperlukan terutama untuk sekolah dasar, karena pada jenjang ini siswa menghayati pengalamannya masih secara totalitas serta masih sulit menghadapi pemilahan yang artificial.
Berbeda halnya dengan pembelajaran biasa. Dalam pembelajaran biasa, pembelajaran masih berpusat kepada guru. Siswa jarang jarang diberi kesempatan untuk mengeksplor kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Siswa tidak diberi kesempatan untuk melihat keterkaitan-keterkaitan antara pengetahuan awal yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru yang akan dipelajarinya. Oleh karena itu, siswa belajaranya kurang bermakna, sehingga mereka mudah lupa terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru, seperti : guru menjelaskan konsep dan contoh soal kepada siswa dilanjutkan dengan latihan, masih tetap efektif jika matematika masih dipandang sebagai kumpulan rumus, aturan dan prosedur yang harus diingat dan dikuasai siswa. Padahal matematika merupakan alat bantu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sehingga kemampuan koneksi matematis harus dikembangkan. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Carilah (2005), yang mengemukakan bahwa kemampuan koneksi matematis siswa dapat meningkat melalui perbaikan pembelajaran yaitu melalui pembelajaran melalui pendekatan peecahan masalah.
3.         Sikap Siswa Terhadap Matematika
Berdasarkan hasil penelitian melalui hasil angket, diketahui respon dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran matematika, soal-soal koneksi matematis, dan pembelajaran tematik umumnya positif. Siswa merasa perlu dan tertantang dengan soal-soal koneksi matematis karena dapat mengembangkan kemampuan koneksi matematis. Lebih khusus lagi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap siswa secara signifikan antara siswa yang memperoleh pembelajaran tematik dengan pembelajaran biasa. Sikap positif tersebut diantaranya : siswa bersemangat dalam belajar, siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan, siswa mampu menerapkan konsep matematika terhadap masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari maupun dengan mata pelajaran lain, dan siswa mampu  bekerja sama dalam kelompok. Hal ini diperkuat juga oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Diana (1999), yang menyatakan bahwa melalui pembelajaran terpadu model jaring laba-laba mampu meningkatkan keberanian siswa untuk berargumentasi, mengajukan pertanyan, memainkan peranan dalam kelompok, dan menyelesaikan tugas yang diberikan pembelajaran tematik.
Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa sikap siswa terhadap pembelajaran tematik lebih positif bila dibandingkan dengan pembelajaran biasa. Hal ini disebabkan pada pembelajaran tematik memiliki karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan pembelajaran biasa.  Sikap siswa tersebut dapat tergambar dari rasa senang atau tidak senang (minat) siswa terhadap pembelajaran matematika seperti yang terlihat pada tabel berikut;
TABEL. REKAPITULASI HASIL ANGKET SISWA
Aspek
Indikator
Jumlah dan sifat pernyataan
Frekuensi dan persentase
Total Frekuensi
Ya
Tidak
Pembelajaran Matematika
Siswa mengungkapkan kesungguhannya dalam belajar matematika
5 (positif)
31
87,33%
5
12,67%
36
6 (negatif)
4
10%
32
90%
36
Pembelajaran Tematik
Siswa menyatakan minatnya terhadap pembelajaran tematik
3 (positif)
34
94,44%
2
5,56%
36
1(negatif)
0
0%
36
100%
36
Siswa mengungkapkan peran guru dalam pembelajaran tematik
3 (positif)
30
83,33%
6
16,67%
36
1(negatif)
17
46,67%
19
53,33%
36
Koneksi Matematis
Siswa menyatakan minatnya terhadap soal-soal koneksi matematis
6 (positif)
26
71,67%
10
28,33
36
5 (negatif)
12
35,33%
24
64,67%
36

Berdasarkan tabel di atas, sebanyak 87,33% siswa mengungkapkan kesungguhannya dalam belajar matematika. Sedangkan respon siswa yang menyatakan minatnya terhadap pembelajaran tematik sebanyak 94,44%. Dalam hal peran guru dalam pembelajaran tematik, siswa mengungkapkan bahwa peran guru dalam menyampaikan materi sangat menyenangkan. Selain itu, guru juga selalu mengkaitkan konsep yang diberikan dengan tema yang ada. Respon positif siswa terhadap peran guru tersebut sebanyak 83,33%. Dalam kaitannya dengan koneksi matematis, siswa menyatakan minatnya terhadap soal-soal koneksi matematis dengan respon positif. Hal ini dibuktikan oleh persentase respon positif mereka sebanyak 71,67%. Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran matematika, pembelajaran tematik dan terhadap soal-soal-soal koneksi matematis.
Pada pembelajaran tematik, siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk melihat keterkaitan-keterkaitan antar konsep dalam matematika maupun dalam mata pelajaran serta keterkaitan dengan kehidupan nyata siswa. Di samping itu, pembelajaran disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa sehingga siswa dapat belajar dengan semangat dan menyenangkan. Sedangkan dalam pembelajaran biasa, siswa mudah bosan karena umumnya pembelajaran berpusat pada guru. Siswa kurang diberi kesempatan untuk melihat keterkaitan-keterkaitan antar konsep, dan siswa cenderung bersikap pasif dalam pembelajaran.
Dengan diperolehnya sikap positif tersebut, proses learning to be dalam pilar pendidikan UNESCO sudah mulai tercipta. Keadaan seperti ini sebenarnya bisa menjadi modal untuk bisa menciptakan suasana belajar yang efektif agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang lebih tinggi. Berlin dan Hillen (1994:290) menyatakan bahwa sikap positif siswa akan menjadi langkah awal untuk menuju kepada lingkungan belajar yang efektif. Di pihak guru, lingkungan belajar yang efektif menuntut guru supaya bertindak efektif. Menurut Ruseffendi (1991:39) mengatakan bahwa guru efektif adalah guru yang mengajarnya berhasil. Ini berarti untuk bisa meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa, maka guru harus kreatif dalam menghubungkan konsep yang satu dengan konsep lainnya dalam upaya mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Respon dan tanggapan positif siswa terhadap pembelajaran tematik dan koneksi matematis, merupakan reaksi terhadap proses pembelajaran matematika dengan pendekatan biasa. Sehingga siswa mengharapkan suasana dan pendekatan baru yang lebih melibatkan peran serta siswa dalam proses pembelajaran.
Dari hasil temuan di lapangan berdasarkan observasi di dalam kelas dan hasil wawancara dengan guru, proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik secara umum berlangsung dengan baik. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan siswa selalu diusahakan agar dapat menggali dan mengeksplor pengetahuan dari siswa itu sendiri. Adapun masalah koneksi matematis yang diberikan pembelajaran tematik membuat siswa aktif membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan pengetahuan awal yang mereka miliki. Hal tersebut menyadarkan siswa akan pentingnya kemampuan koneksi matematis yang harus mereka miliki.
Dalam pelaksanaan kegiatan tematik pada penelitian ini, cara pengemasan pengalaman belajar atau aktivitas belajar yang dirancang sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi siswa. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan keterkaitan-keterkaitan antar topik dalam matematika, keterkaitan antara materi matematika dengan materi dengan mata pelajaran lain serta keterkaitan materi matematika dengan kehidupan sehari-hari dapat menjadikan proses pembelajaran lebih efektif sehingga kemampuan koneksi matematis siswa dapat berkembang dan meningkat. Keterkaitan materi-materi matematika yang dipelajari dengan materi-materi mata pelajaran lain yang relevan akan membentuk skema, sehingga anak akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh William dalam (Sa’ud : 2006) bahwa, perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran tematik/terpadu.
Adapun kendala yang ditemukan di lapangan dalam pembelajaran tematik adalah sebagai berikut: (1) Pembelajaran tematik merupakan hal yang baru bagi guru, sehingga guru masih belum terbiasa dengan pembelajaran tersebut. Guru masih kesulitan untuk menyatukan berbagai mata pelajaran dalam satu tema. (2) Guru kesulitan dalam menentukan tema yang tepat dan relevan dengan kebutuhan anak (3) Proses pembelajaran tematik yang dapat mengembangkan koneksi matematis siswa memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup dari guru.










 
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data penelitian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Terdapat peningkatan yang signifikan kemampuan koneksi matematis pada siswa dengan penerapan pembelajaran tematik. Dengan demikian, kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika melalui pendekatan tematik secara statistik lebih baik.
2.      Bila dilihat dari tingkat kemampuan siswa tinggi, sedang dan rendah, terdapat perbedaan peningkatan yang signifikan antara kemampuan koneksi matematis pada pembelajaran tematik. Dengan demikian, peningkatan kemampuan koneksi matematis antar kelompok siswa yang memperoleh pembelajaran tematik lebih baik daripada peningkatan kemampuan koneksi matematis antar kelompok siswa yang memperoleh pembelajaran biasa.
3.     

 
Berdasarkan sikap siswa, siswa yang memperoleh pembelajaran melalui pendekatan tematik memiliki sikap positif terhadap pembelajaran matematika. Mereka memiliki semangat yang tinggi, antusias, motivasi tinggi dalam belajar, serta memiliki hasil belajar yang baik. Respon siswa terhadap soal-soal koneksi matematispun umumnya positif. Siswa senang dan tertantang dalam menyelesaikan soal-soal koneksi matematis karena dapat mengembangkan kemampuan koneksi matematisnya.

B.     Rekomendasi
Berdasarkan temuan pada penelitian ini, maka dapat dikemukakan rekomendasi sebagai berikut:
1.      Pembelajaran tematik secara signifikan lebih baik daripada pembelajaran biasa dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa sekolah dasar, baik ditinjau secara keseluruhan maupun berdasarkan tingkat kemampuan matematika siswa. Dengan demikian, pembelajaran tematik dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembelajaran yang sangat potensial apabila diterapkan di lapangan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
2.      Pembelajaran tematik dapat meningkatkan sikap positif siswa terhadap matematika. Keadaan ini bisa menjadi modal untuk bisa menciptakan suasana belajar yang efektif agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang lebih tinggi.
3.      Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan diharapkan dapat dilakukan oleh para guru di sekolah untuk mencapai kompetensi matematika seperti yang termuat dalam KTSP. Atas dasar itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk memperkaya wawasan para calon guru dan para guru di sekolah.
4.      Penentuan tema yang relevan dengan kehidupan siswa merupakan hal terpenting yang harus dipenuhi dalam pembelajaran tematik. Masalah-masalah yang disajikan melalui pengalaman belajar harus selalu mengkaitkan pengetahuan awal yang dimiliki siswa dengan pengetahuan yang akan dipelajari siswa. Hal ini akan mengembangkan kemampuan koneksi matematis siswa.


No comments:

Post a Comment