Tuesday, August 12, 2014

Proposal PTK-MELALUI PENGGUNAAN TORSO DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI ORGAN TUBUH MANUSIA DAN HEWAN PADA SISWA KELAS VII SEMESTER I SDN BENTENG TAHUN PELAJARAN 2012/2013



JUDUL PENELITIAN :

MELALUI PENGGUNAAN TORSO DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI ORGAN TUBUH MANUSIA DAN HEWAN PADA SISWA KELAS VII SEMESTER I SDN BENTENG
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

MATA PELAJARAN DAN BIDANG KAJIAN
1.      Mata Pelajaran          : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
2.      Bidang Kajian           : Penggunaan Torso


A.      PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
        Di dalam dunia pendidikan ada beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain, saling menunjang, saling mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Komponen tersebut adalah Guru, Materi, Metode, Alat Peraga dan Evaluasi.
Guru sebagai tenaga pendidik dan pengajar mempunyai tanggung jawab yang besar dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan, yang ditunjukkan oleh hasil belajar yang diperoleh siswa. Pelaksanaan tugas itu harus direncanakan terlebih dahulu dan dilaksanakan oleh guru dengan sebaik mungkin agar tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai dengan didukung oleh komponen yang lain seperti penggunaan metode dan alat peraga yang tepat
Perkembangan ilmu pengetahuan dan Tekhnologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil Tekhnologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru Setidaknya dapat menggunakan alat yang murah dan efesien yang meskipun sederhana dapat bersahaja, tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang  diharapkan.
Keberhasilan Pembelajaran, tidak lepas dari peran guru sebagai pendidik.  Peran guru yang paling pokok adalah menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik. Tetapi peran lain yang perlu dilakukan oleh guru didalam kelas dalam upaya perbaikan hasil belajar siswa yaitu mengadakan penelitian didalam kelas tentang proses pembelajaran.
Proses pembelajaran secara menyeluruh menerapkan prinsip: a). Kesamaan memperoleh kesempatan, b). bepusat pada anak, c). pendekatan menyeluruh dan kemitraan, d). kesatuan dalam kebijakan dan ragam dalam pelaksanaan, e). menekankan pada ketercapaian kopetensi, f). berorientasi pada hasil belajar, g). menggunakan metode berfariasi dan menyenagkan, h). Sumber belajar bukan hanya guru, i). mengembangkan pilar pendidikan.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan  ilmu pengatahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi  wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan dalam menerapkan kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajarannya  menekankan pada proses pemberian pengalaman langsung untuk mengembengkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk menemukan (inkuiri) dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Ilmu Pengetahuan Alam diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan Ilmu Pengatahuan Alam perlu dilakukan secara bijaksana agar tdak berdampakburuk terhadap alam sekitar. Di tingkat SD/MI diharapkan adanya penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungaan, teknologi dan masyarakatyang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah.  Pendidikan IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan ketrampil;an proses serta sikap ilmiah.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD yang telah berjalan selama ini masih terdapat banyak kendala baik dari pendidik dalam hal ini adalah guru ataupun dari pesrta didik. Guru masih banyak menemukan kesulitan dalam mengajar IPA di kelas, guru kurang mampu menerapkan prinsip pengajaran IPA seperti  metodologi dan penyampaian materi bagi siswa sekolah dasar, siswa kurang tertarik dengan pelajaran IPA karena siswa kurang memiliki motivasi untuk belajar IPA. Dalam hal penyampaian materi dalam bentuk kegiatan serta pemberian penilaian kepada peserta didik guru kurang memberikan motivasi. Hal ini disebabkan oleh guru yang belum mempunyai kompetensi mengajar yang cukup dan menguasai metodologi pembelajaran IPA untuk siswa sekolah dasar. Peserta didik masih sering ditemukan bahwa anak tidak ingin mengikuti pelajaran IPA  karena merasa sulit dan takut terhadap pelajaran tersebut.
Dalam pengamatan guru kelas salah satu mata pelajaran yang masih dianggap sulit bagi siswa adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Data penilaian menunjukkan bahwa nilai rata-rata dalam raport pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada semester I adalah 6,2 dari seluruh siswa sebanyak 32 orang. Pencapaian nilai tersebut tentu sangat memprihatinkan sehingga menuntut upaya guru untuk memperbaiki proses pembelajaran didalam kelas  sehinga hasil belajar siswa pada pelajaran Ilmu Pengetahuan  Alam  dapat meningkat.
Oleh karena itu mata pelajaran IPA ini dipilih sebagai bahan penelitian tindakan kelas, alasan mata pelajaran tersebut dipilih sebagai bahan peneltian adalah karena nilai rata-rata pelajaran IPA kelas VI SD Negeri Benteng  Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur pada semester I tahun ajaran 2011/2012 masih rendah. Nilai  rata-rata yang diharapkan adalah 7,5 atau daya serap minimal 75 persen.
Rendahnya nilai IPA di SD Negeri Benteng disebabkan oleh banyak faktor antara lain: faktor internal (peserta didik) berupa motivasi siswa,minat siswa, kesiapan siswa, kecerdassn siswa dan keadaan fisik siswa. Sedangkan faktor eksternal antara lain: kesiapan guru, perhatian orang tua, sarana dan prasarana, kurikulum, buku penunjang, materi pokok dan lingkungan belajar. Hal ini dapat mengakibatkan pelajaran menjadi membosankan dan tidak menyenangkan.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas atau (Classroom Action Recearch) yang berjudul “Melalui Penggunaan Torso Dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA Materi Organ Tubuh Manusia Dan Hewan Pada Siswa Kelas VI Semester I SDN Benteng Tahun Pelajaran 2012/2013”. Dengan tujuan guna memperbaiki permasalahan yang timbul dalam pembelajaran IPA dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “Apakah Melalui Penggunaan Torso Dapat Meningkatkan Hasil Belajar IPA Materi Organ Tubuh Manusia Dan Hewan Pada Siswa Kelas VI  Semester I SDN Benteng Tahun Pelajaran 2012/2013.


3.      Tujuan Penelitian
a.      Tujuan Umum
Agar dapat mengkongkritkan  pembelajaran dan dapat melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.
b.      Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan alat peraga berupa torso dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa.

4.      Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan dua manfaat, yaitu manfaat teoretis dan praktis.
a.      Manfaat teoretis
Manfaat teoretis dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan untuk mengembangkan teori dalam meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa.
b.        Manfaat praktis
Manfaat yang praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut;
1)      Bagi Siswa
Mempermudah siswa untuk memahami materi pembelajaran sekaligus memberikan motivasi belajar agar siswa lebih kreatif  terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
2)      Bagi guru
Sebagai bahan masukan bagi guru dalam meningkatkan  hasil belajar siswa dan kualitas pembelajaran serta pengembangan model-model dan alat pembelajaran
3)      Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi inovasi pengembangan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar
4)      Bagi Penulis
Sebagai pengalaman berharga untuk dijadikan dasar pada penelitian selanjutnya.










B.     KAJIAN PUSTAKA
1.      Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu prestasi yang dicapai seseorang dalam mengikuti proses pembelajaran, dengan kata lain hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam diri individu yang belajar. Perubahan yang diperoleh dari hasil belajar adalah perubahan secara menyeluruh terhadap tingkah laku yang ada pada diri individu. Hasil belajar itu mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Sesuai menurut Bloom yang dikutip Djaafar (2001:83) menyatakan hasil belajar dibagi dalam tiga ranah atau kawasan yaitu (1) Ranah Kognitif, (2) Ranah Afektif dan (3) Ranah Psikomotor.
Masing-masing ranah menghasilkan kemampuan tertentu. Hasil belajar ranah kognitif berorientasi kepada kemampuan “berpikir” yang mencakup kemampuan memecahkan suatu masalah. Hasil  belajar ranah afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap hati-hati yang menunjukkan penerimaan atau penolakkan terhadap sesuatu. Sedangkan hasil belajar ranah psikomotorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak.
Menurut Gagne yang dikutip Djaafar (2001:82) hasil belajar merupakan kapabilitas atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar yang dapat dikategorikan dalam lima macam, yaitu: (1) informasi verbal, (2) keterampilan intelektual, (3) Strategi kognitif, (4) Sikap, dan (5). Keterampilan motorik.
Hasil belajar dapat diperoleh dari interkasi peserta didik dengan guru atau interaksi peserta didik dengan lingkungan belajarnya yang sengaja dirancang dan direncanakan guru dalam perbuatan mengajar. Sudjana (2004 : 54)  menyatakan hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri dan dari lingkungan
Selanjutnya Winataputra (2003:25) lebih menjelaskan, hasil belajar berupa perilaku atau tingkah laku. Seseorang belajar akan berubah atau bertambah perilaku, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan motorik atau penguasan nilai-nilai (sikap )
Menurut Ali Imron (2002:14) menyatakan bahwa pengertian hasil belajar merupakan tingkatan pencapaian yang diperoleh peserta didik setelah pembelajaran, dengan memberikan nilai atau angka terhadap perkembangan dan kemajuan  peserta didik yang berkenaan dengan penguasaan materi pada tingkat pengetahuan, ketrampilan  pemahaman dan penerapan.
Hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka-angka. Hal ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa setelah menjalani proses pembelajaran (Darmansyah, 2006:13)
Keberhasilan proses pembelajaran tentu tidak lepas dari peran guru ketika menyampaikan materi pembelajaran didalam kelas, Peran guru di dalam kelas selain mengajar adalah adanya waktu bagi guru untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tentang proses pembelajran di dalam kelasnya sendiri. Penelitin tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri. Tujuannya adalah utuk memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa akan meningkat (Wardani, 2003:1.4)

2.      Hakekat IPA/Sains
a.      Pengertian
James B. Conant, mendeskripsikan sains sebagai rangkaian konsep dan pola konseptual yang saling berkaitan yang dihasilkan dari eksperimen dan observasi. Hasil-hasil eksperimen dan observasi yang diperoleh sebelumnya menjadi bekal bagi eksperimen dan observasi selanjutnya, sehingga memungkinkan ilmu pengetahuan tersebut untuk terus berkembang.
Pengertian IPA menurut Carin & Sound (2003) adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui observasi dan eksperimen yang terkontrol. Abruscato (2006)  dalam bukunya yang berjudul “Teaching Children Science” mendefinisikan tentang IPA sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat serangkaian proses yang sistematik guna mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta.
The Harper Encyclopedia of Science mendefinsikan sains sebagai suatu pengetahuan dan pendapat yang tersusun dan didukung secara sistematis oleh bukti-bukti yang dapat diamati.
Jika menggunakan sudut pandang yang lebih menyeluruh, sains seharusnya dipandang sebagai cara berpikir (a way of thinking) untuk memeroleh pemahaman tentang alam dan sifat-sifatnya, cara untuk menyelidiki (a way of investigating) bagaimana fenomena-fenomena alam dapat dijelaskan, sebagai batang tubuh pengetahuan (a body of knowledge) yang dihasilkan dari keingintahuan (inquiry) orang. Menggunakan pemahaman akan aspek-aspek yang fundamental ini, seorang guru sains (IPA) dapat terbantu ketika mereka menyampaikan pada para siswa gambaran yang lebih lengkap dan menyeluruh tentang semesta sains.
b.      Sains Sebagai Cara Untuk Berpikir (Way of Thinking)
Sains merupakan aktivitas manusia yang dicirikan oleh adanya proses berpikir yang  terjadi di dalam pikiran siapapun yang terlibat di dalamnya. Pekerjaan para ilmuwan yang berkaitan dengan akal, menggambarkan keingintahuan manusia dan keinginan mereka untuk memahami gejala alam. Masing-masing ilmuwan memiliki sikap, keyakinan, dan nilai-nilai yang memotivasi mereka untuk memecahkan persoalan-persoalan yang mereka temui di alam. Ilmuwan digerakkan oleh rasa keingintahuan yang sangat besar, imajinasi, dan pemikiran dalam penyelidikan mereka untuk memahami dan menjelaskan fenomena-fenomena alam. Pekerjaan mereka termanifestasi dalam aktivitas kreatif dimana gagasan-gagasan dan penjelasan-penjelasan tentang fenomena alam dikonstruksi di dalam pikiran.
c.         Sains Sebagai Cara Untuk Menyelidiki (Way Of Investigating)
Siapa saja yang berkeinginan memahami alam dan menyelidiki hukum-hukumnya harus mempelajari gejala alam/peristiwa alam dan segala hal yang terlibat di dalamnya. Petunjuk-petunjuk yang ada pada gejala alam pada kenyataannya telah tertanam di alam itu sendiri.
Sains terbentuk dari proses penyelidikan yang terus menerus. Hal yang menentukan sesuatu dinamakan sebagai sains adalah adanya pengamatan empiris. Jika ketajaman perhatian kita pada fenomena alam ditandai dengan adanya penggunaan proses ilmiah seperti pengamatan, pengukuran, eksperimen, dan prosedur-prosedur ilmiah lainnya, maka itulah pengetahuan ilmiah.
d.      Sains Sebagai Batang Tubuh Pengetahuan (A Body Of Knowledge)
Sains merupakan batang tubuh pengetahuan yang terbentuk dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hipotesis-hipotesis, teori-teori, dan model-model membentuk kandungan (content) sains. Pembentukan ini merupakan proses akumulasi yang terjadi sejak zaman dahulu hingga penemuan pengetahuan yang sangat baru.

3.      Ruang Lingkup Kajian IPA
Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD meliputi aspek-aspek sebagai  berikut :
a.       Mahluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan.
b.      Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaanya meliputi cair, padat dan gas
c.       Energi dan perubahanya meliputi : gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, pesawat sederhana.
d.      Bumi dan alam semesta meliputi : tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainya.
Tujuan umum pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD
a.       Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanya.
b.      Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi. Antara IPA, lingkungan, tekhnologi dan masyarakat.
d.      Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
e.       Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
f.       Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dan memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
g.      Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dalam pelaksanaan pembelajaran IPA di tingkat Sekolah Dasar beberapa hal berikut perlu menjadi perhatian antara lain :
a.       Karakteristik dasar anak dalam belajar IPA/alam sekitar
b.      Peran guru dalam membantu siswa belajar IPA
c.       Tahapan dalam proses pembelajaran IPA
d.      Pengelolaan kelas dan kit
e.       Pengamatan dan penilaian

4.      Karakteristik dasar anak dalam belajar IPA.
Dalam belajar IPA seorang anak akan menggunakan seluruh panca indranya untuk memahami alam. Beberapa karakteristik anak dalam belajar IPA antara lain :
a.       Anak-anak usia SD menganggap kit (peraga) adalah alat untuk pembuktian dan di dasarkan atas cara-cara untuk praktek dengan senang.
b.      Anak-anak dapat memahami alat-alat atau bagian-bagian tubuh kita dengan alat peraga yang bermakna bukan mainan semata misalnya torso.
c.       Dalam belajar IPA anak-anak lebih cepat memahami ketika diajari secara langsung mengamati dan mempraktekan.
d.      Anak-anak selalu memiliki insting untuk berinteraksi dengan alam sekitar.
e.       Anak cenderung bersikap agresif dan mereka menghubungkan apa yang mereka lakukan dengan alam.
f.       Anak-anak cenderung imajinatif dan aktif secara fisik.

5.      Peran guru dalam membantu siswa belajar IPA.
a.       Gunakan metode yang selalu diawali dengan hal-hal yang kongkrit dan berangsur menuju ke hal-hal yang lebih abstrak, misalnya dengan menggunakan rangka manusia/hewan yang dapat membantu siswa untuk memahami bagian-bagian tubuh manusia/hewan.
b.      Untuk tujuan belajar didalam kelas guru dapat memanfaatkan cirri-ciri sikap anka-anak tersebut diatas dengan menunjukan bagian-bagian tubuh kita pada rangka/Kit murid.
c.       Karena anak-anak mudah bosan, maka setiap kegiatan seharusnya diganti setiap 10-15 menit dan berimbang antara kegiatan yang terfokus pada aktifitas fakir dan aktifitas praktik.
d.      Memajang pekerjaan siswa dikelas akan dapat membantu siswa untuk mengingat yang telah dipelajarinya. Dengan kegiatan semacam itu akan secara tidak langsung memngingat apa yang telah dipelajarinya dan merasa lebih percaya diri dalam memahami bagian bagian tubuh kita.
e.       Pilihlah topik-topik dan kegiatan yang langsung berhubungan dengan alam lingkungan dan diri kita. Dalam menyajikan materi, guru sebaiknya selalu mempertimbangkan juga karakteristik anak dalam kehidupan sehari-hari diluar kelas.
f.       Dalam mengajar anak-anak guru sebaiknya memberikan kegiatan dan tugas-tugas yang menantang, tetapi tetap dalam batas tingkat kemampuan anak.
g.      Gunakan alat peraga yang lazim  digunakan sehingga anak-anak akan lebih percaya diri untuk menggunakannya.
h.      Ciptakan suasana menyenangakn melalui kegiatan-kegiatan yang membuat mereka gembira. Kegiatan maupun tugas yang disertai dengan alat-alat peraga dan Kit akan lebih menarik bagi anak-anak.
i.        Interaktif yaitu guru melibatkan anak-anak dalam kegiatan yang dilakukan.
j.        Melibatkan keempat ketrampilan mengamati, menunjukkan, diskusi. menyimpulkan hasilnya.
k.      Guru harus dapat meyakinkan bahwa IPA itu tidak sulit dan mereka dapat memaham dengan cara mengamati.
l.        Guru dapat menggunakan apa yang ada dilingkungan anak sehingga mereka merasa lebih mudah untuk melihat hubungan antara manusia dengan penciptanya yang mereka gunakan.
6.      Tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran di kelas
Dalam peroses belajar mengajar terdapat tahapan utama yaitu :
a.       Penyajian (presentation)
b.      Pelatihan (practice)
c.       Penggunaan (production)
d.      Diskusi
e.       Menyimpulkan
Dalam menyajikan topik baru di dalam kelas, tahapan-tahapan utama tersebut harus disajikan secara runtut dan jelas sehingga anak-anak dapat mendapatkan gambaran yang nyata mengenai apa yang sedang mereka pelajari pada satu sesi tertentu, terutama jika pada saat itu mereka diperkenalkan pada konsep yang baru. Bila dalam satu sesi atau pertemuan tidak ada topik baru yang disajikan maka guru sebaiknya akan mengulangi pel;ajaran yang sebelumnya dan selanjutnya melakukan kegiatan pada tahapan peraktis dan produksi atau latihan bebas.
a.       Penyajian (presentation)
Dalam tahap ini :
1)      Guru memperkenalkan alat peraga yang baru dan bagaimana cara mengajarkannya.
2)      Guru harus memberikan beberapa alat sebagai model dalam suatu konteks bermakna yang realistis bagi anak-anak.
3)      Pada tahap ini peran adalah guru sebagai informan yang mengontrol atau mengendalikan hamper semua kegiatan dan juga bertindak sebagai model bagi para siswa. Guru dapat melakukan aktifitas dengan melibatkan beberapa siswa saja atau seluruh siswa dalam kelas.
4)      Sebaiknya aktifitas pada tahap ini tidak dilakukan lebih dari 10 menit.
5)      Pada tahap ini bila siswa membuaat kesalahan, sebaiknya dikoreksi segera menghindari kesalahan persepsi terahdap bagian yang diperlajari.
Alat Bantu yang dapat digunakan pada tahap ini :
1)      Gambar                        -     Murid
2)      Buku text                    -     Guru dengan acting
3)      Benda/Kit                    -     Torso
b.      Tahap Latihan (Practice)
Pada tahap ini diberikan kesempatan kepada siswa untuk memperaktekan pokok bahasan baru dalam kegiatan yang terkontrol sehingga mereka dapat mengingat pelajaran tersebut dan mengerti maknanya dalam konteks yang diberikan.
Tujuan utama pada tahap ini adalah untuk mengingatkan tingkat kepercayaan diri siswa dalam memahami materi yang baru diajarkan dalam situasi yang telah diciptakan. Guru seharusnya meminimalkan kesalahan siswa dan memberi kesempatan bagi siswa untuk lebih banyak mengamati.
c.       Tahap Production
Tujuan pada tahap ini adalah untuk memberi kesempatan bagi siswa untuk menggunakan peraga yang baru dipelajari dalam kegiatan yang lebih bebas, dengan cara yang lebih kreatif. Guru dapat menghubungkan kit yang baru tersebut dengan kit (alat peraga) yang telah dipelajari pada waktu sebelumnya. Misalnya :
1)      Jika pada pelajaran sebelumnya siswa belajar mengenai bagian-bagian tubuh dan nama-namanya, saat ini mereka belajar memahami fungsinya. Untuk menunjukan kegunaan yang sebenarnya, guru dapat menggabungkan ketiga topik tersebut dalam kegiatan yang terpadu/intergrated. Siswa dapat memahami alat/bagian tubuh dan fungsinya.
2)      Bila topik yang telah dipelajari adalah bagian dan fungsinya tubuh kita, berikutnya guru mengadakan pelatihan.
Tujuan kegiatan pada tahap ini adalah memotifasi siswa menggunakan konsep yang dipelajari tanpa takut salah, oleh sebab itu guru harus memastikan bahwa siswa telah menguasai topik yang dipelajarinya dan perintahnya jelas. Apabila tidak maka mereka akan merasa bahwa mereka tidak mampu menyelesaikan dan merasa frustasi/gagal/turun semangat.
d.      Tahap diskusi
Siswa bekerja sesuai dengan kemampuan masing-masing, oleh sebab itu guru harus membagi kelompok atau pasangan ssecara adil, tidak menggabungkan anak-anak yang kurang dengan anak-anak yang lebih pandai. Tetapi mencampur mereka sehingga tidak ada kelompok yang selesai jauh lebih dulu dari kelompok atau pasangan yang lain.
Kegiatan yang cocok  untuk dilakukan pada tahap ini antar lain biasanya adalah mengamati, mencoba, dalam hal ini guru berperan sebagai pengawas, pemberi pengarahan dan semangat serta “ mistake hearer” (hanya mendengarkan kesalahan yang dibuat oleh siswa dan tidak selalu mengkoreksi) dan ketika kegiatan berlangsung guru tidak mengawasi secara ketat maupun menkoreksi kesalahan yang dibuat oleh siswa.


e.       Tahap menyimpulkan
Dalam tahap ini guru bersama-sama siswa berusaha menyimpulkan materi pelajaran yang baru diajarkan.
7.      Penggunaan Alat Peraga Torso
Pada dasarnya dunia anak sekolah dasar sangat erat dengan permainan. Anak SD dapat secara otomatis melakukan berbagai macam permainan. Sering kita temukan anak-anak bermain yang tidak kita ajarkan dalam pendidikan formal. Alat permainan juga berkembang sangat banyak. Hal ini tentu saja membawa dampak dalam pola pembelajaran baginya.
Dalam mempelajari IPA banyak metode yang telah lama dilaksanakan. Sejak dulu sudah ada pendekatan dalam mempelajari IPA yaitu melelui pendekatan tradisional antara lain mengamati langsung dan pendekatan komunikatif (comunicative metod). Pendekatan tradisional selalu mengamati alam sekitar. Pendekatan ini biasanya lebih menekankan pemahaman berdasarkan fakta. Pendekatan ini mudah difahami oleh para peserta didik pemula seperti siswa sekolah dasar.
Kompetensi yang akan dicapai oleh siswa SD adalah :
a.       Merespondan memberi intruksi sederhana yang digunakan dalam kelas, baik secara fisik maupun secara verbal.
b.      Melakukan pengamatan / percobaan
c.       Diskusi
d.       Menulis kesimpulan.
Salah satu kegiatan yang paling disukai siswa adalah belajar melalui menunjukan dengan menggunakan alat peraga. Karakteristik siswa SD selalu senang dalam permainan baik di dalam maupun di luar kelas.
















C.    METODOLOGI PENELITIAN
1.      Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Benteng yang terletak di jalan Dusun Makmur tepatnya di Desa Benteng Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur. Waktu penyelenggaraan penelitian dilakukan pada semester I, yaitu pada bulan Agustus s/d November  tahun pelajaran 2012/2013.
2.      Subjek Penelitian
Sebagai subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI dengan jumlah 32 orang terdiri dari 14 laki-laki dan 18 perempuan. Adapun nama- nama siswa tersebut terlampir pada lembar lampiran.
3.      Sumber Data
Data yang digunakan observer dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I, dan Siklus II serta hasil pengamatan kelas.
4.      Teknik dan Alat Pengumpulan Data  
Teknik pengumpulan data dilakukan pada awal proses pembelajaran, saat proses mengikuti pembelajaran, pada kondisi awal maupun pada siklus I, dan Siklus II menggunakan alat berupa lembar penilaian, pengamatan dan tes tertulis serta praktek.


5.      Validasi Data
Validasi ini meliputi validasi teoretis dan validasi empiris. Validasi teoretis artinya mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas face validity (tampilan tes), content validity (validitas isi) dan construct validity (validitas kostruksi).
Validitas empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butis soal, kunci jawaban dan kriteria pemberian skor
6.      Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis diskriptip adalah peneliti menggambarkan hasil dengan membandingkan secara prosentase dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II
7.      Indikator Keberhasilan
Adapun indikator keberhasilan Pelaksanaan penelitian ini yaitu:
a.       Apabila rata-rata keaktifan dan kerjasama siswa serta nilai tes formatif lebih dari 7,0 (70 %), pembelajaran dapat dikatakan berhasil.
b.      Apabila rata-rata keaktifan dan kerjasama siswa serta  nilai tes formatif kurang dari 7,0 (70 %), pembelajaran dianggap belum berhasil sehingga perlu dilakukan remedial.
c.       Nilai rata-rata adalah jumlah nilai seluruhnya dibagi banyaknya siswa yang diteliti.
Prosentase nilai rata-rata adalah jumlah nilai seluruhnya dibagi banyaknya siswa yang diteliti dan hasilnya dikalikan seratus persen
8.      Prosedur Penelitian
Dalam menerapkan perangkat pembelajaran IPA digunakan rancangan penelitian tindakan, selain itu juga untuk memperbaiki strategi pembelajaran  dengan menghadirkan alat bantu pembelajaran. Proses ini dapat memudahkan siswa untuk memahami materi pembelajaran atau dapat menolong proses berpikir siswa dalam membangun pengetahuannya.
Dalam penelitian ini tindakan yang dimaksud adalah penerapan penggunaan alat peraga berupa torso pada materi alat pernapasan manusia dan hewan , untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI
Dalam penelitian tindakan kelas dilaksanakan  dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri  4 tahap yaitu, perencanaan tindakan,  pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Prosedur penelitian dapat digambarkan dengan skema sebagai                           Berikut :
Perencanaan
Observasi
Pelaksanaan
Perencanaan
Pelaksanaan
Observasi
Refleksi
Refleksi







Gambar  Alur Penelitian

Pada kegiatan siklus akan dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Siklus I
a.      Tahap perencanaan
Guru merencanakan skenario pembelajaran berupa:
1)      Persiapan mengajar yang berisi kompetensi dasar, indikator, materi pokok , waktu, metode, media dan alat peraga
2)      Pedoman pengamatan
3)      Instrumen yaitu tes formatif,  soal dan kunci jawaban.
b.      Tahap  pelaksanaan
Peneliti melaksanakan kegiatan sesuai tahapan yang ada pada perencanan. Tahapan pelaksanakan ini terdiri dari 3 kali pertemuan yang terdiri dari pertemuan pertama pengajaran Siklus I, pertemuan kedua pengajaran siklus II, pertemuan ke tiga pengajaran siklus III.
c.       Tahapan Observasi/pengamatan
Pada tahap ini peneliti mengamati dan mencatat proses pelaksanaan tindakan baik dalam, siklus I, siklus II dan siklus III data yang diperoleh di buat dalam bentuk catatan pengamatan.
d.      Tahap refleksi
Pada tahap ini peneliti mendiskusikan hasil temuan dikelas bersama kolaborator yaitu dengan para pengamat/anggota penelitian. Temuan ini berupa hal yang positif dan hal yang negative yang nantinya akan dievaluasi dan dibahas bersama.   
Siklus II
Pada dasarnya siklus II memiliki  prosedur yang sama dengan siklus I, hanya saja  diadakan perbaikan pada hal-hal  yang dilihat ada kelemahan serta  memperhatikan hal-hal yang sudah berjalan dengan baik. Tidak menutup kemungkinan  juga dilakukan modifikasi terhadap hal-hal sudah baik supaya  tindakan yang diberikan tidak membosankan.












D.      JADWAL PENELITIAN
Jadwal Pelaksanaan Penelitian Kelas VI SD Negeri 1 Benteng Semester I Tahun Pelajaran 2012/2013

No
Uraian
Bulan /Minggu Ke
Agu
Sep 
Okt 
Nov 
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan



X












2
Penyusunan Instrumen Siklus I




X











3
Pelaksanaan Siklus I





X
X









4
Evaluasi Siklus I







X








5
Penyusunan Instrumen Siklus II








X







6
Pelaksanaan Siklus II









X
X





7
Evaluasi Siklus II











X




8
Penyusunan  Laporan












X



9
Seminar Hasil Penelitian













X












E.       DAFTAR PUSTAKA
Ali Imron, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Pustaka Jaya
Azhar Arsyad, 2007 Media Pembelajaran, Jakarta, Grafindo
Departemen Pendidikan Nasional, 2007 Kurikulum KTSP, BSNP, Jakarta
Depdiknas, 2007 Panduan Lengkap KTSP, BSNP, Jakarta
Dr. H. CH. Suprapto, 2004 Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
Johnson dalam Nurhadi,2003 Contektual Teaching and Learning (CTL), Menjadikan Belajar Mengajar  Mengasikkan dan Bermakna, Bandung, Mizan Learning Center.
Nurhadi, 2003 Pembelajaran Contekstual Teaching and Learning (CTL) Universitas Negeri Malang.
R. Rohadi. 2006. Memberdayakan Anak Melalui Pendidikan Sains—makalah. Dalam buku kumpulan tulisan, Pendidikan Sains yang Humanistis. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Subiyanto, M. Sc, Dr. 2004. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Depdikbud: Jakarta  
Umar Hamalik,2005 Proses Belajar Mengajar,Jakarta, Bumi Aksara
Wardani I GAK, 2003 Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Universitas Terbuka




A.      TIM PENELITIAN
1.       Nama                                    : NURAINI, S.Pd
        NIP                                         : 19720926 199401 2 001
        Jabatan                                                : Ketua
        Lokasi penelitian              : SDN Benteng  Kec.Birem Bayeun
                                                          kab. Aceh Timur

2.       Nama                                    : Purwanti, S.Pd
        NIP                                         : 19811203 200312 2 002
        Jabatan                                                : Anggota


No comments:

Post a Comment