Wednesday, August 13, 2014

Makalah Matematika " PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA DI SEKOLAH DASAR "



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat penting, karena matematika  sebagai  mata  pelajaran  yang  memungkinkan  untuk  mengembangkan kemampuan berpikir dan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya  manusia.  Matematika  adalah  salah  satu  bidang  studi  yang  ada  pada  semua jenjang  pendidikan,  mulai  dari  tingkat  sekolah  dasar  sampai  dengan  perguruan tinggi.  Bahkan  matematika  diajarkan  di  taman  kanak-kanak  secara  informal. Belajar  matematika  merupakan  suatu  syarat  untuk  melanjutkan  pendidikan kejenjang berikutnya. Dengan belajar matematika kita akan belajar bernalar secara kritis, kreatif dan aktif. Alasan  pentingnya  matematika  untuk  dipelajari  karena  begitu  banyak kegunaannya.  Di  bawah  ini  akan  diuraikan  beberapa  kegunaan  matematika  yang praktis menurut Russfendi (2006:2008), yaitu: 1) Dengan  belajar  matematika  kita  mampu  berhitung  dan  mampu  melakukan perhitungan-perhitungan yang lainnya 2) Matematika merupakan prasyarat untuk beberapa mata pelajaran lainnya. 3) Dengan belajar matematika perhitungan menjadi lebih sederhana dan praktis. 4) Dengan  belajar  matematika  diharapkan  kita  mampu  menjadi  manusia  yang  berpikir  logis,  kritis,  tekun,  bertanggung  jawab  dan  mampu  menyelesaikan persoalan.
Uraian  di  atas  menunjukkan  bahwa  metematika  itu  sangat  penting,  tetapi banyak yang beranggapan bahwa matematika itu adalah pelajaran yang sulit untuk diajarkan  dan  dipelajari.  Wahyudin  (2001:2)  mengemukakan  beberapa  alasan tentang sulitnya matematika untuk dipelajari dan diajarkan yaitu: Matematika merupakan pelajaran  yang sangat hierarkis, karena hampir setiap materi  yang  diajarkan  akan  menjadi  prasyarat  bagi  materi  yang  selanjutnya, sehingga  jika  materi  terdahulu  tidak  dipahami,  akan  sulit  untuk  memahami materi berikutnya. Beragam  kecepatan  siswa  dalam  memahami  materi  atau  konsep  yang diajarkan oleh guru, misalnya sejumlah siswa dapat memahami yang diajarkan oleh  guru  setelah  guru  menyampaikan  materi  tersebut,  sementara  sejumlah siswa  yang  lainnya  baru  memahami  materi  setelah  satu  minggu,  satu  bulan,  bahkan mungkin saja sampai keluar sekolahpun tidak memahaminya.
Penguasaan  materi  pelajaran  mutlak  harus  dimiliki  oleh  pendidik, khususnya guru. Hal ini untuk memberikan image atau anggapan bahwa guru adalah  sebagai  panutan.  Pendidikan  adalah  usaha  dasar  dan  terencana  untuk mewujudkan  suasana  belajar  dan  proses  pembelajaran  agar  peserta  didik, secara  aktif  mengembangkan  potensi  dirinya.  Jenjang  pendidikan  Indonesia terdiri  dari  pendidikan  dasar,  pendidikan  menengah  dan  pendidikan  tinggi.
Menurut  Undang-Undang  RI  no  20  tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan Nasional  pasal  17  ayat  1  dan  2,  Pendidikan  dasar  merupakan  jenjang pendidikan  yang  melandasi  jenjang  pendidikan  menengah.  Pendidikan  dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang  sederajat  serta  Sekolah  Menengah  Pertama  (SMP)  dan  Madrasah Tsanawiah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat (Depdiknas,2006:82).
Tantangan pendidikan pada jenjang sekolah dasar di masa depan disadari  akan  semakin  berat.  Hal  ini  merupakan  konsekuensi  kemajuan  dalam berbagai  aspek  kehidupan.  Untuk  menjawab  tuntutan  tersebut  pada  jenjang Sekolah  Dasar  (SD)  mau  tidak  mau  harus  segera  melakukan  upaya pengembangan  dan  inovasi  secara  skematik  dan  sistemik.  Salah  satu  upaya yang  perlu  dilakukan  untuk  mengatasi  masalah  itu  adalah  guru  sebagai pengajar harus mengembangkan pengajaran dalam proses pembelajaran.   Adapun  pengembangan  bahan  pengajaran  dalam  proses  pembelajaran  di SD harus bertitik tolak pada ketecernaan bagi peserta didik. Dengan kata lain tugas  seorang  pengajar dan pendidik harus mampu mengkomunikasikan dan menginformasikan  materi  pelajaran  kepada  siswa  dengan  metode  yang bervariasi agar suasana belajar mengajar tidak monoton dan siswa juga tidak cepat merasa bosan. Selain itu, guru juga harus mampu membangkitkan minat belajar  bagi  peserta  didiknya,  terutama  mereka  yang  kurang  menguasai terhadap pelajaran tertentu. 
Salah satu penyebab rendahnya pemahaman siswa menurut Zulkardi (2006) di antaranya disebabkan oleh: Siswa  kurang  memahami  konsep  matematika  karena  pelajaran  terlalu  abstrak dan  kurang  menarik  serta  kurang  contoh  permasalahan  yang  diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari  mereka.  Metode yang digunakan berpusat pada guru sementara siswa cenderung pasif.  Penilaian  hanya  berfokus  ke  sumatif  dan  hanya  mengejar  jawaban  namun mengabaikan proses. Untuk  mengatasi  masalah  di  atas  penulis  tertarik  dengan  salah  satu  alternatif dari  sekian  banyak  pendekatan  yaitu  Pendekatan  Matematika  Realistik.
Pendekatan  Matematika  Realistik  merupakan  suatu  pendekatan  yang  di kembangkan  di  Belanda  pada  tahun  1970-an.  Pendekatan  Matematika  Realistik adalah pendekatan yang bertitik tolak pada hal-hal yang bersifat nyata bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kuiper  dan  Knuver  (1993)  mengemukakan  bahwa  kelebihan  menggunakan pembelajaran Pendekatan Matematika Realistik, antara lain adalah:
1.  Membuat  matematika  lebih  menarik,  relevan,  dan  bermakna,  tidak  terlalu formal, dan tidak terlalu abstrak.
2.  Mempertimbangkan kemampuan siswa
3.  Menekan belajar matematika pada learning by doing
4.  Memfasilitasi  penyelesaian  masalah  matematika  dengan  tanpa  menggunakan penyelesaian (algoritma) yang baku
5.  Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika

Berdasarkan uraian di atas, kajian ini  perlu dipecahkan segera agar terjadi perubahan peningkatan pada perbaikan pembelajaran terhadap hasil belajar matematika siswa Sekolah Dasar.

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan penjelasan pada latar belakang masalah di atas, dapat dikemukakan rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: “Bagaiman pengaruh menggunakan Pendekatan Matematika Realistic terhadap hasil belajar matematika di sekolah dasar?”
 
C. Tujuan Penetlitian
            Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan terhadap pendekatan matematik realistic dalam proses pembelajaran matematika di sekolah dasar.
2. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi hasil belajar matematika pada siswa sekolah dasar.

D. Manfaat Penelitian
                Manfaat yang diharapkan dari hasil pembahasan ini adalah dapat memberikan informasi tentang pembelajaran dengan menerapkan pendekatan matematik realistik dalam meningkatkan hasil belajar matematika. 


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
a. Hakekat Pembelajaran
Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses namun para ahli mendefinisikan belajar menurut visi mereka masing-masing, tetapi secara garis besar mereka tetap mengacu pada pengertian umum bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku. Hilgard dan Bowe, dalam buku Theories of Learning mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang. Gagne dalam buku The Conditions of Learning menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.
Morgan dalam buku Introduction to Psychology menyatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai hasil dan pengalaman (M. Ngalim Purwanto, 2000: 84)
Menurut William Burton mengajar adalah upaya dalam memberikan perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar mengajar (A. Tabrani Rusyan,1989: 26).
Pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang optimal(Erman Suherman, 1996 : 7). Kegiatan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar. Dalam pembelajaran terdapat pengakuan siswa untuk belajar dan kemampuan ini akan terwujud dengan bimbingan guru.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam :
a. Faktor internal (faktor dalam siswa), yakni kondisi-kondisi jasmani dan rohani siswa, intelegensi dan bakat, minat dan motivasi, dan cara belajar (M. Dalyono, 1997: 55-58).
b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa (M. Dalyono, 1997: 59-60).
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Jadi karena faktor-faktor tersebut di atas, muncul siswa yang berprestasi tinggi dan siswa berprestasi rendah atau gagal sama sekali. Seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan memilih pendekatan hasil belajar yang lebih mementingkan kualitas pembelajaran. Seorang guru yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok
siswa yang menunjukkan kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor-faktor yang menghambat proses belajar mereka.
c. Pengertian Matematika
            Istilah matematika diambil dari bahasa Yunani yaitu “mathema” yang berarti “relating to learning”, istilah ini memmpunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge science).
            Berdasarkan etimologis menurut Tinggih (SPMK, Tim 2001) kata matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran). begitu pula menurut Ruseffendi (1980:148) matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.
            Arti dan definisi yang tepat dari matematika tidak dapat diterpkan secara eksak (pasti)  dan singkat. Definisi dari matematika makin lama makin sukar dibuat, karena cabang matematika makin lama makin bertambah, dan makin bercampur satu sama lain. (Ruseffendi, 1991:42)
Berbagai  pendapat  muncul  tentang  pengertian  matematika  yang  di  pandang dari  pengetahuan  dan  pengalaman  masing-masing  yang  berbeda.  Ada  yang mengatakan  bahwa  matematika  itu  bahasa  simbol;  matematika  adalah  bahasa numeric;  matematika  adalah  bahasa  yang  dapat  menghilangkan  sifat  kabur, majemuk,  dan  emosional;  matematika  adalah  metode  berpikir  logis;  matematika adalah  sarana  berpikir;  matematika  adalah  sains  formal  yang  murni;  matematika adalah  ilmu  tentang  bilangan  dan  ruang;  matematika  adalah  ilmu  yang mempelajari pola, bentuk, dan struktur; matematika adalah ilmu yang abstrak dan deduktif; matematika adalah aktivitas manusia. Jamas  dan  James  (1976)  dalam  kamus  matematikanya  mengatakan  bahwa matematika  adalah  ilmu  tentang  logika  mengenai  bentuk,  susunan,  besaran,  dan konsep-konsep  yang berhubungan satu dengan  yang lainnya dengan jumlah  yang banyak  yang  terbagi  dalam  tiga  bidang,  yaitu  aljabar,  analisis,  dan  geometri.
Sedangkan,  Johnson  dan  Rising  (1972)  dalam  bukunya  mengatakan  bahwa matematika  adalah  pola  pikir,  pola  mengorganisasikan,  pembuktian  yang  logis, matematika  itu  adalah  bahasa  yang  menggunakan  istilah  yang  didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi.
d. Fungsi Mata Pelajaran Matematika
            Mata pelajaran matematika berfungsi sebagai alat, pola pikir, dan ilmu pengetahuan yang dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika di sekolah adapun fungsi tersebut sebagai berikut:
1. Matematika sebagai alat unttuk memahami atau menyampaikan suatu informasi.
2. Matematika merupakan pola pikir dalam memahami suatu pengertian maupun penalaran. Hubungan diantara pengretian dan penalarannya dikembangkan melalui pola pikir indiktif maupun dedukif.
3. Matematika sebagai ilmu atau pengetahuan, yang selalu mencari kebenaran dan bersedia meralat kebenaran yang telah diterima bila ditemukan kebenaran yang terbaru sepanjang kenbenaran tersebut mengikuti pola pokir yang sah.
Sejalan dengan fungsi matematika di atas, maka tujuan umum pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar adalah :
1. Menumbuhkan dan mengambangkan keteramilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari hari.
2. Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan, melalui kegiatan matematika.
3.  Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di SLTP.
4. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin (Amin Suyitno dkk, 2001: 12).
Siswa sekolah dasar setelah selesai mempelajari matematika bukan saja diharapkan memiliki sikap kritis, cermat dan jujur, serta berfikir yang logis dan rasional dalam menyelesaikan suatu masalah, melainkan juga harus mampu menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki pengetahuan matematika yang cukup sebagai bekal untuk mempelajari matematika lebih lanjut dan mempelajari ilmu-ilmu lain.




B. Pendekatan Matematika Realistik
a. Pengertian Pendekatan Matematika Realistik
Pembelajaran matematika  dengan  menggunakan  pendekatan  matematika realistik merupakan pembelajaran  yang bertitik tolak dari hal-hal  yang nyata dan pernah  dialami  siswa.  Pendekatan  pembelajaran  matematika  ini  menekankan keterampilan  proses  yaitu  memberikan  kesempatan  atau  menciptakan  peluang sehingga  siswa  aktif  belajar  matematika.  Selain  itu,  siswa  tidak  hanya  mendapat pengetahuan  dari  satu  arah  namun  siswa  aktif  dan  seakan  menemukan  sendiri konsep  yang  dipelajari.  Ada  suatu  hasil  yang  menjanjikan  dari  penelitian kuantitatif  dan  kualitatif  yang  telah  ditunjukkan  bahwa  siswa  yang  memperoleh pembelajaran  dengan  pendekatan  matematika  realistik  mempunyai  skor  yang lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  siswa  yang  memperoleh  pembelajaran  dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi dalam aplikasi.
Salah  satu  filosofi  yang  mendasari  pendekatan  matematika  realistik  adalah bahwa  matematika  bukanlah  suatu  kumpulan  aturan  atau  sifat-sifat  yang  sudah lengkap  yang  harus  siswa  pelajari.  Menurut  Freudhental  (1991)  bahwa matematika bukan merupakan suatu subjek yang siap saji untuk siswa, melainkan suatu pelajaran yang dinamis yang dapat dipelajari dengan cara mengerjakannya. Pendekatan  matematika  realistik  adalah  teori  pembelajaran  sekaligus  teori belajar yang dikembangkan di Negeri Belanda sejak awal 70-an (Zukardi, 2001)
Menurut  Traffer  dan  goffre  (Zainuri,  2007:3)  terdapat  dua  tipe  matematisasi dalam pendekatan realistik, yaitu:
a. Matematika Horizontal
            Proses matematika  pada  tahap  mengubah  persoalan  sehari-hari  menjadi persoalan  matematika  sehingga  teralisasi  atau  situasi  nyata  diubah  ke  dalam simbol-simbol dan model-model matematika
b.  Matematika Vertikal
            Proses  matematika  pada  tahap  penggunaan  simbol,  lambang,  kaidah-kaidah matematika yang berlaku secara umum. Matematika Horizontal dan Vertikal merupakan bagi siswa dari situasi abstrak ke  situasi  kongkrit  atau  dari  informal  ke  formal.  Dimana  situasi  yang  dekat dengan  alam  siswa  dikaitkan  dengan  permasalahan  dalam  pembelajaran matematika. Kuiper  dan  knuver  (1993)  mengemukakan  bahwa  kelebihan  menggunakan pembelajaran pendekatan matematika realistik, antara lain:
a.  Membuat  matematika  lebih  menarik,  relevan,  dan  bermakna,  tidak  terlalu
     formal, dan tidak terlalu abstrak.
b.  Mempertimbangkan kemampuan siswa.
c.  Menekan belajar matematika pada learning by doing
d.  Memfasilitasi penyelesaian masalah  matematika  dengan  tanpa  menggunakan penyelesaian yang baku.
e.  Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika
            Pada dasarnya pendekatan matematika realistic membimbing siswa untuk menemukan kembali konsep matematika yang pernah ditemukan oleh para ahli atau bila memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri hal-hal yang belum pernah ditemukan.
            Hal penting dalam menerapkan pendekatan matemtaika realistic adalah terjadinya interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa. Melalui interaksi kelas berkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat. Dengan demikian, pembelajaran matematik relistik mempunyai kontribusi yang sangat tinggi untuk meningkatkan kemampuan matematis siswa.
b. Prinsip-Prinsip Pendekatan Matematika Realistik
            Perkembangan pembelajaran yang semakin kompleks menuntut setiap guru untuk berperan aktif dalam mencari solusi pendekatan yang memungkinkan untuk disampaikan pada siswa sekolah dasar. Pendekatan Matematik realistic yang dikembangkan di Negara Belanda ini sangat menarik untuk disampaikan di Indonesia.
            Di dalam pendidikan matematik realistic, pembelajaran harus dimulai dari sesuatu yang nyata. Sehingga siswa dapat terlibat proses pembelajaran matematika. Peran guru adalah sebagai pembimbing dan fasilitator dalam konsep matematika. Peran guru juag harus berubah, dari seorang validator (menyatakan pekerjaan siswa itu salah atau benar), menjadi seseoarng yang berperan sebagai pembimbing yang menghargai setiap kontribusi (pekerjaan atau jawaban siswa).
            Traffers (Zainurrie, 2007:4) mengemukakan tentang prinsip utama dalam pendekatan matemattik realistic yaitu:
a. Constucting and Concretising
            Pembelajaran matematika yang menekankan pada upaya pembentukan suatu aktivitas pembelajaran yang nyata. Didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks, yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika.
b. Level and Models
            Pembelajaran konsep atau kemampuan yang menekankan suatu proses dalam menemukan suatu jawaban. Perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema, dan symbol-simbol.
c. Reflection and Special Assigments
            Pengambilan suatu fakta dalam proses pembelajaran meperlihatkan suatu refleksi aktivitas dari mulai mengingat sendiri sampai pada proses penyampaian pada orang lain. Sumbangan para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya siswa memproduksi sendiri dan mengkontruksi sendiri, sehgingga dapatt membimbing siswa sari level matematika informal.
d. Social Context and Interaction
            Pembelajaran bukan berabri aktivitas sendiri akan tetapi sesuatu yang terjai dalam suatu kelompok dan ini berarti secara langsung dan meransgsang hubungan pada konteks sosial budaya. Interaktivitas sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.
e. Tructuring and Interweaping
            Pembelajaran matematika yang bukan hanya kumpulan pembelajaran yang mengasikkan yang tidak berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan akan tetapi suatu pengetahuan dan kemampuan yang tersususn rapi dari suatu struktur yang ada.
            Kelima prisnsip tersebut dalam filosofi realistic merupakan prinsip yang menjiwai setiap aktivitas pembelajaran matematika. Dalamm pengembangan realistic yang ada umumnya menggunakan pendekatan development research, dengan dua karakter yaitu percobaan berfikir dan implementasi pembelajaran.
            Materi dalam pembelajaran matematik realistic merupakan materi terbuka yang disitiassikan dalam kenyataan.

C. Hasil Belajar
Menurut Anitah (2008: 19) Hasil belajar merupakan kulminasi dari suatu proses yang telah dilakukan dalam belajar. Kulminasi akan selalu diiringi dengan kegiatan tindak lanjut.
Hasil belajar harus menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Bentuk perubahan tingkah laku harus menyeluruh secara komprehensif sehingga menunjukkan perubahan tingkah laku seperti contoh diatas. Aspek perilaku keseluruhan dari tujuan pembelajaran menurut Benyamin Bloom yang tepat menunjukkan gambaran hasil belajar, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Romizoswki (Anitah, 2008: 19) menyebutkan dalam skema kemampuan yang tepat menunjukkan hasil belajar yaitu:
a.       Keterampilan kognitif berkaitan dengan kemampuan membuat keputusan memecahan masalah dan berpikir logis,
b.      Keterampilan psikimotor berkaitan dengan kemampuan tindakkan fisik dan kegiatan perseptual,
c.       Keterampilan reaktif berkaitan dengan sikap, kebijaksanaan, perasaan, dan self control, dan
d.      Keterampilan interaktif berkaitan dengan kemampuan sosial dan kepemimpinan.
Gagne (Anitah, 2008:19) menyebutkan ada tipe hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa 1) motor skills, 2) verbal information, 3) intelectual skills, 4) attitudes, dan 5) cognitive strategies.
Untuk melihat hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah pada siswa Sekolah Dasar, dapat dikaji proses maupun hasil berdasarkan: 1) kemampuan membaca,mengamati dan atau menyimak apa yang dijelaskan atau diinformasikan, 2) kemampuan mengidentifikasi atau membuat sejumlah (sub-sub) pertanyaan berdasarkan substansi yang dibaca, diamati, dan atau didengar, 3) kemampuan mengorganisasi hasil-hasil identifikasi dan mengkaji dari sudut persamaan dan perbedaan, dan 4) kemampuan melakukan kajian secara menyeluruh. Kemampuan tersebut sudah dapat diterapkan di Sekolah Dasar khususnya pada kelas tinggi.


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa penerapan matematika realistic dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Keterkaitan penerapan pendekatan ini yang berkesinambungan, sangat mendukung siswa untuk melatih kemampuan berpikir secara nyata dengan memperhatikan media yang digunakan dan tersedia di sekolah. Dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa pada pembelajaran matematika, terlebih dulu siswa harus benar-benar memahami tentang apa yang diketahui, apa yang ditanya, bagaimana penyelesaian dan bagaimana membuat kesimpulan akhir dalam menyelesaikan soal.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran agar menjadi masukan yang berguna, diantaranya: diharapkan para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dapat memilih pendekatan pembelajaran yang tepat agar memicu semangat dan aktifitas belajar siswa, seperti pembelajaran yang menerapkan pendekatan yang dapat menciptakan suasana belajar yang aktif. Diharapkan guru untuk dapat menerapkan pembelajaran yang bersifat realistic pada materi-materi yang dianggap sesuai untuk menggunakan pendekatan pembelajaran tersebut karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.


1 comment: